Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Kebijakan Penjurusan SMA dalam Perspektif Konstruktivisme Vygotsky Aisya Laili Azira; M. Mamduh Winangun
Educational Journal Vol. 1 No. 4 (2026): MAY-JULY
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/ady6sq43

Abstract

April 2025, rencana dalam memperlakukan kembali sistem penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di SMA mulai tahun pengajaran 2025/2026 diumumkan oleh Kementian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebagai pembalikan dari kebijakan yang sebelumnya yang sudah dihapus dalam Kurikulum Merdeka. Keputusan tersebut telah mendapatkan kritik dari beberapa pihak dikarenakan dianggap tergesa-gesa dan belum didukung dari landasan akademik yang kuat. Artikel ini memiliki tujuan guna melakukan analisis permasalahan tersebut dengan menggunakan pandangan dari teori konstruktivisme sosial dari Lev Vygotsky, dengan menekankan pada perbedaan secara konseptual antara pembelajaran dan pembelajaran sebagai kerangka analisis utama. Metode yang digunakan adalah studi kasus berbasis data sekunder dari pemberitaan media massa dan literatur akademis. Hasil analisis menunjukkan bahwa kebijakan penjurusan bekerja pada level pembelajaran (instruction) sebagai rancangan eksternal, tetapi berpotensi menghambat proses belajar (learning) yang bersifat internal apabila struktur sosial yang terbentuk mempersempit Zone of Proximal Development siswa. Artikel ini merekomendasikan agar desain penjurusan tetap memberi ruang bagi kolaborasi lintas rumpun ilmu dan scaffolding yang kontekstual.
Rendahnya Partisipasi Siswa dalam Kerja Kelompok: Kajian Teori Konstruktivisme Sosial Fauziah Safitri; M. Mamduh Winangun
Educational Journal Vol. 1 No. 4 (2026): MAY-JULY
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/dg17qe50

Abstract

Rendahnya partisipasi siswa dalam kerja kelompok masih menjadi permasalahan yang kerap ditemui dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Hal ini tampak dari kurangnya keterlibatan siswa dalam diskusi, minimnya kontribusi dalam penyelesaian tugas kelompok, serta adanya kecenderungan dominasi oleh beberapa siswa tertentu. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses interaksi sosial dalam pembelajaran belum berlangsung secara optimal, padahal kerja kelompok berperan esensial dalam memupuk kemampuan berpikir, komunikasi, dan kolaborasi peserta didik. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji penyebab rendahnya partisipasi siswa dalam kerja kelompok serta merumuskan solusi yang relevan berdasarkan perspektif teori konstruktivisme sosial. Studi ini menerapkan metode kualitatif melalui desain studi kasus, memanfaatkan data sekunder dari jurnal ilmiah dan buku referensi., serta laporan pendidikan yang berkaitan dengan topik yang dikaji.Teori yang digunakan dalam analisis adalah konstruktivisme sosial yang dikemukakan oleh Vygotsky, terutama gagasan interaksi sosial dan Zona Perkembangan Proksimal (ZPD), dan scaffolding. Hasil analisis menunjukkan bahwa rendahnya partisipasi siswa dipengaruhi oleh terbatasnya kesempatan untuk berinteraksi secara aktif, belum maksimalnya peran guru dalam memberikan bimbingan, serta kurang optimalnya penerapan strategi pembelajaran kolaboratif.Sebagai rekomendasi, guru perlu menerapkan pembelajaran kolaboratif yang terencana, memberikan bimbingan secara bertahap sesuai kebutuhan siswa, serta menciptakan lingkungan belajar yang mendorong interaksi aktif. Dengan penerapan strategi tersebut, partisipasi siswa dalam kerja kelompok diharapkan dapat meningkat dan proses pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Analisis Konsep Learning to Know dalam Perspektif UNESCO melalui Pendekatan Konstruktivisme pada Pemanfaatan Teknologi Pembelajaran Wanda Hamidah Azzahra; M. Mamduh Winangun
Educational Journal Vol. 1 No. 4 (2026): MAY-JULY
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/wdv67b07

Abstract

Perkembangan teknologi pembelajaran di era digital telah membawa perubahan signifikan dalam proses pendidikan, namun implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam aspek pemahaman peserta didik. Konsep learning to know yang diperkenalkan oleh UNESCO menekankan pentingnya kemampuan memahami dan mengolah pengetahuan, bukan sekadar menghafal informasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan teknologi pembelajaran melalui perspektif konstruktivisme dalam mendukung konsep learning to know. Metode yang digunakan adalah studi kasus berbasis data sekunder yang bersumber dari laporan pendidikan, artikel ilmiah, dan fenomena pembelajaran digital. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan teknologi pembelajaran masih cenderung bersifat pasif dan berorientasi pada penyampaian informasi. Hal ini tidak sejalan dengan prinsip konstruktivisme yang menekankan pembelajaran aktif.
Perspektif Behaviorisme Skinner dalam Mengatasi Masalah Konsentrasi Belajar Akibat Kecanduan Gawai pada Anak Hanif Mufidatur Rohmah; M. Mamduh Winangun
Educational Journal Vol. 1 No. 4 (2026): MAY-JULY
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/6m1qdr20

