Wahyu Tri Atmojo
Pendidikan Seni Rupa, Universitas Negeri Medan

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Replika Candi Bahal sebagai Representasi Sejarah Seni Rupa Hindu-Buddha di Museum Sumatera Utara Stephany Wulandary Sihombing; Devi Patricia Gurning; Elisabeth Hulu; Wahyu Tri Atmojo
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38962

Abstract

Penelitian ini mengkaji replika Candi Bahal di Museum Negeri Sumatera Utara sebagai representasi sejarah seni rupa Hindu-Buddha. Candi Bahal merupakan kompleks percandian Buddha Vajrayana di kawasan Padang Lawas yang diperkirakan berasal dari abad ke-11 hingga ke-13 dengan ciri khas arsitektur bata merah dan ornamen bergaya India Selatan. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi langsung, dokumentasi visual, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa replika secara konsisten menampilkan unsur seni rupa Hindu-Buddha meliputi struktur tiga bagian vertikal (bhurloka, bhuvarloka, svarloka), ornamen simbolis (padma, kala, stupa), serta karakter akulturasi budaya India Selatan dengan tradisi lokal Sumatera. Replika tidak sekadar berfungsi sebagai tiruan fisik, melainkan sebagai media representasi sejarah, identitas budaya, dan nilai spiritual Hindu-Buddha. Museum Negeri Sumatera Utara melalui replika ini menjalankan peran strategis dalam transmisi dan pelestarian warisan budaya Hindu-Buddha kepada masyarakat luas.
Kajian Kombinasi Seni Rupa dalam Arsitektur Istana Maimun sebagai Representasi Identitas Budaya Melayu Deli Adriana Joy Kristin Simbolon; Syahdika Alakbar; Nur Jannah Harahap; Wahyu Tri Atmojo
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.39057

Abstract

Penelitian ini mengkaji kombinasi unsur seni rupa dalam arsitektur Istana Maimun sebagai representasi identitas budaya Melayu Deli di Sumatera Utara. Istana Maimun yang dibangun pada tahun 1888 merupakan peninggalan Kesultanan Deli yang memadukan gaya arsitektur Melayu, Islam Timur Tengah, India Mughal, dan Eropa dalam satu bangunan yang kohesif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka. Data dikumpulkan dari jurnal ilmiah, artikel penelitian, dan dokumentasi visual yang dapat dipertanggungjawabkan. Analisis dilakukan menggunakan kerangka teori representasi Hall dan semiotika Barthes (dalam Piliang, 2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat unsur seni rupa, yaitu warna kuning keemasan, ornamen motif pucuk rebung dan awan boyan, bentuk atap limas, serta perpaduan gaya arsitektur multikultural, bekerja sebagai sistem representasi yang mengkonstruksi identitas budaya Melayu Deli secara aktif dan berlapis. Identitas Melayu diposisikan sebagai fondasi yang tidak tergoyahkan, sementara pengaruh budaya luar berfungsi sebagai lapisan yang memperkuat kesan kemegahan dan keterhubungan Kesultanan Deli dengan peradaban yang lebih luas. Istana Maimun dengan demikian bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan medium komunikasi identitas budaya yang terus bekerja lintas generasi.
Kajian Nilai Estetika Arsitektur Museum Simalungun Juniska Della Meliasny Saragih; Muhammad Adib Alfaruq; Supriati Sinaga; Wahyu Tri Atmojo
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.39271

Abstract

Penelitian ini membahas nilai estetika arsitektur Museum Simalungun sebagai representasi identitas budaya Batak Simalungun. Kajian ini dilatarbelakangi oleh minimnya penelitian yang secara khusus membahas nilai estetika bangunan museum, karena penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada sejarah dan koleksi budaya yang tersimpan di dalamnya. Padahal, arsitektur Museum Simalungun tidak hanya berfungsi sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai media visual yang menyampaikan nilai sosial, spiritual, dan filosofis masyarakat Simalungun. Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai estetika arsitektur Museum Simalungun menggunakan teori estetika Monroe Beardsley yang meliputi unity, complexity, dan intensity. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka melalui jurnal ilmiah, buku, dokumen sejarah, dan dokumentasi visual bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai estetika Museum Simalungun terlihat pada keterpaduan bentuk Rumah Bolon, penggunaan warna tradisional merah, putih, dan hitam, ornamen gorga, simbol kepala kerbau, serta kekuatan visual bangunan yang merepresentasikan identitas budaya Batak Simalungun secara utuh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa arsitektur Museum Simalungun tidak hanya memiliki nilai keindahan visual, tetapi juga berfungsi sebagai media representasi dan pelestarian identitas budaya masyarakat Simalungun.
Patung Pangulubalang sebagai Warisan Seni Rupa Tradisional Batak di Museum Negeri Sumatera Utara Romarito Putranisa Sitorus; Syaiful Akhyar; Alfia Rahma; Wahyu Tri Atmojo
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.39710

Abstract

Patung Pangulubalang merupakan salah satu karya seni rupa tradisional masyarakat Batak yang memiliki nilai estetika dan fungsi sakral. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan wujud visual, menganalisis nilai estetika, dan mengkaji fungsi sakral Patung Pangulubalang di Museum Negeri Sumatera Utara. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung, dokumentasi visual, dan studi pustaka. Analisis nilai estetika menggunakan teori Dharsono (2007) dan Feldman (1967), sementara fungsi sakral dikaji dalam kerangka sistem kepercayaan tradisional Batak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Patung Pangulubalang memiliki bentuk figuratif yang mengalami stilisasi dengan ciri khas berupa dominasi ukuran kepala, ekspresi wajah yang tegas, serta lubang pada bagian kepala dan badan yang berkaitan langsung dengan prosesi ritual. Nilai estetika patung terletak pada perpaduan unsur garis, bentuk, tekstur, dan proporsi yang bersifat simbolik dan relasional, lahir dari hubungan antara bentuk visual dan sistem nilai budaya Batak. Fungsi sakral patung sebagai media perlindungan kampung melalui ritual yang dipimpin datu kini telah bertransformasi menjadi fungsi edukatif dan pelestarian budaya dalam konteks museum. Penelitian ini mengisi celah kajian yang belum disentuh penelitian sebelumnya, yaitu analisis estetika berbasis teori seni rupa dan kajian fungsi sakral yang dikaitkan langsung dengan elemen fisik patung dan prosesi ritualnya.