Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN TIME CAPSULE BERBASIS AI PADA MATERI PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA DI SMAN 1 INDRALAYA UTARA Fatimah Alauwiyah; Sani Safitri; Muhammad Reza Pahlevi
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 7, No 2 (2026): JUNI
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v7i2.22170

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan mendasar dalam pengembangan media pembelajaran TIME CAPSULE pada topik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di SMA Negeri 1 Indralaya Utara. Hal ini menanggapi keterbatasan penggunaan media digital interaktif dan imersif dalam pendidikan sejarah dan meningkatnya permintaan akan sumber daya terintegrasi teknologi yang selaras dengan karakteristik pembelajar digital. Penelitian ini menggunakan kerangka kerja Penelitian dan Pengembangan (R&D), berfokus pada tahap analisis kebutuhan berdasarkan model Alessi dan Trollip, dan mengadopsi pendekatan metode campuran yang menggabungkan data kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data melibatkan observasi kelas, wawancara semi-terstruktur dengan guru sejarah, dan kuesioner yang dibagikan kepada 68 siswa kelas sebelas. Instrumen tersebut mengukur sembilan dimensi: aspek pedagogis, teknis, kognitif, estetika, material, sosial-budaya, evaluasi, teknologi bantu, dan motivasi-kenyamanan. Data kualitatif dianalisis menggunakan kerangka kerja Miles dan Huberman, sedangkan data kuantitatif diproses secara deskriptif melalui analisis persentase. Temuan menunjukkan bahwa siswa menunjukkan tingkat kesiapan yang tinggi untuk pembelajaran berbasis teknologi, khususnya dalam aspek teknis (91,55%), pedagogis (88,67%), kognitif (83,69%), estetika (80,82%), dan material (77,71%), yang mengindikasikan preferensi yang kuat terhadap media visual, interaktif, dan imersif. Namun, motivasi dan kenyamanan berada pada tingkat moderat, menunjukkan bahwa desain yang efektif harus menyeimbangkan kecanggihan teknologi dengan keterlibatan emosional. Karena penelitian ini terbatas pada satu konteks, penelitian lebih lanjut disarankan untuk memajukan tahap pengembangan, validasi, dan pengujian eksperimental.
Optimizing the Role of TWKS Museum as A History-Based Educational Tourism Site in South Sumatra Tomy Wijaya; Fatimah Alauwiyah; Muhammad Reza Pahlevi; Hudaidah Hudaidah; Alif Bahtiar Pamulaan
Journal of General Education and Humanities Vol. 4 No. 4 (2025): November
Publisher : MASI Mandiri Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58421/gehu.v4i4.746

Abstract

This study examines the use of the Taman Wisata Kerajaan Sriwijaya Museum (TWKS) as a history-oriented educational tourist site in South Sumatra. Notwithstanding its significant cultural and educational potential, TWKS has not been effectively leveraged as a learning resource or historical tourist destination. This study employed a descriptive qualitative methodology, including observations, interviews with 12 participants (museum staff, educators, and visitors), and documentation. The data analysis was conducted using Miles and Huberman's interactive model, which included data reduction, presentation, and verification. The findings identify three primary impediments: constrained digital innovation, insufficient institutional collaboration, and minimal public advocacy, which obstruct TWKS's role as a hub for education and cultural tourism. This museum has the potential to evolve into a vibrant learning environment that links historical knowledge with modern educational experiences. This study advocates for the revitalization of TWKS through digital transformation, enhanced academic partnerships, and the creation of interactive programs. This study enhances the dialogue on cultural heritage management by proposing digital and institutional revitalization strategies to achieve sustainable educational tourism and to reinforce museums' role in fostering historical literacy and local identity formation.