Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

The Influence of Psychological Capital and Transformational Leadership on Work Engagement of Generation Z Workers in Karawang Ismi Noor Fajrin; Linda Mora; Haryanti Mustika
Indonesian Journal of Multidisciplinary Sciences (IJoMS) Vol. 5 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Multidisciplinary Sciences (IJoMS)
Publisher : CV. Era Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59066/ijoms.v5i1.2523

Abstract

The changing composition of the workforce with the arrival of Generation Z brings new dynamics, making it important to study work engagement in this generation. This study aims to examine the influence of psychological capital and transformational leadership on work engagement among Generation Z employees in Karawang. This quantitative study used a causal design with 204 respondents selected through convenience sampling techniques. Data were collected using the UWES-9, PCQ, and MLQ questionnaires, then analyzed using multiple linear regression. The results showed that psychological capital significantly influenced work engagement, while transformational leadership did not. However, both variables simultaneously had a significant effect, contributing 32.6%. Overall, psychological capital was a stronger predictor of work engagement.
Pengaruh Lingkungan Kerja Dan Stres Kerja Terhadap Turnover Intention Pada Karyawan Generasi Z Di Kabupaten Karawang Dimas Kristanto; Linda Mora; Haryanti Mustika
Management Studies and Entrepreneurship Journal (MSEJ) Vol. 7 No. 6 (2026): Management Studies and Entrepreneurship Journal (MSEJ)
Publisher : Yayasan Pendidikan Riset dan Pengembangan Intelektual (YRPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/a64jsq22

Abstract

Karakteristik Generasi Z yang dinamis dan memiliki ekspektasi tinggi terhadap lingkungan kerja menjadikan turnover intention sebagai isu penting bagi perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan kerja dan stres kerja terhadap turnover intention pada karyawan Generasi Z di Kabupaten Karawang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sebanyak 425 karyawan Generasi Z berusia 18-29 tahun dari berbagai perusahaan di Kabupaten Karawang dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Turnover Intention Scale (TIS-6), Skala Lingkungan Kerja dan Perceived Stress Scale (PSS-10), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda melalui SPSS 25.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kerja dan stres kerja secara simultan berpengaruh signifikan terhadap turnover intention dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05). Secara parsial, lingkungan kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover intention (β = -0,108; p = 0,001), sedangkan stres kerja berpengaruh positif dan signifikan (β = 0,404; p = 0,000). Kedua variabel mampu menjelaskan 51,1% variasi turnover intention. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang kondusif dapat menurunkan turnover intention, sedangkan stres kerja yang tinggi meningkatkan kecenderungan karyawan Generasi Z untuk meninggalkan organisasi.
Prokrastinasi Akademik Ditinjau Dari Manajemen Waktu Dan Conscientiousness Pada MahasiswaDi Kabupaten Karawang Davina Alifia Guntara; Nur Ainy Sadijah; Haryanti Mustika
Jurnal Psikologi dan Konseling West Science Vol 4 No 02 (2026): Jurnal Psikologi dan Konseling West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpkws.v4i02.2593

Abstract

Mahasiswa kerap menghadapi rutinitas akademik seperti mengerjakan tugas, namun banyak mahasiswa yang cenderung menundanya. Penundaan ini disebut juga prokrastinasi akademik, yang berdasarkan pra-penelitian tergolong tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh manajemen waktu dan conscientiousness terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa di Kabupaten Karawang. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain kausalitas komparatif, melibatkan 399 responden yang diperoleh melalui teknik snowball sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Time Management Questionnaire (TMQ) untuk mengukur manajemen waktu, Big Five Inventory-2 domain conscientiousness untuk mengukur conscientiousness, dan Tuckman Procrastination Scale (TPS). Analisis data dilakukan dengan regresi berganda menggunakan SPSS 26.0. Hasil menunjukkan bahwa secara parsial hanya conscientiousness yang berpengaruh signifikan terhadap prokrastinasi akademik, sedangkan manajemen waktu tidak. Namun secara simultan, keduanya berpengaruh signifikan dengan koefisien determinasi sebesar 77,3%. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan karakter conscientiousness untuk mengurangi prokrastinasi akademik.
Memahami Psychological Distress pada Emerging Adulthood: Peran Kesepian dan Dukungan Sosial Kanti Putri Febriani; Cempaka Putrie Dimala; Haryanti Mustika
Jurnal Psikologi dan Konseling West Science Vol 4 No 02 (2026): Jurnal Psikologi dan Konseling West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpkws.v4i02.2700

