Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tawakkal Dalam Al-Qur’an Sebagai Landasan Etika Bisnis Islam St Harbiah; Achmad Abubakar; Sohra Sohra
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 2 (2026): Maret - Juni
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i2.9385

Abstract

Tawakkal merupakan konsep penting dalam Al-Qur’an yang sering disalahpahami sebagai sikap pasif, padahal ajaran Islam menempatkannya sebagai kesadaran spiritual yang berjalan bersama ikhtiar. Penelitian ini bertujuan mengkaji tawakkal sebagai landasan etika bisnis Islam dan menjelaskan relevansinya dalam perilaku ekonomi Muslim kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis kajian kepustakaan. Analisis dilakukan melalui metode tafsir tematik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat makna tawakkal, kemudian dikaitkan dengan literatur etika bisnis Islam, konsep kasb, nilai tauhid, serta prinsip moral dalam aktivitas ekonomi. Data diperoleh dari sumber primer berupa ayat-ayat Al-Qur’an dan sumber sekunder berupa kitab tafsir, buku, serta artikel ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa tawakkal tidak meniadakan usaha, melainkan mengarahkan manusia untuk bekerja secara sungguh-sungguh, mengambil keputusan secara rasional, dan menyerahkan hasil akhir kepada Allah. Dalam konteks bisnis Islam, tawakkal berfungsi sebagai fondasi moral yang membentuk kejujuran, amanah, kesabaran, keberanian menghadapi risiko, dan kepatuhan terhadap prinsip halal. Tawakkal juga menjaga orientasi pelaku usaha agar tidak semata-mata mengejar keuntungan material, tetapi tetap mempertimbangkan keberkahan, tanggung jawab sosial, dan kemaslahatan. Pembahasan ini menegaskan bahwa integrasi antara ikhtiar dan tawakkal dapat memperkuat etos kerja, kestabilan psikologis, dan ketahanan etis pelaku bisnis dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Kesimpulannya, tawakkal merupakan prinsip spiritual sekaligus etis yang relevan bagi pengembangan etika bisnis Islam. Implikasi penelitian ini mendorong penguatan nilai religius dalam pendidikan, praktik kewirausahaan, dan pengambilan keputusan ekonomi Muslim.
China-Iran relations and China's stance on the Palestinian issue in the geopolitics of the Middle East Lydia Megawati; Sohra Sohra; Syahidah Rahmah; Emi Sri Rahayu Fatimah
Referensi Islamika: Jurnal Studi Islam Vol. 4 No. 4 (2026): AUGUST
Publisher : Academic Bright Collaboration

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66053/ri.v4i4.454

Abstract

This study examines how the historical continuity of China-Iran relations since the Silk Road era is mobilized in China's contemporary Middle East policy, and how it relates to China's stance on Palestine, using realism, energy geopolitics, and hedging theory as an integrated framework. Using Qualitative historical research based on a corpus of 34 primary and secondary sources (2015-2026, with classical Silk Road sources as an exception), analyzed through heuristic, source-criticism, interpretive, and historiographic stages. China-Iran relations, rooted in Silk Road era exchange, evolved into a partnership anchored in energy interdependence: China absorbs an estimated 80-90% of Iran's oil exports and anchors the 2021 25-year cooperation agreement, while withholding explicit political and security commitments an asymmetric hedging pattern that grows structurally harder to sustain as dependence deepens. China's Palestine stance follows a parallel logic: consistent normative rhetoric and repeated UN votes favoring an immediate Gaza ceasefire are unmatched by material intervention, indicating calculative diplomacy and selective geopolitical posture rather than ideological solidarity. The study connects Islamic civilizational history with geopolitical analysis. It relies on documentary and secondary sources rather than diplomatic interviews or systematic trade/voting datasets, which future research should incorporate. This is the first study to place China-Iran relations and China's Palestine policy within a single hedging framework, showing both are expressions of the same selective legitimacy logic.