Abstract

Perkembangan teknologi digital menyebabkan tingginya aksesibilitas gawai pada anak usia dini, di mana data BPS (2024) mencatat 39,71% anak telah menggunakan telepon seluler. Lebih lanjut, data GNFI (2022) menunjukkan 25,4% anak menggunakan gawai lebih dari dua jam per hari, dengan dominasi 62,33% untuk sarana hiburan. Paparan layar yang berlebihan ini berdampak pada menurunnya tingkat konsentrasi belajar anak di sekolah. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis fenomena kecanduan gawai dan dampaknya terhadap konsentrasi belajar anak melalui perspektif teori Operant Conditioning B.F. Skinner, serta menawarkan solusi berbasis modifikasi perilaku. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus berbasis data sekunder dari laporan resmi (BPS dan GNFI) serta sepuluh jurnal ilmiah terbaru. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecanduan gawai terjadi karena gawai bertindak sebagai super-reinforcer yang memberikan immediate positive reinforcement (hadiah instan), membuat proses belajar konvensional terasa kekurangan reinforcer (penguat) dan menurunkan fokus anak. Sebagai solusi pedagogis, artikel ini merekomendasikan penerapan teknik modifikasi perilaku, yaitu Extinction (penghapusan bertahap), Behavior Contract (kontrak perilaku), dan Token Economy, guna mengembalikan konsentrasi dan minat belajar siswa.
Optimalisasi Keaktifan Siswa melalui Implementasi Teori Konstruktivisme dalam Pembelajaran Ni Kadek Imel Jessika Putri; M. Mamduh Winangun
Educational Journal Vol. 1 No. 4 (2026): MAY-JULY
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/wc4ds610

Abstract

Studi ini terinspirasi oleh kenyataan bahwa sebagian besar praktik pengajaran konvensional tidak memfokuskan pada melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Pengajaran yang berpusat pada guru biasanya membuat siswa menjadi pasif. Fokus utama pembahasan adalah sejauh mana pergeseran orientasi pembelajaran ke pendekatan berpusat pada siswa dapat meningkatkan kualitas pemahaman konsep siswa. Tujuan dari studi ini adalah untuk menganalisis tingkat rendahnya keterlibatan siswa dari perspektif teori konstruktivisme. Selain itu, studi ini berusaha memberikan cara untuk memperbaiki situasi dari sudut pandang pedagogi yang melibatkan siswa secara aktif. Metode yang diterapkan adalah studi kasus dengan data sekunder dari jurnal ilmiah dan laporan pendidikan. Studi ini mengungkapkan bahwa kemampuan siswa untuk mempertahankan informasi dan tingkat motivasi belajar yang lebih tinggi dipengaruhi oleh kesempatan mereka untuk membangun pemahaman mereka melalui pengalaman dan interaksi dengan teman sebaya mereka. Studi ini mengusulkan bahwa Project-Based Learning (PjBL) dapat menjadi cara kreatif dalam menerapkan prinsip-prinsip konstruktivisme dalam pengajaran.
Perspektif Kognitivisme dalam Menyikapi Kesenjangan Akses Teknologi Pembelajaran di Daerah 3T Nabila Zakia Ramadhani; M. Mamduh Winangun
JURNAL MULTIDISIPLIN ILMU AKADEMIK Vol. 3 No. 3 (2026): JUNI
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jmia.v3i3.10468

Abstract

Kesenjangan fasilitas pendidikan, terutama ketiadaan akses internet dan minimnya perangkat digital di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), telah melahirkan krisis pedagogis yang memaksa guru bertahan pada metode mengajar konvensional dan monoton. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam dampak dari keterbatasan infrastruktur teknologi tersebut terhadap proses pemrosesan informasi siswa, serta merumuskan alternatif solusi pedagogis yang adaptif. Melalui metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus berbasis tinjauan literatur (data sekunder), kajian ini membedah fenomena kesenjangan di daerah 3T menggunakan kerangka teori kognitivisme, khususnya berlandaskan pada tahapan representasi kognitif Jerome Bruner dan Teori Pemrosesan Informasi (Information Processing Theory) Robert Gagne. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiadaan variasi stimulus visual-auditori dari teknologi terbukti menggagalkan proses retensi pada memori sensorik siswa dan menghambat terbentuknya struktur kognitif pada tahap ikonik. Sebagai solusi utama, artikel ini merekomendasikan intervensi pedagogis berupa pemanfaatan alat peraga konkret dan manipulasi alam sekitar (representasi enaktif) sebagai substitusi dari stimulus digital, yang dipadukan dengan strategi pengorganisasian memori manual. Pendekatan ini esensial untuk mengoptimalkan skema kognitif dan memastikan informasi tersimpan di dalam memori jangka panjang siswa meskipun berada di tengah keterbatasan teknologi.