Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

The Importance of Identifying Early Childhood Learning Styles to Optimize Children's Achievement Mar’atus Salamah; Dede Nursamsy; Siti Amelia; Wulandari Wulandari
Indonesian Journal of Multidisciplinary Science Vol. 5 No. 6 (2026): Indonesian Journal of Multidisciplinary Science
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/ijoms.v5i6.1284

Abstract

Early childhood education (PAUD) is an important stage in the cognitive, affective, and psychomotor development of children. Identification of children's learning styles from an early age allows educators to adjust learning methods according to the unique characteristics of the child, so that it can improve learning achievement and psychosocial development. This study examines the identification of learning styles of children aged 5-6 years in learning in PAUD, the influence of learning strategies that are in accordance with learning styles on the effectiveness and learning achievement, and the challenges faced by educators in their implementation. This study involved children aged 5-6 years in the surrounding environment for direct observation. The results showed that out of 9 children there was a dominant learning style, 4 children tended to have a visual learning style, 3 children had an auditory learning style, 2 children had a kinesthetic learning style and adjustment of learning methods could improve children's motivation, engagement, and learning outcomes. However, educators face obstacles in recognizing and implementing children's learning styles due to limited training and resources. To overcome this problem, teachers need to be given special training to understand and implement the right learning style for children. In addition, strengthening of facilities and infrastructure, as well as support from the surrounding environment is needed.
Manajemen Konseling Preventif Berbasis Islam untuk Keberlanjutan Kesehatan Mental Anak Usia Dini Asep Rohani; Hidayatul Faridah; Mar’atus Salamah; Feri Hardiyanto
Cakrawala Repositori IMWI
Publisher : Institut Manajemen Wiyata Indonesia & Asosiasi Peneliti Manajemen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan mental anak usia dini menjadi isu global yang semakin kompleks akibat meningkatnya digital overstimulation, perubahan pola pengasuhan keluarga, dan lemahnya sistem pendampingan psikologis pada lembaga pendidikan anak usia dini. Penelitian ini bertujuan menganalisis problem kesehatan mental anak pada PAUD Islam serta mengembangkan Islamic Preventive Counseling Management System (IPCMS) sebagai model manajemen konseling preventif berbasis Islam untuk mendukung keberlanjutan kesehatan mental anak usia dini. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain Sequential Exploratory Design yang dilaksanakan pada lima lembaga PAUD Islam melalui observasi, wawancara, Focus Group Discussion (FGD), dokumentasi, dan pengukuran child mental well-being scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa problem dominan kesehatan mental anak meliputi gadget dependency, emotional dysregulation, social withdrawal, dan tantrum behavior. Penelitian ini menghasilkan model IPCMS yang mengintegrasikan early mental health detection, Islamic emotional guidance, spiritual habituation, parenting collaboration, dan referral system dalam satu sistem manajemen pendidikan Islam yang dilaksanakan pada lima lembaga PAUD Islam dengan melibatkan 25 guru, 60 orang tua, dan 75 anak usia 4–6 tahun. Implementasi model IPCMS terbukti efektif meningkatkan regulasi emosi, interaksi sosial, kontrol perilaku, dan spiritual attachment anak usia dini, dengan nilai signifikansi p<0,05 dan effect size tertinggi 0,88 pada dimensi spiritual attachment. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan paradigma Preventive Islamic Mental Health Management dalam kajian Islamic Counseling dan Islamic Education Management. Secara praktis, model IPCMS memberikan implikasi penting bagi pengembangan layanan kesehatan mental berbasis pendidikan Islam yang sistematis, preventif, dan berkelanjutan pada era digital generasi Alpha.
Pentingnya Pendidikan Religius untuk Membentuk Karakter Positif dengan Metode Pembiasaan Mar’atus Salamah; Iyam Siti Maryam; Mutoah Mutoah
Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Multidisiplin Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jmi.v5i2.2725

Abstract

Pendidikan karakter dan nilai-nilai keagamaan pada anak usia dini merupakan fondasi penting dalam membentuk kepribadian yang berakhlak mulia sejak dini. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji strategi pembiasaan yang dapat diterapkan oleh pendidik dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan dan karakter positif di lembaga PAUD. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatf untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana implementasi pendidikan religius yang berdampak pada perkembangan kepribadian anak-anak di RA An-Noor Jalaksana. Subjek penelitian adalah anak-anak berusia 5 hingga 6 tahun yang mengikuti pendidikan RA tersebut. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap pembiasaan  anak saat dirumah, disekolah dan lingkungan masyarakat. wawancara mendalam dengan guru RA dan orang tua dan masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai pola perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari, dan dokumentasi berupa catatan atau rekaman yang berkaitan dengan aktivitas anak saat melakukan kegiatan keagamaan Selanjutnya analisis dilakukan dengan reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Selanjutnya penelitian menghasilkan bahwa penanaman pendidikan karakter religius yang dilakukan di RA An-Noor Jalaksana melalui metode pembiasaan dilakukan dengan cara pembiasaan sholat, berwudhu, hapalan doa dan surat pendek,pendidikan akhlak terhadap diri sendiri, akhlak terhadap sesama dan  akhlak terhadap alam sekitar. Implikasi penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pembentukan karakter religius tidak hanya ditentukan oleh program sekolah, tetapi juga oleh sinergi keluarga dan masyarakat yang memperkuat konsistensi pembiasaan anak.