Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Simbolisasi Kampung Halaman dalam Lagu Pulo Samosir Karya Nahum Situmorang: Analisis Semiotika pada Persepsi Anak Muda Gen Z Batak Toba yang Merantau: The Symbolization of Homeland in the Song Pulo Samosir by Nahum Situmorang: A Semiotic Analysis of the Perceptions of Migrant Batak Toba Generation Z Youth Puja Astrid Sirait; Mieke Angelika Siburian; Erika Cintya Pebrianti Silitonga; Tasya Amelia Saragih; Taufik Kusuma Panjaitan; Fitriani Lubis
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2678

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis simbolisasi kampung halaman dalam lagu Pulo Samosir karya Nahum Situmorang serta relevansinya bagi generasi muda Batak Toba yang merantau. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka semiotika Roland Barthes yang menelaah makna denotatif, konotatif, dan mitos. Data berupa lirik lagu dianalisis melalui studi pustaka dan pembacaan mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi anak muda Gen Z Batak Toba, kampung halaman dalam lagu ini bukan sekadar lokasi geografis, melainkan simbol identitas, keluarga, dan nilai budaya yang tetap melekat meskipun mereka tinggal jauh dari daerah asal. Penelitian ini juga menemukan bahwa lagu Pulo Samosir tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai pengingat nilai-nilai budaya Batak Toba, seperti pentingnya keluarga, keberhasilan hidup, dan menjaga kehormatan. Bagi generasi muda yang merantau, makna ini tetap relevan karena membantu mereka tetap merasa terhubung dengan budaya dan asal-usulnya di tengah kehidupan modern.
Peranan Cimpa Makanan Khas Karo Dalam Merajut Harmoni Sosial Dalam Kegiatan Adat dan Budaya Masyarakat Karo Taufik Kusuma Panjaitan; Putri Alicya; Syafina Ramadani; Gizka Febrianka; Sarah K Br Regar; Putri Anggini; Nadra Amalia
Journal of Management Education Social Sciences Information and Religion Vol. 3 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/mesir.v3i1.8202

Abstract

Penelitian ini mengkaji peranan Cimpa sebagai makanan khas masyarakat Karo dalam merajut dan mempertahankan harmoni sosial melalui kegiatan adat dan budaya di Tanah Karo, Sumatera Utara. Menggunakan metode studi pustaka, penelitian ini menganalisis berbagai sumber sekunder terkini (2021–2025), termasuk jurnal ilmiah, artikel etnografi, dan laporan pelestarian warisan kuliner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cimpa bukan sekadar hidangan kuliner, melainkan simbol budaya yang sarat makna filosofis dan fungsi sosial. Proses pembuatan Cimpa, yang melibatkan bahan alami lokal (beras ketan, kelapa parut, gula merah/aren, daun singkut/marasi) dan sering dilakukan secara gotong royong, mencerminkan nilai kesabaran, kerjasama, dan penghormatan terhadap alam serta leluhur. Kelima varian utama Cimpa Unung Unung, Tuang, Matah, Labar, dan Gulamei memiliki perbedaan signifikan dalam komposisi bahan, teknik pembuatan, tekstur, rasa, serta konteks penggunaan dalam acara adat. Cimpa Unung Unung mendominasi pesta besar (Merdang Merdem, pernikahan) sebagai simbol syukur formal; Cimpa Tuang berfungsi praktis untuk pergaulan sehari hari; Cimpa Matah mewakili kemurnian dalam ritual intim; Cimpa Labar menggambarkan ketahanan agraris; sedangkan Cimpa Gulamei menyimbolkan kemanisan hidup yang lembut. Secara sosial, Cimpa berperan sebagai “bahasa bersama” yang memperkuat sistem kekerabatan Rakut Si Telu, memfasilitasi pembagian kebahagiaan, mengurangi potensi konflik, dan membangun solidaritas antarindividu, keluarga, serta komunitas di masyarakat Karo yang multireligius. Cimpa merupakan metafor harmoni sosial masyarakat Karo: manis namun berlapis, tradisional namun adaptif, sederhana namun kaya makna. Pelestarian dan pemahaman mendalam terhadap peran Cimpa bukan hanya upaya menjaga kuliner tradisional, melainkan investasi strategis untuk keberlanjutan harmoni sosial, solidaritas komunal, dan identitas budaya etnis Karo di tengah arus modernisasi dan globalisasi.