Abstract

Individu pada tahap emerging adulthood mulai membangun karier, melanjutkan studi, membentuk hubungan pribadi, dan menetapkan nilai-nilai hidup untuk mencapai kestabilan di masa depan. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana pengaruh kesepian dan dukungan sosial terhadap psychological distress. Populasi dalam penelitian ini yakni emerging adulthood di Karawang dengan rentang usia 18-25 tahun. Metode penelitian menggunakan kuantitatif dengan teknik non-probability sampling dengan jenis purposive sampling. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Cochran dengan taraf kesalahan sebesar 5% maka sampel dalam penelitian menggunakan 385 responden. Penelitian ini menggunakan 3 alat ukur psikologi yaitu Psychological distress scale (K10), UCLA Version 3, dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji regresi berganda. Hasil analisis variabel kesepian terhadap psychological distress sebesar 0,000 < 0,05 sehingga dinyatakan terdapat pengaruh, sedangkan variabel dukungan sosial memberikan hasil sebesar 0,683 > 0,05, yang artinya tidak ada pengaruh antara dukungan sosial dengan psychological distress. Berdasarkan hasil koefisien determinasi, apabila dilihat dari nilai R square sebesar 0,789 atau 78,9% memberikan sumbangsih terhadap psychological distress, selebihnya sebesar 21,1% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
PROKRASTINASI AKADEMIK MAHASISWA DITINJAU DARI SELF REGULATED LEARNING DAN DUKUNGAN SOSIAL Elfrida Astin Hanadia; Nur Ainy Sadijah; Haryanti Mustika
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11854

Abstract

Academic procrastination is a major concern among university students because it is associated with delayed task completion and poorer academic performance. Although self-regulated learning and social support have been widely investigated, evidence regarding their combined contribution and the specific roles of different sources of social support among students at Buana Perjuangan University Karawang remains limited. This study aimed to examine the extent to which self-regulated learning and social support predict academic procrastination among 335 students at Buana Perjuangan University Karawang selected through proportionate stratified sampling. This quantitative study employed a correlational design using the Academic Procrastination Scale (APS), the Academic Self-Regulated Learning Scale (A-SRL-S), and the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Data were analyzed using multiple linear regression with SPSS version 25. The results showed that self-regulated learning and social support jointly predicted academic procrastination. Individually, both variables were negatively associated with academic procrastination, with self-regulated learning emerging as the stronger predictor. Among the three sources of social support, only support from significant others significantly predicted academic procrastination, whereas support from family and friends did not make significant contributions. Most students demonstrated high levels of academic procrastination, low self-regulated learning, and high perceived social support. These findings indicate that better self-regulated learning and stronger support from significant others are associated with lower levels of academic procrastination among university students. ABSTRAK Prokrastinasi akademik merupakan permasalahan penting pada mahasiswa karena berkaitan dengan keterlambatan penyelesaian tugas dan rendahnya pencapaian akademik. Meskipun self-regulated learning dan dukungan sosial telah banyak dikaji, bukti mengenai kontribusi simultan kedua variabel serta peran spesifik setiap sumber dukungan sosial pada mahasiswa Universitas Buana Perjuangan Karawang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan self-regulated learning dan dukungan sosial dalam memprediksi prokrastinasi akademik pada 335 mahasiswa Universitas Buana Perjuangan Karawang yang dipilih melalui proportionate stratified sampling. Penelitian kuantitatif dengan desain korelasional ini menggunakan Academic Procrastination Scale (APS), Academic Self-Regulated Learning Scale (A-SRL-S), dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-regulated learning dan dukungan sosial secara simultan memprediksi prokrastinasi akademik. Secara parsial, kedua variabel berasosiasi negatif dengan prokrastinasi akademik, dengan self-regulated learning sebagai prediktor yang lebih kuat. Dari ketiga sumber dukungan sosial, hanya dukungan dari significant others yang menjadi prediktor signifikan, sedangkan dukungan keluarga dan teman tidak menunjukkan kontribusi yang signifikan. Mayoritas mahasiswa memiliki prokrastinasi akademik tinggi, self-regulated learning rendah, dan dukungan sosial tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa self-regulated learning yang lebih baik dan dukungan yang lebih tinggi dari significant others berasosiasi dengan rendahnya prokrastinasi akademik mahasiswa.
Kecemasan Menikah pada Dewasa Awal di Karawang Ditinjau dari Fenomena Fatherless Yunita Ryana Dewi; Cempaka Putrie Dimala; Haryanti Mustika
Indonesian Journal of Multidisciplinary Sciences (IJoMS) Vol. 5 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Multidisciplinary Sciences (IJoMS)
Publisher : CV. Era Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59066/ijoms.v5i2.2466

