Robert Masreng
Universitas Cendrawasih

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

IMPLEMENTASI KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU UNTUK PENGUATAN KARAKTER TOLERANSI DALAM PEMBELAJARAN SISWA Yumri Yublince Anin; Yulius Mataputun; Albaiti Albaiti; Petrus Irianto; Robert Masreng; Urip Wahyudin
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10066

Abstract

This study aims to analyze the implementation of teachers’ personality competence in strengthening students’ character of tolerance in the learning process, the supporting and inhibiting factors of its implementation, as well as its impact on students’ attitudes, the learning environment, and students’ social relationships at SD Negeri Yokobak, Lanny Jaya Regency, Papua Highlands Province. This research employed a qualitative approach using a case study design. Data collection techniques included in-depth interviews, observations, and documentation. The research informants consisted of the principal, teachers, students, and parents. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing, with data validity ensured through source and technique triangulation. The findings indicate that teachers’ personality competence reflecting a stable, mature, wise, authoritative, and morally upright character has been concretely implemented in both classroom learning and school life. This implementation contributes to the development of students’ tolerant attitudes, the creation of a safe and inclusive learning environment, and the establishment of harmonious social relationships among students. The main supporting factors include teachers’ role modeling and consistency, support from the principal, and a school culture oriented toward tolerance values. Meanwhile, the inhibiting factors include limited facilities, lack of teacher training, differences in family backgrounds, and the socio-economic conditions of students’ environments. The conclusion of this study confirms that teachers’ personality competence plays a strategic role in strengthening students’ character of tolerance. These findings provide important implications for strengthening character education practices in primary schools and serve as a foundation for policy development and further research related to tolerance education in multicultural regions.
Penerapan Supervisi Akademik Kepala Sekolah Menggunakan Teknik Kelompok Untuk Meningkatkan Profesionalisme Guru Yahya Yahya; Yulius Mataputun; Robert Masreng; C. Tanta C. Tanta; Monika Gultom; Albaiti Albaiti
Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran Vol. 9 No. 1 (2026): Januari - April 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/jsgp.9.1.2026.8221

Abstract

Urgensi penelitian ini didasarkan pada diskrepansi tajam antara proyeksi anggaran tunjangan profesi guru nasional sebesar Rp110 triliun dengan rendahnya kinerja riil di lapangan, serta kondisi sosiogeografis dan keamanan ekstrem di wilayah Papua yang memerlukan model kepemimpinan instruksional yang adaptif dan humanis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan supervisi akademik kepala sekolah menggunakan teknik kelompok untuk meningkatkan profesionalisme guru di SD Negeri Guninggame, Kabupaten Lanny Jaya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber, waktu, dan teknik. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah menerapkan supervisi akademik teknik kelompok secara sistematis yang mencakup empat tahap, yaitu: (1) perencanaan, dengan menyusun program supervisi berdasarkan kebutuhan guru dan kondisi sekolah; (2) pelaksanaan, melalui kegiatan kelompok seperti diskusi kelompok, observasi teman sejawat, dan demonstrasi mengajar yang dilaksanakan secara partisipatif dan humanis; (3) evaluasi, dengan melakukan penilaian terhadap proses dan hasil pelaksanaan supervisi untuk mengetahui tingkat keberhasilan serta kendala yang dihadapi; dan (4) tindak lanjut, melalui pembinaan lanjutan berupa pelatihan internal yang dilaksanakan secara kolaboratif. Di samping itu, pelaksanaan supervisi akademik teknik kelompok masih menghadapi beberapa hambatan, yaitu keterbatasan waktu, perbedaan tingkat pemahaman guru, serta keterbatasan sarana pendukung. Namun demikian, program ini didukung oleh komitmen kepala sekolah yang tinggi dan motivasi guru yang kuat. Secara keseluruhan, penerapan supervisi akademik teknik kelompok memberikan dampak positif terhadap peningkatan profesionalisme guru, terutama dalam penguatan kompetensi pedagogik, pengembangan profesional secara berkelanjutan, peningkatan kedisiplinan kerja, serta penguatan etika dan tanggung jawab profesi. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam bidang manajemen pendidikan, khususnya pada penguatan praktik supervisi akademik di sekolah dasar.
Implementasi Kompetensi Profesional Guru dalam Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Renhad Pebfrianto Siallagan; Yulius Mataputun; Robert Masreng; Kusdianto Kusdianto; Juliana Waromi; Ida M. Hutabarat
Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran Vol. 9 No. 1 (2026): Januari - April 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/jsgp.9.1.2026.8252

