Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Language Maintenance of the Dialect Bali Aga Cempaga: A Sociolinguistic Study and its Implications for Language Revitalisation Ni Ketut Veri Kusuma; Elsita Lisnawati Guntar; I Made Aryastawan
Journal of English Language and Education Vol 11, No 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jele.v11i3.2421

Abstract

This study examines the maintenance of the Bali Aga dialect in Cempaga Village, Banjar District, Buleleng Regency, Bali. The Bali Aga dialect is an older form of the Balinese language spoken by the Bali Aga community (highland/indigenous Balinese), historically predating and linguistically distinct from the Lowland Balinese (Lowland Balinese) dialect. Cempaga Village, as one of the Bali Aga communities, harbors unique linguistic wealth, yet faces mounting pressures from modernization and language shift. This research aims to: (1) identify the distinctive linguistic features of the Cempaga Bali Aga dialect that differentiate it from the Lowland Balinese dialect; (2) analyze the social, economic, and cultural factors influencing dialect maintenance; and (3) formulate contextual and sustainable revitalization strategies. The study employs a descriptive-qualitative method with a linguistic ethnographic approach. Data were collected through in-depth interviews with 42 purposively selected informants, eight months of participant observation, and spontaneous speech recordings. Results indicate that the Cempaga Bali Aga dialect possesses 78 unique lexical items absent from the Lowland dialect, a distinct phonological system with 12 distinctive phonemes, and unique morphosyntactic patterns. Dialect maintenance is positively supported by communal identity, active customary ritual practices, and elderly generational awareness. Primary threats arise from Indonesian language dominance in formal education, inter-regional intermarriage, and the prevalence of Indonesian-Lowland Balinese digital media. This study recommends community-based revitalization programs that integrate the dialect into local curricula and digital platforms.
TANTANGAN IMPLEMENTASI PENDIDIKAN PADA ERA MODERN: STUDI KASUS PADA MAHASISWA IKIP SARASWATI, TABANAN Ni Ketut Veri Kusumaningrum; Elsita Lisnawati Guntar; Muhammad Dedad Bisaraguna Akastangga
Suluh Pendidikan : Jurnal Ilmu-Ilmu Pendidikan Vol 24 No 1 (2026): SULUH PENDIDIKAN : Jurnal Ilmu-Ilmu Pendidikan
Publisher : IKIP SARASWATI TABANAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46444/suluh-pendidikan.v24i1.1092

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tantangan yang dihadapi mahasiswa dalam menerapkan pendidikan modern di IKIP Saraswati, Tabanan. Transformasi pendidikan menuju digital dan hibrida telah memberikan dampak signifikan pada proses pembelajaran, baik dari segi teknologi, infrastruktur, metodologi, maupun aspek psikologis dan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif, dengan teknik purposive sampling yang melibatkan 60 mahasiswa aktif semester 3-8 sebagai responden. Kuesioner skala Likert digunakan untuk mengukur lima dimensi tantangan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan akses dan infrastruktur mendapat skor tertinggi (4,1), diikuti oleh teknologi pembelajaran (3,8), aspek psikologis dan sosial (3,7), dan metodologi pembelajaran (3,6). Temuan utama meliputi kesulitan beradaptasi dengan platform digital (48%), keterbatasan perangkat (63%), biaya internet yang memberatkan (50%), koneksi internet yang tidak stabil (45%), dan penurunan pemahaman materi (45%). Selain tantangan, mahasiswa juga menunjukkan strategi adaptasi seperti membentuk kelompok belajar daring (42%), memanfaatkan sumber belajar digital (67%), meningkatkan intensitas komunikasi dengan dosen melalui media digital (48%), dan mengembangkan jadwal belajar mandiri (51%). Studi ini merekomendasikan empat langkah strategis untuk mendukung transisi yang efektif dan inklusif menuju pendidikan modern. Pertama, penguatan infrastruktur melalui penyediaan jaringan internet stabil dan perangkat teknologi yang terjangkau. Kedua, pelatihan literasi digital secara berkala bagi guru, siswa, dan orang tua, mencakup penggunaan platform pembelajaran daring, keamanan siber, dan evaluasi informasi digital. Ketiga, implementasi model pembelajaran hibrida yang menggabungkan tatap muka dan daring secara proporsional melalui kurikulum yang fleksibel dan adaptif. Keempat, penguatan layanan dukungan psikososial di lingkungan sekolah guna mengatasi kecemasan, isolasi sosial, dan tekanan psikologis yang muncul akibat perubahan pola belajar.
UPAYA MEMINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS ANEKDOT MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA SMK Ni Made Wina Kariasih; Ni Luh Nanik Puspadi; Elsita Lisnawati Guntar; I Wayan Agus Wiratama; I Wayan Sumahardika
Wacana : Majalah Ilmiah Tentang Bahasa, Sastra Dan Pembelajarannya Vol. 25 No. 1 (2025): Wacana Saraswati Majalah Ilmiah Tentang Bahasa Sastra Dan Pembelajarannya
Publisher : FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI IKIP SARASWATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46444/wacanasaraswati.v25i1.849

Abstract

Rendahnya kemampuan siswa dalam menulis teks anekdot dipengaruhi oleh belum optimalnya proses pembelajaran yang digunakan, khususnya metode ceramah yang masih mendominasi. Selain itu, minimnya penggunaan media pendukung seperti gambar menyebabkan siswa kesulitan dalam mengembangkan ide dan menyusun struktur teks yang sesuai. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis teks anekdot melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan media gambar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas X P4 SMK Saraswati 3 Tabanan Tahun Pelajaran 2024/2025 yang berjumlah 29 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa meningkat dari 61,03 pada prasiklus, menjadi 71,38 pada siklus I. Peningkatan dari prasiklus ke siklus I sebesar 16,96%. Pada siklus II seluruh siswa telah tuntas (100%) dengan nilai rata-rata 83,10. Peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 16,42%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan media gambar dapat meningkatkan kemampuan menulis teks anekdot siswa secara signifikan. Dengan demikian, guru disarankan untuk menerapkan model ini sebagai alternatif dalam pembelajaran menulis
The effects of social media, language attitudes, and group identity on students' abbreviation use Elsita Lisnawati Guntar; Ni Ketut Veri Kusumaningrum; Ni Nyoman Widani
Indonesian Journal of Educational Development (IJED) Vol. 7 No. 2 (2026): August 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/ijed.v7i2.6870

Abstract

The growth of digital communication has encouraged the widespread use of abbreviations on social media. However, the factors influencing students' abbreviation use remain underexplored. This study examined how social media usage intensity, attitudes toward digital language, and group identity affect abbreviation use among IKIP Saraswati students. Using an explanatory quantitative design, the study collected data from 133 students in the Indonesian Language and Literature Education and English Language Education Study Programs through a Likert-scale questionnaire and analyzed them using multiple linear regression. The findings revealed that social media usage intensity, attitudes toward digital language, and group identity positively and significantly influenced abbreviation use, both individually and simultaneously. The model explained 48.4% of the variance in abbreviation use behavior. These results suggest that students' abbreviation use is shaped not only by linguistic factors but also by digital interaction, language attitudes, and social identity. The findings support the need for higher education institutions to strengthen digital language literacy by promoting context-appropriate abbreviation use. Future research should investigate additional factors, including digital literacy, communication context, and cultural influences, to provide a more comprehensive understanding of abbreviation use in digital communication.