Halimah Basri
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KUNCI TAUBAT MELALUI TAZKIYATUN NAFS Kajian Tafsir Qs An-Nisa/4:17-18 Asnita Asnita; Halimah Basri; Andi Miswar
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taubat ditandai dengan penyesalan dengan sepenuh hati atas kesalahan yang telah berlalu, memohon ampun dengan lisan, menghentikan kemaksiatan dari badan, bertekad untuk tidak mengulang kesalahan dengan cara menyucikan diri dengan sebenar-benarnya. Taubat menjadikan seseorang membersihkan jiwanya dari sifat-sifat buruk menuju kesadaran yang diperintahkan ilahiah yang lebih tinggi. Langkah ini menjadi jembatan dalam menyucikan diri manusia agar mencapai derajat ihsan (moral) dan ketenangan batin. Dengan demikian, taubat menjadi inti dari proses tazkiyatun nafs, yakni jalan menuju pembentukan akhlak kepribadian yang bersih, beriman, suci dari kesalahan, dan berakhlak mulia sesuai dengan ajaran petunjuk dalam al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui arti taubat dalam perspektif al-Qur’an kaitannya dengan tazkiyatun nafs, 2) Mendeskripsikan gambaran taubat dalam perspektif al-Qur’an dan 3) Mengetahui syarat-syarat diterimanya taubat dalam perspektif al-Qur’an kaitannya dengan tazkiyatun nafs. Jenis penilitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui metode analisis tafsir tematik terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang sejalan dengan taubat yakni QS al-Nisa [4]:17-18. Hasil kajian memberikan petunjuk bahwa taubat dalam al-Qur’an bukan hanya dipahami sebagai penyesalan, kembali dari jalan yang sesat, menghentikan kemaksiatan, dan permohonan ampun, tetapi merupakan mekanisme penyucian diri dari dosa yang diperbuat dan spiritual agar lebih dekat dengan sang khalik.Repentance is characterized by wholehearted repentance for past sins, asking for forgiveness verbally, stopping wickedness from the body, determination not to repeat the mistake by truly purifying oneself. Repentance makes one cleanse his soul of evil qualities towards a higher divinely commanded consciousness. This step is a bridge in purifying human beings in order to achieve the degree of ihsan (moral) and inner peace. Thus, repentance is the core of the process of tazkiyatun nafs, which is the path to the formation of a personality that is clean, faithful, pure from error, and noble character in accordance with the teachings of the guidance in the Qur'an. This research aims to 1) Know the meaning of repentance in the perspective of the Qur'an in relation to tazkiyatun nafs, 2) Describe the picture of repentance in the perspective of the Qur'an and 3) Know the conditions of receiving repentance in the perspective of the Qur'an in relation to tazkiyatun nafs. This type of research uses a descriptive qualitative approach through the method of thematic interpretation analysis of Qur'anic verses that are in line with repentance, namely QS al-Nisa [4]:17-18. The results of the study indicate that repentance in the Qur'an is not only understood as repentance, returning from a stray path, stopping disobedience, and asking for forgiveness, but is a mechanism of self-purification from sins committed and spiritually to be closer to the khalik.
Etos Kerja Qur’ani sebagai Landasan Pendidikan Karakter Islam: Analisis Konseptual QS at-Taubah [9]:105 Sumarni; Halimah Basri; Andi Miswar
AT-TAJDID Vol 10 No 1 (2026): JANUARI-JUNI 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter Islam menghadapi tantangan serius dalam mengintegrasikan nilai-nilai keimanan dengan praktik kehidupan nyata, khususnya dalam membangun etos kerja peserta didik. Banyak praktik pendidikan masih menekankan aspek kognitif dan ritual, sementara dimensi kerja sebagai ekspresi iman belum mendapatkan perhatian konseptual yang memadai. Artikel ini bertujuan menganalisis konsep etos kerja Qur’ani sebagai landasan pendidikan karakter Islam melalui kajian konseptual terhadap QS at-Taubah [9]:105. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data dianalisis melalui pembacaan konseptual terhadap ayat Al-Qur’an dan literatur keislaman yang relevan untuk merumuskan prinsip-prinsip etos kerja Qur’ani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etos kerja dalam perspektif Al-Qur’an tidak dipahami semata sebagai aktivitas ekonomi, melainkan sebagai amal bermakna yang mengintegrasikan iman, tanggung jawab moral, dan akuntabilitas sosial. Temuan ini menegaskan bahwa kerja dapat dijadikan sebagai medium pedagogis dalam pendidikan karakter Islam untuk membentuk pribadi yang berintegritas, bertanggung jawab, dan berorientasi pada nilai-nilai spiritual. Artikel ini berkontribusi pada penguatan kerangka konseptual pendidikan karakter Islam berbasis nilai-nilai Qur’ani yang relevan dengan tantangan pendidikan kontemporer. Islamic character education faces significant challenges in integrating religious values with practical life skills, particularly in cultivating students’ work ethics. Educational practices often emphasize cognitive achievement and ritual observance, while the role of work as an expression of faith receives limited conceptual attention. This article aims to analyze the concept of Qur’anic work ethic as a foundation for Islamic character education through a conceptual study of Q.S. at-Taubah [9]:105. This study employs a qualitative approach with library research as its research design. The data are analyzed through a conceptual reading of Qur’anic verses and relevant Islamic literature to formulate the principles of Qur’anic work ethics. The findings reveal that work in the Qur’anic perspective is not merely an economic activity, but a meaningful action that integrates faith, moral responsibility, and social accountability. These findings indicate that work can function as a pedagogical medium in Islamic character education to develop integrity, responsibility, and spiritual awareness. This study contributes to strengthening the conceptual framework of Qur’an-based Islamic character education in response to contemporary educational challenges
Otoritas Epistemik Tafsir Sahabat dalam Studi Ulūm al-Qur’ān: Analisis Sumber dan Kehujahan Mursalin Mursalin; Halimah Basri; Amir Hamzah
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 7 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v7i1.944

Abstract

Perdebatan mengenai keabsahan penafsiran sahabat tetap menjadi isu sentral dalam kajian ‘Ulūm al-Qur’an, khususnya pada titik temu antara perspektif tradisional yang mutlak dengan metode analitis kontemporer. Situasi ini memerlukan konstruksi epistemik yang tegas agar tafsir sahabat dapat diposisikan secara seimbang. Metodologi penelitian ini menggunakan kualitatif berbasis kajian literatur dengan kerangka ilmiah yang runtut, melalui penelusuran sumber pokok berupa kitab ‘Ulūm al-Qur’an dan bahan sekunder yang berkaitan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan definisi tafsir sahabat, mengidentifikasi sumber-sumber epistemiknya, serta menganalisis legalitas dan tingkat kehujahannya dalam tradisi tafsir. Hasil riset menunjukkan bahwa tafsir sahabat tergolong tafsīr bi al-ma’tsūr yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis, ijtihad, serta dalam kadar tertentu riwayat ahli kitab. Dari segi kehujahan, tafsir sahabat terbagi menjadi marfū‘ yang bersifat otoritatif dan wajib diterima, serta mauqūf yang bersifat ijtihādī dan menjadi objek perbedaan pendapat. Otoritas tafsir sahabat dengan demikian tidak bersifat mutlak, melainkan kontekstual. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan kritis-proporsional dalam penggunaan tafsir sahabat, sekaligus menawarkan kerangka epistemologis yang lebih sistematis sebagai jembatan antara pendekatan tradisional dan modern dalam studi tafsir.