Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN MENTAL DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG KONFORMITAS emira apriyeni; Helena Patricia; Dwi Christina Rahayuningrum; veolina irman
Jurnal Abdimas Saintika Vol 8, No 1 (2026): Mei Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v8i1.30945

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap pengaruh lingkungan sosial, khususnya tekanan teman sebaya yang dapat mendorong perilaku konformitas negatif. Secara global, sekitar 70% remaja memiliki pengetahuan tentang konformitas yang masih rendah, sehingga mudah terpengaruh dalam pengambilan keputusan berisiko. Tujuan dari kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pendidikan kesehatan mental dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang konformitas di SMK N 1 Padang. Metode yang digunakan adalah ceramah dan memberikan pertanyaan seputar pengetahuan remaja mengenai fenomena konformitas remaja. Sasaran dalam kegiatan ini yaitu remaja SMK N 1 Padang. Kegiatan dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Kegiatan ini efektif dilakukan dalam peningkatan pengetahuan remaja dimana terlihat adanya peningkatan remaja sebelum dan sesudah mendapatkan penyuluhan yang terlihat dari rata-rata kuesioner pre dan post test yaitu sebesar 5,7 point. Diharapkan kegiatan ini akan meningkatkan pemahaman konformitas pada remaja.
PENGUATAN KAPASITAS PETUGAS LAPANGAN DALAM COPING STRATEGIK HIV/AIDS Sri Handayani; Emira Apriyeni; Gusliani Eka Putri; Rifda Wahyuni; Inge Angelia
JURNAL ABDI MERCUSUAR Vol 6 No 1 (2026): JURNAL ABDI MERCUSUAR
Publisher : LPPM Universitas MERCUBAKTIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36984/t7wjtm48

Abstract

Latar Belakang: HIV/AIDS tetap menjadi tantangan besar di Indonesia dengan lebih dari 503.000 ODHA dan peningkatan signifikan kasus anak dengan HIV setiap tahunnya. Petugas lapangan berperan penting dalam skrining, edukasi, dan pendampingan ODHA, namun mereka rentan terhadap stres akibat beban kerja, stigma sosial, dan keterbatasan dukungan. Berbagai studi menunjukkan bahwa kemampuan coping strategik seperti problem-solving, dukungan sosial, mindfulness, dan self-compassion efektif mengurangi stres dibanding strategi negatif seperti penghindaran. Penguatan kapasitas petugas dalam coping tidak hanya meningkatkan ketahanan mental, tetapi juga kualitas layanan. Tujuan kegiatan ini Adalah untuk meningkatkan kapasistas petugas lapangan dalam coping strategis HIV/AIDS. Metode: Kegiatan dilakukan dalam bentuk pemberian edukasi kepada petugas lapangan. Kegiatan pengabdian dilakukan di Yayasan Akbar pada  tanggal 12 Juli 2025. Dihadiri oleh 10 orang petugas lapangan. Hasil: Hasil pengabdian masyarakat menunjukan bahwa pelatihan coping strategik meningkatkan pemahaman peserta secara signifikan, dari skor rata-rata 60 menjadi 97. Ini menegaskan pentingnya intervensi pelatihan berbasis psikososial dan dukungan kelembagaan yang berkelanjutan bagi petugas lapangan dalam menghadapi tantangan kerja dan mendampingi ODHA secara efektif.
Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Layanan VCT pada Wanita Kelompok Berisiko HIV/AIDS Sri Handayani; Emira Apriyeni; Herman Susilo
Jurnal Bidan Komunitas Vol 9, No 2 (2026): EDISI MEI
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jbk.v9i2.6658

Abstract

Pendahuluan: Program VCT berjalan belum optimal. Kujungan VCT hanya 69% (351.378) orang dengan HIV (ODHIV) yang mengetahui statusnya dan 43% yang melakukan pengobatan ARV. Angka kejadian kasus baru HIV pada tahun 2023 sebanyak 17.121 kasus dan 2024 sebanyak 35.415 kasus. Tujuan: Untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan pemanfaatakan layanan VCT pada Wanita Kelompok Berisiko HIV/AIDS. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian crossectional.. Penelitian dilakukan di Provinsi Sumatera Barat. Populasi penelitian ini adalah kelompok berisiko HIV yang tercatat/terjaring di Yayasan Akbar tahun 2025 berjumlah 625 orang. Sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus lameshow sehingga diperoleh jumlah sampel . Teknik pengambilan sampel yaitu accidental random sampling. Hasil: Sebagian besar responden tidak memanfaatkan layanan (57,9%), 41,4% menilai kualitas layanan masih rendah, responden yang memiliki pengetahuan rendah (42,8%) dan memiliki sikap negatif sebanyak 39,3%, pada aspek dukungan sosial sebesar 42,8% responden lainnya tidak mendapatkan dukungan sosial, responden masih mengalami stigma dan diskriminasi (57,9%), sedangkan responden yang tidak mengalaminya sebanyak 42,1% dan akses layanan sebagian besar (69,0%) menyatakan tidak baik layanan. Terdapat hubungan akses (p=0,018), kualitas layanan (p=0,006), pengetahuan (p=0,004), sikap (p=0,017), dukungan sosial (p=0,004), serta stigma dan diskriminasi (p=0,018) terhadap pemanfaatan layanan HIV/AIDS. Kesimpulan: Terdapat hubungan akses, kualitas layanan, pengetahuan, sikap, dukungan sosial, serta stigma dan diskriminasi terhadap pemanfaatan layanan HIV/AIDS.
PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK TERHADAP KEMAMPUAN KLIEN MENGONTROL HALUSINASI Dwi Christina Rahayuningrum; Emira Apriyeni; Helena Patricia
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 8, No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : STIKES Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v8i1.3099

