Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INTEGRASI ASPEK HUKUM DALAM PENENTUAN ZONASI PESISIR UNTUK BUDIDAYA RUMPUT LAUT KABUPATEN BONE Ahmad Suryadi; Muh. Ikhsan Idrus
JOURNAL IURIS SCIENTIA Vol. 4 No. 2 (2026): JOURNAL IURIS SCIENTIA
Publisher : Yayasan Merassa Indonesia Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62263/

Abstract

Marine spatial planning is a strategic instrument in supporting sustainable, equitable, and legally certain marine resource management. In its implementation, marine spatial governance in Indonesia still faces various issues, particularly normative conflicts and overlapping authorities among legal regimes that create legal uncertainty in marine space utilization. These problems are influenced by the fragmentation of regulations between spatial planning law, marine law, and various sectoral regulations that have not been systemically integrated, including the implementation of the Coastal Zone and Small Islands Zoning Plan (RZWP3K) and the Approval for Marine Space Utilization Activities (PKKPRL) mechanism. This condition has resulted in the suboptimal determination of coastal zone zoning to support the suitability of seaweed aquaculture in Bone Regency. This study aims to analyze the integration of legal aspects in determining coastal zones within marine spatial planning, assess the position and function of PKKPRL in the national marine spatial planning system, and formulate a legal integration model that supports the suitability of seaweed aquaculture in Bone Regency. This study employs a normative legal research method with statutory, conceptual, systemic, and comparative legal approaches. The results indicate that marine spatial planning problems are structural and functional due to the lack of synchronization in inter-sectoral regulations, weak harmonization of authority, and the non-integration of coastal zoning planning with marine space utilization licensing mechanisms. Furthermore, the implementation of RZWP3K has not been fully capable of accommodating legal certainty in marine space utilization for seaweed aquaculture activities. Therefore, integrated marine spatial planning regulations are required through the harmonization of legal norms, strengthening the position of PKKPRL, and synchronizing coastal zone zoning policies to create legal certainty, effective marine spatial planning, and sustainable seaweed aquaculture development in Bone Regency
Penguatan Literasi Publik Dalam Pengawasan Anggaran Daerah Melalui Sosialisasi APBD Ahmad Suryadi; Andi Izman M Padjalangi; Sitti Hardiyanti Arhas; Muhammad Luthfi Siraj; Suprianto Suprianto; Muh. Imanuddin Akmal
INNOVA-S: Journal of Innovation and Sustainable Services Volume 2, Issue 1, 2026
Publisher : LPPM INSTITUT TEKNOLOGI DAN BISNIS DAN MARITIM BALIK DIWA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63249/innova-s.v2i1.114

Abstract

Pengawasan anggaran daerah memerlukan partisipasi aktif masyarakat sebagai bentuk kontrol sosial dalam sistem pemerintahan demokratis. Namun, rendahnya literasi publik tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan mekanisme pengawasannya menjadi hambatan utama partisipasi masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi publik dalam pengawasan anggaran daerah melalui sosialisasi APBD di Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukatif-partisipatif dengan melibatkan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan sebagai mitra strategis dan narasumber. Kegiatan dilaksanakan melalui tiga tahapan: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, diskusi terarah, dan refleksi bersama. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman masyarakat tentang konsep APBD dan mekanisme pengawasan partisipatif, perubahan persepsi dari sikap pasif menjadi aktif dalam pengawasan anggaran, serta terbentuknya komitmen untuk membentuk kelompok masyarakat pengawas anggaran daerah. Program ini berhasil memperkuat civic engagement masyarakat dalam pengawasan governance lokal.