Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

LITERASI SEJARAH DALAM PRAKTIK PEMBELAJARAN: TINJAUAN LITERATUR UNTUK PENINGKATAN KOMPETENSI GURU Nur Hikma Safira; Bahri Bahri
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i2.10711

Abstract

ABSTRACT The limited capacity of students to think historically in the digital age is an urgent problem that has not been systematically addressed in history learning practice. Historical literacy serves as a conceptual and practical framework to respond to this challenge. This article critically analyzes the concept, urgency, key components, and implementation strategies of historical literacy in history learning. The study employs a systematic literature review method with a descriptive analytical approach, examining 30 scholarly sources published between 2020 and 2025, including national and international journal articles, conference proceedings, and relevant educational policy documents. The synthesis of findings reveals that historical literacy is a multidimensional competency encompassing primary secondary source analysis, historical causal reasoning, multiple perspective-taking, awareness of history's interpretive nature, and ethical dimensions in understanding the past. Its implementation demands a transformation in the teacher's role-from information transmitter to facilitator of historical thinking through project-based approaches, critical discussion, and selective use of digital technology. Strengthening historical literacy has been shown to enhance students historical understanding and cultivate critical, responsible national consciousness amid the flood of digital information. ABSTRAK Rendahnya kemampuan berpikir historis peserta didik di era digital merupakan persoalan mendesak yang belum mendapat penanganan sistematis dalam praktik pembelajaran sejarah. Literasi sejarah hadir sebagai kerangka konseptual dan praktis yang menjawab tantangan tersebut. Artikel ini bertujuan menganalisis secara kritis konsep, urgensi, komponen-komponen utama, serta strategi implementasi literasi sejarah dalam pembelajaran. Penelitian dilakukan menggunakan metode kajian literatur sistematis dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap 30 sumber ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2020–2025, mencakup artikel jurnal nasional dan internasional, prosiding, serta dokumen kebijakan pendidikan yang relevan. Sintesis temuan menunjukkan bahwa literasi sejarah merupakan kompetensi multidimensi yang mencakup kemampuan analisis sumber primer-sekunder, penalaran sebab-akibat historis, perspektif multipel, kesadaran akan sifat interpretatif sejarah, serta dimensi etis dalam memahami masa lalu. Implementasinya dalam pembelajaran menuntut transformasi peran guru dari penyampai informasi menjadi fasilitator berpikir historis melalui pendekatan berbasis proyek, diskusi kritis, dan pemanfaatan teknologi digital secara selektif. Penguatan literasi sejarah terbukti mampu meningkatkan kualitas pemahaman historis peserta didik dan membentuk kesadaran kebangsaan yang kritis dan bertanggung jawab di tengah derasnya arus informasi digital.
Pengaruh Dukungan Sosial dan Kecerdasan Emosional terhadap Prestasi Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Makassar Rahma Awalia; Nur Hikma Safira; Richlah Nur Majdina; Romansyah Sahabuddin; Agussalim Agussalim
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7558

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh dukungan sosial dan kecerdasan emosional terhadap prestasi mahasiswa pascasarjana Universitas Negeri Makassar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex post facto dengan melibatkan 120 mahasiswa dari berbagai program studi. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi dengan nilai t = 3,214 dan p = 0,002, yang mengindikasikan bahwa setiap peningkatan dukungan sosial memberikan kontribusi positif terhadap kenaikan IPK mahasiswa. Kecerdasan emosional juga menunjukkan pengaruh signifikan dengan nilai t = 4,557 dan p = 0,000, menandakan bahwa kemampuan mengelola emosi berperan penting dalam pencapaian akademik. Secara simultan, kedua variabel menghasilkan nilai F = 19,842 dengan signifikansi 0,000 dan koefisien determinasi R² = 0,264, yang berarti bahwa dukungan sosial dan kecerdasan emosional bersama-sama menjelaskan 26,4% variasi prestasi akademik mahasiswa.
Dinamika Komunikasi Lintas Budaya Pada Mahasiswa Rantau Di Lingkungan Multikultural Kota Makassar Nur Hikma Safira; Alimin Alwi; Najamuddin Najamuddin
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 3: April 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i3.14021

Abstract

Dinamika komunikasi lintas budaya mahasiswa rantau di Kota Makassar menunjukkan bahwa proses adaptasi sosial yang mereka jalani berlangsung secara kompleks, bertahap, dan dipengaruhi oleh berbagai faktor budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana mahasiswa rantau membangun komunikasi lintas budaya dalam lingkungan masyarakat yang multikultural serta memahami strategi adaptasi yang mereka gunakan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, penelitian ini menggali tantangan yang muncul akibat perbedaan bahasa, dialek, norma, nilai, dan gaya komunikasi sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama terletak pada perbedaan bahasa dan dialek lokal yang sering memicu salah tafsir, kecanggungan, serta kesulitan memahami konteks komunikasi pada tahap awal. Namun hambatan tersebut secara bertahap menurun seiring meningkatnya intensitas interaksi, keterlibatan dalam kegiatan sosial, dan partisipasi aktif mahasiswa dalam organisasi kampus. Temuan penelitian menegaskan bahwa proses lintas budaya tidak hanya membantu siswa memahami lingkungan baru, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran sosial yang memperkuat sikap terbuka, empati, toleransi, serta kemampuan negosiasi makna dalam kehidupan sehari-hari.