Muhammad Muhammad
Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Al-Banna Aceh

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kontribusi Kitab Taisīr Al-Khallāq Terhadap Pembentukan Karakter Santri di SMP IT Al-Markazul Islami Ibrahim; Muhammad; Tajussubki
Al-Qawānīn: Jurnal Ilmu Hukum, Syariah, dan Pengkajian Islam Vol. 1 No. 1 (2024): Pernikahan, Muamalah, dan Akhlak
Publisher : Pusat Studi Hukum Islam (PSHI) YPI Shafal 'Ulum Al-Aziziyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70193/alqawanin.v1i1.04

Abstract

Salah satu tempat pendidikan yang menjadikan pendidikan akhlaq sebagai kurikulum wajib yaitu SMP Al-Markazul Islami. Untuk mewujudkan misi sekolah dalam mencetak generasi yang berkepribadian dan berakhlakul karimah, maka diwujudkan dalam bentuk pembelajaran melalui mata pelajaran akidah akhlak dalam setiap tingkatan kurikulum pendidikannya. Melalui Kitab Taisīr al-Khallāq diharapakan dapat memberikan kontribusi bagi siswa dalam memperbaiki akhlak mereka. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian  kualitatif dengan tipe deskritif analisis. Nilai-nilai pendidikan akhlak dalam Taisīr Al-Khallāq, adalah seorang murid di saat menuntut maka ia terlebih dulu harus memiliki akhlak kepada Allah, akhlak dalam pembelajaran, akhlak murid dalam belajar, akhlak kepada orang tua, akhlak terhadap saudara, akhlak dalam bertetangga, dan akhlak dalam bergaul. Kontribusi Kitab Taisīru Al-Khallāq terhadap pembentukan karakter Santri di SMP Al-Markazul Islami adalah perubahan akhlak santri dalam bergaul. Diantaranya akhlak mereka dengan Allah seperti semakin meningkatnya ibadah-ibadah yang mereka kerjakan, akhlak dengan guru dan orang tua dengan semakin sopannya mereka ketika berhadapan dengan guru dan orang tua. Kontribusi lainya adalah memudahkan bagi guru di SMP IT Al-Markazul Islami dalam membentuk karakter santri yang islami.
Ethical Values in Narit Maja as Teaching Material for Pancasila and Civic Education (PPKn) to Develop Students’ Character Herawati, Cut; Muksalmina, Muksalmina; Muhammad, Muhammad; Chairullah, Muhammad; Yulis, Sari; Furqan, Muhammad
Indonesian Journal of Education Methods Development Vol. 21 No. 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/ijemd.v21i1.1004

Abstract

General Background Character education is a core mandate of Indonesia’s national education system, yet classroom practices often prioritize cognitive achievement over value internalization. Specific Background In Pancasila and Civic Education learning, especially in Lhokseumawe City, teaching remains largely normative and theoretical, with limited integration of students’ socio-cultural realities. Knowledge Gap Although Acehnese local wisdom contains rich ethical teachings, Narit Maja as an oral tradition has not been systematically utilized as contextual teaching material in Civic Education. Aims This study aims to explore the ethical values embedded in Narit Maja and examine their relevance for integration into Pancasila and Civic Education learning. Results Using a descriptive qualitative ethnopedagogical approach, the study identifies values of honesty, deliberation, mutual cooperation, responsibility, and patriotism within Narit Maja that align with the dimensions of the Pancasila Student Profile. The findings also reveal structural and practical challenges, including limited regulations, insufficient documented materials, and institutional sectoral constraints, while highlighting digitalization as a strategic pathway. Novelty This study positions Narit Maja as a culturally grounded source of Civic Education content that bridges national curriculum objectives with Acehnese socio-cultural contexts. Implications Integrating Narit Maja into Civic Education supports contextual character formation, strengthens students’ cultural identity, and offers a sustainable approach to aligning national character education with local wisdom in Lhokseumawe City. Highlights: Acehnese oral expressions contain structured ethical principles aligned with national character frameworks. Contextual learning rooted in local culture addresses gaps between normative curriculum and student realities. Digital-based materials provide a feasible pathway for preserving oral traditions in formal schooling contexts. Keywords: Narit Maja, Civic Education, Character Education.
Digital Khitbah Among Muslims: The Legality and Ethical Challenge of Engagement Via Social Media Muhammad Rudi Syahputra; Tasrizal Tasrizal; Muksalmina Muksalmina; Muhammad Muhammad; Khairul Amri Ismail
QONUN: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-undangan Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : FASYA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/qj.v10i1.12666