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi darurat literasi di Kabupaten Lanny Jaya, dengan angka buta aksara mencapai 68,56%, serta tuntutan transformasi pendidikan melalui Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2025 yang menekankan pembelajaran mendalam (deep learning). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis implementasi kompetensi profesional guru dalam mewujudkan pembelajaran bermakna di SMA Negeri 1 Tiom, Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif. Subjek penelitian dipilih melalui teknik purposive sampling, meliputi guru bersertifikat pendidik dengan masa tugas minimal dua tahun, kepala sekolah sebagai pengelola, serta siswa Orang Asli Papua (OAP). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi pembelajaran, dan studi dokumentasi. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan teknik, sedangkan analisis data dilakukan melalui model interaktif yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi profesional guru telah diimplementasikan dengan cukup baik. Guru mampu menguasai materi, mengaitkannya dengan konteks kehidupan siswa, serta menerapkan pembelajaran yang partisipatif dan berpusat pada peserta didik. Selain itu, guru memahami karakteristik dan cara belajar siswa, serta berupaya mengintegrasikan kurikulum secara kontekstual. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi serta pengembangan keprofesian berkelanjutan telah dilakukan, meskipun masih terbatas oleh fasilitas, akses pelatihan, dan beban administratif. Faktor pendukung meliputi dukungan kepala sekolah, komitmen guru, dan kerja sama antar guru. Sementara itu, hambatan utama mencakup keterbatasan sarana, kondisi geografis, dan minimnya pelatihan berkelanjutan. Implementasi kompetensi profesional guru berdampak positif terhadap pembelajaran bermakna, ditandai dengan meningkatnya keterlibatan siswa, pemahaman materi, serta kemampuan mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa kompetensi profesional guru yang kontekstual dan adaptif berperan penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan menjadi kunci terwujudnya pembelajaran bermakna.
Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas dalam Meningkatkan Kompetensi Sosial Emosional Siswa Sadly Ansi; Petrus Irianto; Ida Mariati Hutabarat; Robert Masreng; Monika Gultom; Ewendi W. Mangolo
Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran Vol. 9 No. 1 (2026): Januari - April 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/jsgp.9.1.2026.8254

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis kelas dalam meningkatkan kompetensi sosial emosional siswa di SMP Negeri 1 Malagai, Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan. Kajian ini didasarkan pada urgensi model supervisi kolaboratif yang efisien untuk mengatasi berbagai hambatan instruksional di daerah terpencil. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, data dihimpun melalui wawancara mendalam, observasi pembelajaran, dan studi dokumentasi yang melibatkan kepala sekolah, guru, siswa, hingga tokoh adat setempat. Analisis data dilakukan secara interaktif dengan uji keabsahan melalui teknik triangulasi dan member checking. Temuan penelitian menunjukkan bahwa PPK berbasis kelas dilaksanakan melalui integrasi nilai karakter dalam perencanaan, praktik keteladanan serta disiplin positif dalam pelaksanaan, serta evaluasi reflektif yang kontekstual. Nilai kearifan lokal seperti semangat kebersamaan dan aturan adat diintegrasikan untuk memperkuat pengalaman sosial siswa di lingkungan kelas. Faktor pendukung utama mencakup komitmen guru dan dukungan komunitas, sedangkan hambatan dominan meliputi keterbatasan akses listrik, internet, sarana belajar, serta beban administrasi. Implementasi ini terbukti memperkuat lima pilar kompetensi sosial emosional siswa, yakni kesadaran diri, pengelolaan emosi, empati, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan bertanggung jawab. Disimpulkan bahwa dalam konteks wilayah 3T Papua Pegunungan, keberhasilan pendidikan karakter lebih ditentukan oleh konsistensi praktik keteladanan dan pengalaman sosial yang nyata dibandingkan sekadar pemenuhan kelengkapan administrasi formal. Hal ini menegaskan pentingnya pendekatan pendidikan yang adaptif terhadap realitas lokal demi menjamin mutu pembelajaran yang berkelanjutan.
Kepemimpinan Kepala Sekolah Berwawasan Multikultural Dalam Pencegahan Intoleransi Di Lingkungan Sekolah Edi Swarso; Yulius Mataputun; Robert Masreng; C. Tanta; Albaiti Albaiti; Monika Gultom
Jurnal Studi Guru dan Pembelajaran Vol. 9 No. 1 (2026): Januari - April 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/jsgp.9.1.2026.8256