Abstract

ABSTRAK  Penderita skizofrenia meningkat setiap tahunnya diperkirakan 2-3% diantaranya mengalami halusinasi dengan gejala mengalami kehilangan kontrol dalam diri yang ditandai dengan panik dan perilakunya sulit untuk dikendalikan. Untuk memperkecil dampak yang ditimbulkan perlu dilakukan penanganan salah satunya dengan terapi aktifitas kelompok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh terapi aktifitas kelompok terhadap kemampuan klien mengontrol halusinasi di Yayasan Pelita Jiwa Insani Kota Padang. Desain penelitian quasi eksperimental one group pre post test design. Penelitian dilaksanakan di Yayasan Pelita Jiwa Insani dengan populasi seluruh klien gangguan jiwa yang mengalami halusinasi di Yayasan Pelita Jiwa Insani berjumlah 87 orang, teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling dengan kriteria inklusi klien berjenis kelamin laki-laki dan menjalani rehabilitasi minimal 2 bulan dengan diagnosa halusinasi yang berjumlah 10 orang. Hasil penelitian menunjukkan. rata-rata kemampuan responden mengontrol halusinasi sebelum dilakukan terapi aktivitas kelompok adalah 8.3 dan rata-rata kemampuan responden mengontrol halusinasi sebelum dilakukan terapi aktivitas kelompok adalah 12.3. Hasil uji statistik Paired T-test terdapat pengaruh yang signifikan antara pemberian terapi aktivitas kelompok dengan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi p-value = 0,000. Disarankan perawat petugas di Yayasan dapat melaksanakan Terapi Aktivitas Kelompok secara rutin kepada pasien yang mengalami halusinasi. Kata Kunci : Halusinasi,; Terapi Aktivitas Kelompok; Skizofrenia; Rehabilitasi  ABSTRACTSchizophrenia sufferers increase every year, an estimated 2-3% of whom experience hallucinations with symptoms of loss of self-control, characterized by panic and behavior that is difficult to control. To minimize the impact, treatment needs to be done, one of which is group activity therapy. The aim of this research was to determine the effect of group activity therapy on clients' ability to control hallucinations at the Pelita Jiwa Insani Foundation, Padang City. Quasi experimental research design, one group pre post test design. The research was carried out at the Pelita Jiwa Insani Foundation with a population of all clients with mental disorders who experienced hallucinations at the Pelita Jiwa Insani Foundation totaling 87 people, the sampling technique was purposive sampling with the inclusion criteria of clients being male and undergoing rehabilitation for at least 2 months with a diagnosis of hallucinations. totaling 10 people. The research results show. The average ability of respondents to control hallucinations before group activity therapy was 8.3 and the average ability of respondents to control hallucinations before group activity therapy was 12.3. The results of the Paired T-test statistical test showed a significant influence between the provision of group activity therapy and the patient's ability to control hallucinations, p-value = 0.000. It is recommended that nurse staff at the Foundation carry out Group Activity Therapy regularly for patients who experience hallucinations. Keywords: Hallucinations; Group Activity Therapy; Schizophrenia; Rehabilitation
PENINGKATAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG KECERDASAN EMOSIONAL Dwi Christina Rahayuningrum; Helena Patricia; Emira Apriyeni
Jurnal Abdimas Saintika Vol 7, No 2 (2025): November Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v7i2.30632

Abstract

ABSTRAK Perilaku menyimpang yang terjadi dikalangan remaja disebabkan belum matangnya emosi remaja sehingga mudah terpengaruh dengan lingkungan. Upaya mengembangkan emosi remaja agar berkembang ke arah kecerdasan emosional dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman tentang kecerdasan emosional yang baik pada remaja melalui pendidikan kesehatan, layanan konseling serta pelatihan emosi.. Tujuan dari kegiatan ini meningkatkan pengetahuan remaja tentang kecerdasan emosional. Kegiatan ini dilakukan di SMKN 1 Padang. Kegiatan ini diawali dengan memberikan pertanyaan seputar pengetahuan remaja mengenai fenomena kenakalan remaja. Dilanjutkan dengan memberikan materi menggunakan power point dan memberikan leaflet. Semua remaja antusias dalam mengikuti kegiatan ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang mereka ajukan. Kegiatan ini efektif dilakukan dalam peningkatan pengetahuan remaja dimana terlihat adanya peningkatan remaja sebelum dan sesudah mendapatkan penyuluhan yang terlihat dari kuesioner pre dan post test yaitu sebesar 9,80 point. Kegiatan ini merupakan langkah awal untuk memberikan pemahaman kepada remaja mengenai kecerdasan emosionalKata Kunci : kecerdasan emosional, remaja, perilaku menyimpang, kenakalan remaja   ABSTRACT Deviant behavior among adolescents is caused by their immature emotions, making them easily influenced by their environment. Efforts to develop adolescents' emotions toward emotional intelligence can be achieved by providing them with a good understanding of emotional intelligence through health education, counseling services, and emotional training. The purpose of this activity is to increase adolescents' knowledge of emotional intelligence. This activity was conducted at SMKN 1 Padang. The activity began with questions about adolescents' knowledge of the phenomenon of juvenile delinquency. This was followed by a presentation using PowerPoint and leaflets. All adolescents were enthusiastic about participating in this activity, as evidenced by the numerous questions they asked. This activity was effective in increasing adolescents' knowledge, as evidenced by the increase in adolescents' scores before and after receiving counseling, as evidenced by the pre- and post-test questionnaires, which amounted to 9.80 points. This activity is the first step in providing adolescents with an understanding of emotional intelligence.Keywords: emotional intelligence, adolescents, deviant behavior, juvenile delinquency