Abstract

Kecemasan terhadap pernikahan telah menjadi salah satu masalah psikologis yang semakin sering ditemui di kalangan dewasa awal, termasuk di Kabupaten Karawang, wilayah yang dalam enam tahun terakhir justru mencatat penurunan angka pernikahan yang konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh fatherless terhadap kecemasan menikah pada dewasa awal di Kabupaten Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Sampel penelitian berjumlah 400 dewasa awal yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria berusia 18-40 tahun, belum menikah, dan berdomisili di Kabupaten Karawang. Fatherless diukur dengan Father Involvement Scale, sedangkan kecemasan menikah diukur dengan skala kecemasan. Data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fatherless berpengaruh negatif signifikan terhadap kecemasan menikah. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,870 menunjukkan bahwa fatherless menjelaskan 87% kecemasan menikah, sedangkan 13% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Hal ini menegaskan bahwa kualitas relasi dengan ayah adalah salah satu fondasi psikologis paling menentukan dalam kesiapan dewasa awal menghadapi pernikahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rendahnya keterlibatan ayah yang dialami individu (fatherless) berkaitan dengan meningkatnya kecemasan menikah pada dewasa awal di Kabupaten Karawang. Temuan ini menegaskan pentingnya keterlibatan ayah yang konsisten sejak masa kanak-kanak sebagai bekal psikologis anak dalam membangun kesiapan menikah di masa dewasa.
Wounds in Relationships: Examining the Role of Adult Attachment and Relationship Self-Efficacy in Dating Violence Nasywa Fitria Adjani; Cempaka Putrie Dimala; Haryanti Mustika
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 14 No. 4 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/v1dtjj91

Abstract

Dating violence among young adults remains common in romantic relationships and is influenced by various psychological factors. This study aims to examine the influence of adult attachment and relationship self-efficacy on dating violence. The method used is a quantitative approach with a causal design. The study sample consisted of 407 young adult respondents selected through non-probability sampling using a purposive sampling method. The research instruments included the Experiences in Close Relationships Scale–Short Form (ECR-S) to measure attachment anxiety and attachment avoidance, the Relationship Self-Efficacy Scale (RSE) to measure an individual’s confidence in managing relationships, and the Conflict in Adolescent Dating Relationships Inventory (CADRI) to measure dating violence behavior. The results indicate that, individually, adult attachment and relationship self-efficacy significantly influence dating violence, with relationship self-efficacy exhibiting a negative relationship. Simultaneously, both variables also significantly influence dating violence. These findings indicate that high levels of attachment anxiety and attachment avoidance increase the risk of dating violence, whereas high relationship self-efficacy acts as a protective factor against the psychological effects of dating violence. Perilaku dating violence pada dewasa awal masih sering terjadi dalam hubungan romantis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh adult attachment dan relationship self-efficacy terhadap dating violence. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Subjek penelitian berjumlah 407 responden dewasa awal yang ditentukan melalui teknik non-probability sampling dengan metode purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi Experiences in Close Relationships Scale–Short Form (ECR-S) untuk mengukur attachment anxiety dan attachment avoidance, Relationship Self-Efficacy Scale (RSE) untuk mengukur keyakinan individu dalam mengelola hubungan, serta Conflict in Adolescent Dating Relationships Inventory (CADRI) untuk mengukur perilaku dating violence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial adult attachment dan relationship self-efficacy berpengaruh signifikan terhadap dating violence, dengan relationship self-efficacy memiliki arah hubungan negatif. Secara simultan, kedua variabel juga berpengaruh signifikan terhadap dating violence. Temuan ini mengindikasikan bahwa tingkat attachment anxiety dan attachment avoidance yang tinggi meningkatkan risiko dating violence, sedangkan relationship self-efficacy yang tinggi berperan sebagai faktor protektif terhadap efek psikologis dating violence.
Staying Engaged Under Pressure: The Role of Self-Efficacy and Job demands  on Employee Work Engagement Meillani Puspa Ningtiyas; Linda Mora; Haryanti Mustika
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 14 No. 4 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/22fe6d38

