Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Algorithmic Injustice in E-Contract Termination: Islamic and Indonesian Legal Analysis of Shopee's Return Policy Ahmad Musadad; Achmad Badarus Syamsi; Fajar Fajar; Muttaqin Choiri; Imamuddin Imamuddin
Tadayun: Jurnal Hukum Ekonomi Syariah Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/tadayun.v7i1.595

Abstract

Algorithmic automation in digital transactions often overlooks substantive justice, as evidenced by the automatic approval feature within Shopee’s return and refund policy, which triggers systemic injustice for sellers. This research aims to analyze the unilateral termination of contracts by algorithmic systems through the perspectives of Islamic Law and Indonesian Positive Law. Employed a socio legal research method with case, statutory, and comparative approaches, this study discussed the anomaly of termination as a system act. The results indicated the auto-acc feature created technical coercion that paralyzes the seller’s verification rights and violates the principle of An Tarāḍin, thereby triggering buyer moral hazard risks. Theoretically, this research contributes through the integration of Contractual Balance Theory and Maqāṣid al-Mu‘āmalah to identify bargaining position distortions in algorithmic termination. The research conclusion affirmed that the platform’s absolute discretion violates the doctrine of good faith and property protection (ḥifẓ al-māl). It is recommended to establish a digital economic law harmonization model that mandates human oversight, and compensation mechanisms (ta‘wīḍ) to ensure the integrity of a substantively fair e-commerce ecosystem. Abstrak Otomatisasi algoritma dalam transaksi digital sering kali mengabaikan keadilan substantif, sebagaimana terlihat pada fitur persetujuan otomatis pada fitur pengembalian barang/dana Shopee yang memicu ketidakadilan sistemik bagi penjual. Penelitian ini bertujuan menganalisis terminasi akad sepihak oleh sistem algoritma melalui perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif Indonesia. Menggunakan metode penelitian hukum sosiologis dengan pendekatan kasus, perundang-undangan, dan perbandingan, penelitian ini membedah anomali terminasi sebagai tindakan sistem (system-act). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitur auto-acc menciptakan paksaan teknis (technical coercion) yang melumpuhkan hak verifikasi penjual dan mencederai asas ‘An Tarāḍin, sehingga memicu risiko moral hazard pembeli. Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi melalui integrasi Teori Keseimbangan Kontraktual dan Maqāṣid al-Mu‘āmalah untuk mengidentifikasi distorsi posisi tawar dalam terminasi algoritmik. Simpulan penelitian menegaskan bahwa diskresi absolut platform melanggar doktrin itikad baik dan perlindungan harta (ḥifẓ al-māl). Direkomendasikan adanya model harmonisasi hukum ekonomi digital yang mewajibkan pengawasan manusia (human oversight) dan mekanisme kompensasi (ta‘wīḍ) guna menjamin integritas ekosistem e-commerce yang berkeadilan substantif.
Kerangka Twin Towers pada Islamic Social Finance Berbasis Tridharma Perguruan Tinggi Muttaqin Choiri; Ali Mas'ud
INTEGRASI : Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 4, No. 1 : INTEGRASI (JANUARI-JUNI 2026)
Publisher : Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61590/int.v4i01.247

Abstract

Integrasi antara ilmu keislaman dan ilmu modern telah menjadi agenda penting dalam pengembangan perguruan tinggi Islam. Salah satu paradigma yang dikembangkan adalah model Twin Towers yang menekankan dialog dan keterhubungan antara dua tradisi keilmuan tersebut. Namun, sejauh ini integrasi tersebut lebih banyak berhenti pada level epistemologis dan kurikulum, belum diterjemahkan secara konkret ke dalam tata kelola institusi. Artikel ini bertujuan merumuskan model konseptual (conseptual study) menggunakan studi dokuemntasi literatur akademik, yang merekonstruksi paradigma Twin Towers menjadi kerangka tata kelola Islamic social finance berbasis tridharma perguruan tinggi, khususnya dalam pengelolaan zakat dan wakaf. Dengan pendekatan konseptual yang memadukan teori integrasi pengetahuan, teori tata kelola, maqasid al-shariah, dan konsep tridharma perguruan tinggi, artikel ini menawarkan model tiga lapis: (1) integrasi epistemologis, (2) integrasi fungsional dalam tridharma, dan (3) luaran tata kelola institusional yang beretika dan berkelanjutan. Model ini menempatkan perguruan tinggi Islam sebagai aktor moral dan ekonomi dalam ekosistem keuangan sosial Islam.
ANALISIS PENYELESAIAN IZIN HALAL PADA PRODUK BERISIKO USAHA AIR MINUM DALAM KEMASAN PESANTREN DI MADURA Muttaqin Choiri; Muhammad Ersya Faraby; Faekarotul Mufidah
Ghaly: Journal of Islamic Economic Law Vol. 4 No. 2 (2026): Ghaly: Journal of Islamic Economic Law
Publisher : Islamic Economic Law Study Program, Faculty of Sharia Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Islamic State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/7wzhpk73

Abstract

Banyaknya usaha pesantren di Madura pada bidang pengelolaan industri air mineral dalam bentuk kemasan yang telah diklasifikasi dalam produk berbasis risiko, memunculkan beberapa permasalahan dalam penyelesaian ijinnya, seperti ijin edar, SNI termasuk Produk Halal. Perkembangan unit usaha pesantren, masih belum diimbangi dengan pengembangan tata kelola yang baik, termasuk SDM maupun administrasi dalam penyelesaian Ijin. Penelitian ini digunakan sebagai alternatif pilihan dalam penyelesaian izin halal, pada usaha pesantren yang masih mengalami beberapa kendala. Penelitian ini digunakan untuk pemetaan dan upaya penyelesaian izin halal yang masih menjadi kendala bagi usaha pesantren berbasis Risiko.Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis-empiris, dilakukan pada model regulasi pada beberapa instansi pemerintah di Wilayah Madura, baik instansi daerah maupun intansi pusat di daerah, termasuk perguruan tinggi. Dengan menggunakan pendekatan statue approach dan politik hukum pada regulasi penyelesaian produk berbasis risiko pada kementerian/ lembaga/ pemerintah daerah di Madura. Hasil penelitian menunjukkan ada tiga model penyelesaian izin halal, yang dilakukan pada usaha pesantren yakni, model koordinasi baik bersifat struktural maupun fungsional, model pembinaan dan bimbingan secara langsung, sedangkan ketiga dengan cara pendampingan yang lebih banyak dipilih oleh unit usaha pesantren guna mempercepat proses izin halal.