Eman Wahyudi Kasim
Universitas Islam Negeri Abdul Muthalib Sangadji Ambon

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MENEMBUS KOMPLEKSITAS ZAMAN: PERAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI DALAM MEMAHAMI MASYARAKAT MODERN Alwi Usra Usman; Indriani Indriani; Muhammad Kasim; Rahmat Zulfikar Hamid; Eman Wahyudi Kasim
Social Landscape Journal Vol 7, No 1 (2026): March
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56680/slj.v7i1.82318

Abstract

Modernization is a multidimensional phenomenon that brings rapid and complex social, cultural, and structural changes to modern society. This process not only brings progress in technology and industrialization, but also raises various social challenges such as urbanization, shifting values, changes in family structure, weakening social solidarity, and transformations in religious and cultural relations. Therefore, understanding modern society requires a comprehensive and multidisciplinary scientific approach. This study aims to analyze the role of sociology and anthropology in understanding the dynamics of modern society and their contributions in responding to the challenges of modernity. The research method used is descriptive qualitative with a literature study approach, utilizing secondary data sourced from relevant books and scientific journal articles. The results of the study show that sociology plays an important role in analyzing changes in social structure, social movements, contemporary issues, and the impact of technology and social media on social relations. Meanwhile, anthropology provides a deep understanding of cultural identity, multiculturalism, acculturation, symbols and meanings of popular culture, as well as the application of applied anthropology in modern society. The collaboration between sociology and anthropology allows for a more complete understanding of socio-cultural realities, especially in the context of Muslim communities in Indonesia. Thus, the integration of these two disciplines becomes a strategic analytical framework in formulating inclusive social policies, maintaining cultural diversity, and building social harmony amid the ever-evolving tide of modernization.
Makna Simbolik Satu Tungku Tiga Batu dalam Perspektif Pendidikan Budaya: Studi Arsitektur Masjid Pattimburak Fakfak Eman Wahyudi Kasim; Wa Mirna; Nurwahidin Nurwahidin; Rahmat Zulfikar Hamid
EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 5 No. 3 (2025): Oktober 2025 - Januari 2026
Publisher : Association of Islamic Education Managers (Permapendis) Indonesia, North Sumatra Province

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/edu.v5i3.2550

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbolik kearifan lokal Satu Tungku Tiga Batu dalam perspektif pendidikan budaya yang terepresentasi pada arsitektur Masjid Pattimburak di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan pencatatan lapangan yang dilakukan di Kampung Pattimburak, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filosofi Satu Tungku Tiga Batu dipahami masyarakat Fakfak sebagai sistem nilai budaya yang mengajarkan kebersamaan, persaudaraan, dan integrasi sosial lintas perbedaan agama. Konsep ini dimaknai sebagai simbol tiga agama besar, yaitu Islam, Kristen Protestan, dan Katolik, yang menjadi penopang keharmonisan kehidupan keluarga dan masyarakat. Makna simbolik tersebut tercermin secara nyata dalam arsitektur Masjid Pattimburak yang memadukan unsur bangunan masjid dan gereja, sehingga merepresentasikan nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Dalam perspektif pendidikan budaya, arsitektur Masjid Pattimburak berfungsi sebagai media pembelajaran kontekstual yang mentransmisikan nilai-nilai kearifan lokal, moderasi beragama, dan pendidikan multikultural kepada masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa kearifan lokal Satu Tungku Tiga Batu tidak hanya berperan sebagai identitas budaya, tetapi juga sebagai sumber nilai pendidikan yang relevan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis dan damai.