Abstract

This article explores the legal status of khitbah (engagement) conducted through social media platforms, particularly Facebook, in light of Shafi”˜i jurisprudence. In classical Islamic law, khitbah represents a preliminary stage of marriage, intended to establish mutual understanding and commitment prior to the solemnization of the marriage contract (”˜aqd al-nikāḥ). Traditionally, this practice has been carried out in face-to-face settings, mediated by families and community norms. However, the rapid development of communication technology has reconfigured modes of social interaction among Muslims, including those related to religiously significant practices such as khitbah. The study employs a qualitative library research approach, drawing upon primary Shafi”˜i fiqh sources such as MughnÄ« al-Muḥtāj (al-Khaá¹­Ä«b al-ShirbÄ«nÄ«), I”˜Änat al-ṬālibÄ«n (al-Shaṭā), and al-Fiqh al-IslāmÄ« wa Adillatuh (al-ZuḥaylÄ«), alongside contemporary scholarly debates in Islamic family law and digital communication studies. The findings demonstrate that a khitbah performed through social media is legally valid, since the principle al-kitābah ka-l-khiṭāb that written communication is equivalent to spoken communication is well established in Islamic jurisprudence. Thus, proposals made through text messages, social media posts, or digital calls fulfill the requirement of explicit (á¹£arīḥ) or indirect (ta”˜rīḍ) expression of intent. Nonetheless, while the legality of such practice is affirmed, ethical and social concerns remain paramount. The potential for deception, anonymity, and digital intimacy presents significant challenges that demand moral vigilance. Islamic ethics emphasizes safeguarding honor (”˜ird) and preventing harm (dharar), necessitating caution in applying classical rulings to modern contexts. The study concludes that social media-based khitbah reflects the adaptability of Islamic jurisprudence to new technological realities, while also underlining the importance of ethical discipline in digital religious practices.
Kritik Hukum Islam Terhadap Warisan Anak Zina: Analisis Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 Muhammad; Muhammad Rudi Syahputra; Tasrizal
Jurisprudensi: Jurnal Ilmu Hukum Vol. 2 No. 1 (2025): Qanun Jinayat, Penegakan Hukum, dan Praktik Kelembagaan
Publisher : LP3M Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Al-Banna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70193/jurisprudensi.v2i01.03

Abstract

Penelitian ini mengkaji secara kritis hubungan antara hukum Islam dan hukum positif Indonesia dalam pemberian hak waris bagi anak yang lahir di luar pernikahan (anak zina), dengan fokus pada analisis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010. Permasalahan utama yang diangkat adalah ketegangan normatif antara ketentuan fikih yang menafikan hubungan nasab antara anak zina dan ayah biologisnya sehingga menggugurkan hak waris dengan putusan Mahkamah Konstitusiah yang mengakui hak-hak keperdataan anak luar nikah berdasarkan pembuktian ilmiah seperti tes DNA. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan metode studi kepustakaan, melalui telaah terhadap putusan Mahkamah Konstitusi dan sumber-sumber fikih klasik seperti Bidayatul Mujtahid, Mausu’atul Fiqhiyyah, dan Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, serta literatur hukum nasional dan internasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa mayoritas ulama empat mazhab bersepakat anak zina tidak berhak mewarisi dari ayah biologisnya karena tidak adanya hubungan nasab syar’i yang sah, sementara Putusan Mahkamah Konstitusi menekankan perlindungan hak anak dan asas keadilan substantif yang melampaui bentuk formal pernikahan. Putusan tersebut dinilai sebagai upaya progresif dalam menjamin non-diskriminasi terhadap anak, namun juga memunculkan kritik karena dianggap menyentuh ranah tasyri’ ilahi dan berpotensi mengaburkan batas antara pernikahan sah dan hubungan zina. Penelitian ini menyimpulkan bahwa reformulasi hukum yang menyangkut nilai-nilai dasar syariat harus dilakukan secara hati-hati, dengan mempertimbangkan prinsip keadilan ilahiah dan maqashid al-syari’ah.