Abstract

Work engagement is a crucial element for improving employee performance and productivity, particularly in the demanding pharmaceutical industry. This study aimed to examine the influence of self-efficacy and job demands on work engagement. The methodology employed a quantitative approach with a causality design. The sample consisted of 129 employees, selected using a non-probability total sampling method. Data were collected using the Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9) to measure work engagement, the General Self-Efficacy Scale (GSES) to measure self-efficacy, and the Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ) to measure job demands. The analysis showed that self-efficacy had a positive and significant influence on work engagement, while job demands did not show any significant partial influence. However, overall, both self-efficacy and job demands had a significant impact on work engagement. The R-squared value of 0.207 indicates that both variables contributed 20.7% to the variation in work engagement. The results of this study imply that companies need to improve employee self-efficacy through competency development and providing support in facing work demands, as well as managing job demands optimally to support increased work engagement. Work engagement adalah elemen penting untuk meningkatkan kinerja serta produktivitas karyawan, terutama dalam industri farmasi yang memiliki banyak tuntutan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh self efficacy dan job demands terhadap work engagement. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Sampel penelitian terdiri dari 129 karyawan yang diambil dengan metode non-probability melalui pengambilan sampel total. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Skala Utrech Work engagement Scale (UWES-9) untuk mengukur work engagement, General Self efficacy Scale (GSES) untuk mengukur self efficacy, dan Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ) untuk mengukur job demands. Hasil analisis menunjukkan bahwa self efficacy memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap work engagement, sedangkan job demands tidak menunjukkan adanya pengaruh signifikan secara parsial. Namun, secara keseluruhan, baik self efficacy maupun job demands memberikan dampak yang signifikan terhadap work engagement. Nilai R-squared yang mencapai 0,207 menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut berkontribusi sebesar 20,7% dalam variasi work engagement. Hasil penelitian ini mengimplikasikan bahwa perusahaan perlu meningkatkan self efficacy karyawan melalui pengembangan kompetensi dan pemberian dukungan dalam menghadapi tuntutan pekerjaan, serta mengelola job demands secara optimal guna mendukung peningkatan work engagement.
Adversity Quotient: The Role of Social Support and Optimism as Mediator Variables in Working Students Novia Rahmani Safitri; Linda Mora; Haryanti Mustika
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 13 No. 3 (2025): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i3.19626

Abstract

A major challenge for working students is balancing the demands of study and work simultaneously. The ability to face challenges and overcome obstacles, known as adversity quotient, is very important for working students. The purpose of this study is to analyze how social support affects the adversity quotient of working students, with optimism having a role in the mediator variable. This study adopted a quantitative approach by involving 225 students from UBP Karawang Psychology Department as participants. The sampling technique applied was non-probability sampling using purposive sampling approach. Data collection was conducted through three instruments, namely the Adversity Response Profile (ARP), Life Orientation Test - Revised (LOT-R), and the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Data were analyzed by testing the assumptions of normality and linearity, followed by path analysis. The results indicated that social support and adversity quotient did not show a significant influence (p > 0.067). However, there was a significant influence between social support and optimism (p < 0.001). In addition, optimism also showed a significant influence on adversity quotient (p < 0.001). Significantly (p < 0.001) revealed optimism plays a role as a full mediator of social support on adversity quotient.Tantangan besar bagi mahasiswa bekerja merupakan menyeimbangkan tuntutan perkuliahan dan pekerjaan secara bersamaan. Kemampuan untuk menghadapi tantangan dan mengatasi hambatan, yang dikenal sebagai adversity quotient, sangat penting bagi mahasiswa bekerja. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis bagaimana dukungan sosial mempengaruhi adversity quotient mahasiswa bekerja, dengan optimisme yang memiliki peran dalam variabel mediator. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 225 mahasiswa dari Jurusan Psikologi UBP Karawang sebagai partisipan. Teknik pengambilan sampel yang diterapkan adalah non-probability sampling menggunakan pendekatan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga instrumen, yakni Adversity Response Profile (ARP), Life Orientation Test – Revised (LOT-R), serta Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Data dianalisis dengan menguji asumsi normalitas dan linearitas, dilanjutkan dengan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian mengindikasikan bahwa dukungan sosial dan adversity quotient tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan (p > 0.067). Namun demikian, ditemukan adanya pengaruh yang signifikan antara dukungan sosial dan optimisme (p < 0.001). Selain itu, optimisme juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap adversity quotient (p < 0.001). Secara signifikansi (p < 0.001) mengungkapkan optimisme berperan sebagai mediator penuh dukungan sosial terhadap adversity quotient.