Juliana Waromi
Universitas Cendrawasih

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERAN ORANG TUA DALAM PENGUATAN LITERASI DASAR MEMBACA DAN MENULIS SISWA Wahyuni Arianti Djara Raba; Tanta Tanta; Kusdianto Kusdianto; Juliana Waromi; Yulius Mataputun; Petrus Irianto
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10065

Abstract

This study aims to describe and analyze the role of parents in strengtheing basic literacy in reading and writing among students of SD YPPGI Dome, Lanny Jaya Regency, Highland Papua Province. This research employs a descriptive qualitative method, with data collection techniques including interviews, observations, and documentation. The results show that parental involvement in strengthening basic literacy in reading and writing has not yet been optimal or evenly distributed. The study focuses on several aspects, including the role of parents as mentors, role models, facilitators, motivators, communicators, and providers of rewards and punishments, as well as the ssupporting and inhibiting factors and their impact on students’ basic literacy. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and drawing conclusions.The role of parents as mentors and role models remains limited and inconsistent, while their role as facilitators is constrained by minimal learning resources and environment, particularly the conditions of the honai and limited electricity. The role of parents as motivators has the strongest influence on students’ learning enthusiasm and self-confidence. Communication between parents and teachers is still insufficient and not continuous, whereas parents’ role as providers of rewards and punishments has been carried out but is not yet fully educational. The main supporting factors are direct guidance, structured learning time, and emotional support, while the inhibiting factors include parents’ busyness, parents’ educational background, limited facilities, economic and geographic conditions, and weak school–parent communication. This study contributes conceptually to family literacy practices in 3T areas, based on the socio-cultural context of Highland Papua.
Implementasi Kompetensi Profesional Guru dalam Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Renhad Pebfrianto Siallagan; Yulius Mataputun; Robert Masreng; Kusdianto Kusdianto; Juliana Waromi; Ida M. Hutabarat
Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran Vol. 9 No. 1 (2026): Januari - April 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/jsgp.9.1.2026.8252

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi darurat literasi di Kabupaten Lanny Jaya, dengan angka buta aksara mencapai 68,56%, serta tuntutan transformasi pendidikan melalui Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2025 yang menekankan pembelajaran mendalam (deep learning). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis implementasi kompetensi profesional guru dalam mewujudkan pembelajaran bermakna di SMA Negeri 1 Tiom, Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif. Subjek penelitian dipilih melalui teknik purposive sampling, meliputi guru bersertifikat pendidik dengan masa tugas minimal dua tahun, kepala sekolah sebagai pengelola, serta siswa Orang Asli Papua (OAP). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi pembelajaran, dan studi dokumentasi. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan teknik, sedangkan analisis data dilakukan melalui model interaktif yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi profesional guru telah diimplementasikan dengan cukup baik. Guru mampu menguasai materi, mengaitkannya dengan konteks kehidupan siswa, serta menerapkan pembelajaran yang partisipatif dan berpusat pada peserta didik. Selain itu, guru memahami karakteristik dan cara belajar siswa, serta berupaya mengintegrasikan kurikulum secara kontekstual. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi serta pengembangan keprofesian berkelanjutan telah dilakukan, meskipun masih terbatas oleh fasilitas, akses pelatihan, dan beban administratif. Faktor pendukung meliputi dukungan kepala sekolah, komitmen guru, dan kerja sama antar guru. Sementara itu, hambatan utama mencakup keterbatasan sarana, kondisi geografis, dan minimnya pelatihan berkelanjutan. Implementasi kompetensi profesional guru berdampak positif terhadap pembelajaran bermakna, ditandai dengan meningkatnya keterlibatan siswa, pemahaman materi, serta kemampuan mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa kompetensi profesional guru yang kontekstual dan adaptif berperan penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan menjadi kunci terwujudnya pembelajaran bermakna.
Peran Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pembelajaran Dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Prayitno Prayitno; Petrus Irianto; Ida Mariati Hutabarat; Happy Lumbantobing; Kusdianto Kusdianto; Juliana Waromi
Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran Vol. 9 No. 1 (2026): Januari - April 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/jsgp.9.1.2026.8253

Abstract

Urgensi penelitian ini terletak pada perlunya mengeksplorasi model kepemimpinan di wilayah dengan tantangan ekstrem, di mana keterbatasan infrastruktur berupa status blank spot internet dan ketersediaan listrik tenaga surya yang hanya sebesar 500 watt menuntut resiliensi manajerial agar kualitas pembelajaran tetap terjaga. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dalam meningkatkan profesionalisme guru di SMAN Tiomneri. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi pembelajaran, dan telaah dokumen Subjek penelitian ini melibatkan delapan informan kunci yang dipilih melalui teknik purposive sampling, terdiri dari satu orang Kepala Sekolah (KS), satu orang Wakil Kepala Sekolah (WK) bidang kurikulum, dan enam orang guru . Analisis data dilakukan dengan model interaktif (reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan), sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu, serta didukung member check dan peer debriefing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah menjalankan kepemimpinan pembelajaran melalui lima tanggung jawab utama, yaitu: 1) mendefinisikan dan mengkomunikasikan visi misi sekolah dengan menyelaraskan arah program sekolah, penegasan target kerja, dan penguatan komitmen guru agar pembelajaran tetap berorientasi pada tujuan; 2) mengoordinasikan kurikulum melalui fasilitasi perencanaan perangkat ajar, rapat/kerja kurikulum, koordinasi lintas mata pelajaran, serta dorongan inovasi pembelajaran yang kontekstual; 3) melaksanakan supervisi pembelajaran melalui kunjungan kelas, umpan balik, pendampingan, dan tindak lanjut perbaikan perangkat serta praktik mengajar; 4) memantau kemajuan belajar peserta didik melalui evaluasi hasil belajar, pembahasan capaian, serta program remedial dan pengayaan sebagai dasar perbaikan pembelajaran; dan 5) memelihara iklim belajar positif dengan penguatan disiplin, budaya kolaborasi, komunikasi kerja, serta dukungan pembinaan yang mendorong guru terus berkembang. Faktor pendukung mencakup dukungan komite/orang tua, komitmen guru, forum MGMP sekolah, pemanfaatan potensi lokal sebagai sumber belajar, dan motivasi peserta didik. Secara ilmiah, penelitian ini memberikan kontribusi empiris bagi pengembangan praktik kepemimpinan pembelajaran pada konteks SMAN Tiomneri sebagai sekolah menengah atas negeri di Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan.