Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PENGARUH PARAMETER KEMIRINGAN NAF TERHADAP PENANGANAN AIR ASAM TAMBANG PADA SKALA LABORATORIUM Bantar Tyas Sukmawati Rukmana; Aris Winarso; Edy Nursanto
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan Pendekatan Multidisiplin Menuju Teknologi dan Industri yang Berkelanjutan
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air asam tambang merupakan air limpasan dari daerah tambang yang terbentuk akibat oksidasi mineral-mineral sulfida yang menghasilkan asam sulfat. Terbentuknya air asam tambang merupakan permasalahan serius bagi perusahaan - perusahaan yang berwawasan lingkungan. Hal ini disebabkan karena air asam tambang sangat berpengaruh pada kondisi lingkungannya yaitu menurunnya kualitas air permukaan, air tanah, biota perairan dan masyarakat. Oleh karena itu perlu penanganan air asam tambang, salah satunya adalah percobaan simulasi pencegahan air asam tambang pada skala laboratorium untuk mengetahui pengaruh kemiringan NAF terhadap air lindian yang dihasilkan dan dosis kapur efektif untuk menetralkan air asam tambang. Simulasi ini menggunakan kemiringan NAF yang berbeda-beda yaitu 150, 200, dan 250. Hasil simulasi ini berupa data pH air lindian dan dosis kapur tohor yang kemudian akan dianalisis dengan menggunakan metode statistika. Dari data tersebut didapatkan bahwa dengan menggunakan kemiringan NAF 150 lebih efektif dalam menghambat pembentukan air asam tambang dibandingkan kemiringan NAF yang lain.
Penanganan Air Asam Tambang Pada Skala Laboratorium Dengan Menggunakan Kapur Tohor Berdasarkan Parameter Ketebalan NAF Bantar Tyas Sukmawati Rukmana
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada kegiatan pertambangan batubara baik tambang terbuka maupun tambang bawah tanah akan menghasilkan air buangan yang bersifat asam yang disebut air asam tambang. Air asam tambang terbentuk sebagai hasil oksidasi mineral sulfida tertentu yang terkandung dalam batuan oleh oksigen di udara pada lingkungan berair. Air asam tambang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan yaitu menurunnya kualitas air tanah, air permukaan dan masyarakat yang sekitar tinggal di daerah aliran sungai. Oleh karena itu, perlu upaya penanganan dan pengendalian air asam tambang, salah satunya adalah percobaan simulasi penanganan air asam tambang pada skala laboratorium untuk mengetahui pengaruh ketebalan NAF terhadap air lindian yang dihasilkan dan dosis kapur tohor yang diperlukan untuk menetralkannya. Pengumpulan data berasal dari data pH yang dihasilkan oleh setiap simulasi yang dilakukan kemudian akan dianalisis dengan menggunakan statistika untuk mendapatkan hubungan antara keduanya. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan melapisi material PAF dengan material NAF akan menghambat pembentukan air asam tambang dimana pH air lindian yang dihasilkan cenderung naik dibandingkan perlakuan yang tidak menggunakan material NAF. Sedangkan untuk simulasi penetralan air asam tambang didapatkan dosis kapur tohor yang efektif untuk masing-masing perlakuan.Kata Kunci: AAT, Kapur tohor, Material PAF, Material NAF
DESAIN KONSTRUKSI WETLAND UNTUK PENGELOLAAN AIR ASAM TAMBANG DI VOID PASCA TAMBANG BATUBARA Rukmana, Bantar Tyas Suksmawati; Haq, Shofa Rijalul; Lusantono, Oktarian Wisnu
KURVATEK Vol 11 No 1 (2026): Energy Management and Sustainable Environment
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33579/krvtk.v11i1.6136

Abstract

Air asam tambang (AAT) merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang sering dijumpai pada kegiatan pertambangan, termasuk di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Adanya keberadaan AAT dapat menurunkan kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang constructed wetland sebagai solusi pengolahan AAT secara pasif dengan memanfaatkan tanaman Typha sp. dan mikroalga. Metode yang digunakan meliputi karakterisasi geokimia batuan, analisis hidrologi, dan pengujian pilot project dengan menggunakan 5 kompartemen. Hasil uji menunjukkan sebagian besar batuan pada area low wall tergolong pembentuk asam, sedangkan air creek di sekitar void memiliki pH 2–3,5. Hasil uji pilot project memperlihatkan bahwa penggunaan kapur dan pupuk organik pada media tanam dengan Typha sp dapat meningkatkan pH air menjadi 6,91 dan menurunkan logam terlarut hingga di bawah baku mutu, serta memperbaiki kualitas tanah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa lahan basah buatan berpotensi sebagai solusi pasif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan untuk pengelolaan air asam tambang
Analisis Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Perajin Bambu dengan Pendekatan Hazard and Operability Study (HAZOP) Nuzila Putri Al-Bana; Faaza Ihda Fairuza; Bantar Tyas Suksmawati Rukmana
Journal of Industrial and Mechanical Engineering Vol 4 No 1 (2026): Journal of Industrial and Mechanical Engineering
Publisher : Department of Industrial Engineering, Universitas Jenderal Soedirman.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jimien.2026.4.1.20940

Abstract

Industri kerajinan bambu tradisional masih didominasi aktivitas manual, sehingga berisiko menimbulkan kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan akibat kerja. Berbagai potensi bahaya seperti penggunaan alat tajam, paparan serat bambu, dan postur kerja yang tidak ergonomis ditemukan pada proses produksi di unit usaha kerajinan bambu di Cebongan, Sleman. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi risiko kecelakaan kerja dan merumuskan rekomendasi mitigasi pada unit usaha kerajinan bambu tradisional di Cebongan, Sleman. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif studi kasus, penilaian risiko dilakukan secara sistematis melalui metode Hazard and Operability Study (HAZOP) di sepanjang tujuh tahapan proses produksi. Hasil penelitian menunjukan adanya 15 risiko kecelakaan kerja di lingkungan kerja. Berdasarkan temuan tersebut, terdapat 1 risiko berkategori ekstrem, yaitu gangguan pernapasan akibat paparan debu respirabel lignoselulosa pada proses pemotongan. Selain itu, teridentifikasi 6 risiko tinggi yang didominasi oleh ancaman luka sayat alat tajam, pekerja tergelincir akibat akumulasi limbah, serta paparan uap bensin dan potensi kebakaran pada proses pewarnaan. Rekomendasi dirumuskan berdasarkan prinsip hierarki pengendalian risiko yang mencakup engineering control, administrative control, dan penggunaan APD.
MINIMALISASI OVERBREAK DAN UNDERBREAK MELALUI PEMODELAN PREDIKTIF DAN OPTIMASI PELEDAKAN PT FREEPORT INDONESIA Rochsyid Anggara; Bantar Tyas Suksmawati Rukmana; Rayhan Naufal Pratama; Jeffryson Munsaki Rumbewas
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 21 No 3 (2025): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi September 2025
Publisher : Balai Besar Pengujian Mineral dan Batubara tekMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30556/jtmb.Vol21.No3.2025.1719

Abstract

Blasting activities in the development of underground openings at the Kucing Liar (KL) Mine, PT Freeport Indonesia, may cause geometric deviations in the form of overbreak and underbreak. Evaluation of blasting performance in November 2024 indicated that, in several headings, geometric deviations exceeded the company’s tolerance limit of 10%, highlighting the need for blasting parameter optimization. This study aims to control overbreak–underbreak through the development of predictive models based on geotechnical and blasting parameters. Multiple Regression Analysis (MRA) was applied to 53 blasting records using Rock Mass Classification (Q-value), Perimeter Powder Factor (PPF), and Confinement Factor (C) as independent variables. The novelty of this study lies in the integration of multivariate regression models derived from operational data with Monte Carlo simulation to provide probabilistic and practical blasting parameter optimization. The regression models were subsequently used in a Monte Carlo simulation with 5,000 iterations. The results indicate that overbreak is significantly influenced by Q-value, PPF, and Confinement Factor (R² = 0.693), whereas underbreak is predominantly controlled by Q-value (R² = 0.470). Monte Carlo simulation reduced the average overbreak to 7.41% and resulted in an average underbreak of 5.37%, both of which are below the company’s tolerance threshold.