Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGGUNAAN BAHASA GAUL DI LINGKUNGAN SISWA SMP MIFTAHUL ULUM Juanda Juanda; Dwi Isma Septiriani; Nunung Supratmi; Arini Noor Izzati; Refisa Ananda
Jurnal Riset Kajian Teknologi dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Riset Kajian Teknologi dan Lingkungan
Publisher : LPPM Universitas Samawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58406/jrktl.v9i1.2370

Abstract

Riset ini bertujuan untuk memotret penggunaan bahasa kekinian atau bahasa gaul di kalangan siswa SMP Miftahul Ulum. Penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja berkembang pesat karena dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan, media sosial, dan budaya populer. Bahasa gaul tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi sehari-hari, tetapi juga menjadi bentuk ekspresi diri dan simbol kedekatan antarteman sebaya. Selain itu, penggunaan bahasa gaul dianggap mampu menyederhanakan penyampaian pesan sehingga komunikasi menjadi lebih santai dan mudah dipahami. Berdasarkan tujuan penelitian tersebut, metode kualitatif digunakan karena data yang dikumpulkan berupa tuturan siswa dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk melihat secara langsung penggunaan bahasa gaul di lingkungan sekolah, sedangkan wawancara digunakan untuk mengetahui alasan dan bentuk penggunaan bahasa gaul oleh siswa. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Miftahul Ulum dengan subjek penelitian sebanyak 12 siswa kelas VII. Teknik analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa gaul sering digunakan siswa dalam interaksi sehari-hari dan memiliki fungsi sosial dalam membangun keakraban antarsiswa. Penggunaan bahasa gaul umumnya terjadi dalam situasi informal, meskipun beberapa siswa masih menggunakannya saat proses pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, guru memiliki peran penting dalam membina penggunaan bahasa yang baik dan sesuai dengan situasi komunikasi.
FASILITASI ANALISIS LINGUISTIK FORENSIK BAHASA SAMAWA DALAM MENDUKUNG PEMBUKTIAN PERKARA TINDAK PIDANA NARKOTIKA DI KABUPATEN SUMBAWA Juanda Juanda; Sri Sugiarto; Nur Ifansyah; Endra Syaifuddin
KARYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6 No 2 (2026): KARYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : FKIP Universitas Samawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa memegang peranan strategis dalam proses pembuktian hukum, khususnya dalam perkara yang menggunakan komunikasi digital sebagai sumber alat bukti. Dalam masyarakat multibahasa seperti Indonesia, penggunaan bahasa daerah dalam komunikasi elektronik sering kali menimbulkan tantangan interpretatif bagi aparat penegak hukum. Oleh karena itu, kegiatan pendampingan ini bertujuan memberikan bantuan keahlian bahasa Sumbawa kepada penyidik dalam menafsirkan dan menganalisis percakapan berbahasa daerah yang digunakan sebagai alat bukti dalam tindak pidana narkotika. Kegiatan ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu identifikasi data kebahasaan, penerjemahan percakapan dari bahasa Sumbawa ke dalam bahasa Indonesia, analisis semantik dan pragmatik, analisis konteks komunikasi, serta penyusunan keterangan ahli berdasarkan pendekatan linguistik forensik. Pendekatan tersebut digunakan untuk mengungkap makna eksplisit maupun implisit yang terkandung dalam tuturan para pihak yang terlibat dalam percakapan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa analisis linguistik forensik mampu menjelaskan hubungan antarpartisipan, pola komunikasi, tujuan interaksi, serta indikasi koordinasi yang berkaitan dengan pelaksanaan tindak pidana. Selain itu, keterlibatan ahli bahasa memberikan kontribusi yang signifikan dalam menjelaskan konteks sosial dan budaya yang melatarbelakangi penggunaan bahasa daerah, sehingga dapat meminimalkan potensi kesalahpahaman dalam penafsiran bukti digital. Temuan ini menunjukkan bahwa linguistik forensik tidak hanya berfungsi sebagai instrumen ilmiah untuk mengungkap makna kebahasaan, tetapi juga sebagai mekanisme pendukung yang efektif dalam meningkatkan kualitas penyidikan dan pembuktian pidana. Oleh karena itu, kolaborasi antara kalangan akademisi dan aparat penegak hukum perlu terus diperkuat guna mengoptimalkan pemanfaatan keahlian bahasa daerah dalam sistem peradilan pidana.
ANALISIS PEMBENTUKAN BAHASA GAUL MASYARAKAT SUMBAWA PADA MEDIA SOSIAL FACEBOOK Lira Talia; Juanda Juanda; Riadi Suhendra
Jurnal Kependidikan Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Kependidikan
Publisher : FKIP Universitas Samawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) pembentukan bahasa gaul masyarakat Sumbawa pada media sosial Facebook. (2) makna kosakata bahasa gaul masyarakat Sumbawa yang terdapat pada media sosial Facebook. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengaan pendekatan deskriptif. Setting penelitian dilakukan pada laman postingan, caption dan kolom komentar pada media sosial Facebook. Data di dalam penelitian yaitu kumpulan kosa kata bahasa gaul. Sumber data dalam penelitan adalah 20 akun media sosial Facebook yang digunakan oleh masyarakat Sumbawa. Teknik dan istrumen pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Teknik analisis data melalui empat tahapan yakni: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Selanjutnya, data diperivikasi dengan uji konvirmabilitas. Adapun hasil adalah:(1) Pembentukan bahasa gaul masyarakat Sumbawa pada media sosial Facebook berdasarkan kajian morfologis yaitu, komposisi sebanyak 5 data, penyingkatan atau pemendekan kata terdapat 5 data, konversi terdapat 1 data, dan 3 data dengan pola tetap menghasilkan interpretasi makna yang luas. (2) makna kosakata bahasa gaul masyarakat Sumbawa pada media sosial Facebook yaitu makna leksikal dan makna gramatikal. Jadi, data frekuensi kemunculan bahasa gaul komposisi lebih dominan, sementara akronimisasi muncul dengan frekuensi terendah.