Abstract

  Tantangan intoleransi saat ini menjadi ancaman serius bagi integritas pendidikan nasional, di mana realitas empiris menunjukkan adanya peningkatan jumlah pelajar yang terpapar paham eksklusivitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepemimpinan kepala sekolah berwawasan multikultural dalam pencegahan intoleransi dengan fokus spesifik pada SMAN 1 Tiom, Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua Pegunungan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus tunggal, di mana data primer digali melalui wawancara mendalam terhadap 15 informan kunci yang terdiri dari kepala sekolah, guru, dan siswa. Teknik pengumpulan data diintegrasikan melalui observasi partisipatif dan studi dokumentasi, sementara keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan teknik.. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepala sekolah SMAN 1 Tiom telah menerapkan kepemimpinan kepala sekolah berwawasan multikultural dengan membawa perubahan, menginspirasi dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan yang diwujudkan melalui pemberian contoh dan sikap dalam bertindak sehari-hari. Melalui penerapan visi multikultural dan kecerdasan budaya ke dalam gaya kepemimpinan yang inklusif, partisipatif dan integrasi antara keteladanan personal, komunikasi organisasi yang terbuka, dan penegakan keadilan yang non-diskriminatif, kepala sekolah berhasil menciptakan budaya sekolah yang harmonis dan inklusif dengan saling menghargai, menerapkan persamaan hak laki-laki dan perempuan serta memberikan kesempatan yang sama. Dengan melibatkan siswa secara konsultif, kolaboratif dan dipimpin oleh anak dalam pengambilan kebijakan sekolah maupun pelaksanaan kegiatan sekolah mampu mencegah intoleransi di sekolah. Faktor pendukung kepemimpinan kepala sekolah berwawasan multikultural dari iklim organisasi, kurikulum, dan sarana sekolah yang memadai sedangkan faktor penghambatnya aspek kognitif, sikap individu dan kurangnya sosialiasi pendidikan multikultural ditengah masyarakat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan warna baru dalam kajian kepemimpinan kepala sekolah berwawasan multikultural dalam pencegahan intoleransi dari perspektif Papua Pegunungan.
STRATEGI KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI ERA DIGITALISASI Edison Rumbiak; Petrus Irianto; Robert Masreng; Ida M. Hutabarat; Yulius Mataputun; Diki Kurniawan
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i2.10080

Abstract

This research aims to analyze the principal's leadership strategies in improving teacher performance in the digitalization era at SMP Negeri 2 Tiom, Lanny Jaya Regency, Highland Papua Province. The focus includes strategies for fostering morale and confidence, providing guidance and direction, the role of modeling, and providing inspiration, as well as identifying supporting factors, inhibitors, and the impact of these strategies. This study employs a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews with eight informants (principal, teachers, operator, committee, and students), participant observation, and documentation studies. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman interactive model, consisting of data condensation, data display, and conclusion drawing. The results indicate that the principal implements a "Context-Responsive Digital Leadership" strategy through a humanist and communicative approach to reduce the psychological barriers of teachers in 3T (Frontier, Outermost, and Disadvantaged) regions. Guidance is provided through reflective clinical supervision and internal peer mentoring programs to overcome the limitations of external training. The principal's digital role modeling in school administration serves as a catalyst for teachers to begin adopting technology gradually. The findings identify that the availability of 24-hour electricity since mid-2024 is a primary supporting factor, while internet infrastructure and the 2026 student device restriction policy are significant inhibitors. The implementation of these strategies has a positive impact on increasing teacher discipline and student learning motivation. The study concludes that integrating "Noken" local wisdom values into the school's digital culture strengthens the resilience of educational institutions in remote areas.