Maria Agustin
Program Studi Budidaya Perairan, Fakultasnya Teknologi Pangan dan Perikanan, Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengaruh Kepadatan Tebar terhadap Kelangsungan Hidup Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Transportasi Sistem Basah Tertutup: Effect of Stocking Density on the Survival of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) Fry during Closed Wet Transportation Hadi Bambang Purnomo; Maria Agustin; Didik Budiyanto
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.108

Abstract

Transportasi sistem basah tertutup merupakan metode yang umum digunakan dalam distribusi benih ikan nila (Oreochromis niloticus), namun peningkatan kepadatan tebar selama pengangkutan dapat menurunkan kualitas media, meningkatkan stres, dan menurunkan kelangsungan hidup benih. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kepadatan tebar terhadap kelangsungan hidup benih ikan nila pada transportasi sistem basah tertutup. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan kepadatan, yaitu 1.000, 1.500, 2.000, dan 2.500 ekor per 5 L air, masing-masing dengan enam ulangan. Benih berukuran 2–3 cm diberok selama 24 jam, kemudian diangkut menggunakan kantong plastik berisi air dan oksigen murni pada rute Kediri–Sidoarjo selama 4 jam 5 menit. Parameter yang diukur meliputi kelangsungan hidup, suhu, pH, oksigen terlarut, dan amonia. Data kelangsungan hidup dianalisis menggunakan analisis sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan tebar berpengaruh sangat nyata terhadap kelangsungan hidup benih ikan nila. Kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada kepadatan 1.000 ekor/5 L sebesar 97,50%, kemudian menurun menjadi 94,50%, 88,67%, dan 81,17% pada kepadatan berturut-turut 1.500, 2.000, dan 2.500 ekor/5 L. Kualitas air selama transportasi masih berada pada kisaran yang dapat ditoleransi, meskipun konsentrasi amonia cenderung meningkat pada kepadatan yang lebih tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan 1.000 ekor/5 L merupakan kepadatan optimal untuk transportasi sistem basah tertutup benih ikan nila karena mampu mempertahankan tingkat kelangsungan hidup tertinggi
Efektivitas Ekstrak Daun Waru (Hibiscus tiliaceus L) terhadap Daya Hambat Bakteri Aeromonas Salmonicida secara In Vitro: Effectiveness of Sea Hibiscus (Hibiscus tiliaceus L.) Leaf Extract against Aeromonas salmonicida under In Vitro Conditions Mutaham; Maria Agustin; Didik Budiyanto
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.110

Abstract

Penyakit bakterial pada budidaya ikan umumnya masih dikendalikan menggunakan antibiotik, meskipun penggunaannya berpotensi menimbulkan resistensi bakteri, residu pada produk perikanan, dan pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas ekstrak daun waru (Hibiscus tiliaceus L.) dalam menghambat pertumbuhan Aeromonas salmonicida secara in vitro. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan dosis ekstrak (10, 30, 50, dan 70 ppt), masing-masing enam ulangan, serta didahului oleh pengujian Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan Minimum Bactericidal Concentration (MBC). Aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode difusi agar sumuran, sedangkan data dianalisis dengan analisis ragam yang dilanjutkan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Hasil pengujian MIC menunjukkan bahwa konsentrasi 100 ppt menghasilkan media bening, sedangkan pengujian MBC pada konsentrasi yang sama tidak menunjukkan pertumbuhan koloni bakteri. Diameter zona hambat meningkat seiring peningkatan dosis ekstrak, yaitu 6,98 ± 0,15 mm (10 ppt), 10,35 ± 0,48 mm (30 ppt), 11,25 ± 0,30 mm (50 ppt), dan 12,70 ± 0,40 mm (70 ppt). Analisis ragam menunjukkan perbedaan yang nyata antarperlakuan (P < 0,05), dengan hubungan dosis dan diameter zona hambat mengikuti persamaan Y = 6,12 + 0,09X (R² = 0,96). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun waru efektif menghambat pertumbuhan A. salmonicida, dengan dosis 70 ppt memberikan aktivitas antibakteri tertinggi pada uji difusi, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai sumber antibakteri alami untuk mendukung pengendalian penyakit bakterial pada budidaya ikan.
Deteksi dan Prevalensi White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada Lobster Bambu (Panulirus versicolor) Menggunakan Nested PCR di Jawa Timur: Detection and Prevalence of White Spot Syndrome Virus (WSSV) in Bamboo Lobster (Panulirus versicolor) Using Nested PCR in East Java Destik Rosyana; Maria Agustin; Sumaryam
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.112

Abstract

Lobster bambu (Panulirus versicolor) merupakan komoditas krustasea bernilai ekonomi tinggi yang berpotensi menjadi pembawa berbagai agen penyakit, termasuk White Spot Syndrome Virus (WSSV). Penelitian ini bertujuan mendeteksi keberadaan WSSV dan menentukan prevalensinya pada lobster bambu yang dilalulintaskan melalui sistem karantina di Jawa Timur. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan molekuler terhadap 20 ekor lobster bambu asal Sumenep, Madura, yang diperiksa pada periode November–Desember 2025. Jaringan insang dan pleopod diekstraksi menggunakan silica extraction kit dan dianalisis menggunakan nested Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan primer 146F1/146R1 dan 146F2/146R2. Produk amplifikasi divisualisasikan melalui elektroforesis gel agarosa 1,5%. Hasil pengamatan klinis menunjukkan seluruh lobster tampak sehat tanpa gejala khas infeksi WSSV. Namun, hasil nested PCR mendeteksi satu sampel positif yang ditandai oleh pita DNA berukuran sekitar 941 bp, sedangkan 19 sampel lainnya menunjukkan hasil negatif. Berdasarkan hasil tersebut, prevalensi WSSV pada lobster bambu sebesar 5%. Temuan ini menunjukkan bahwa lobster bambu yang tampak sehat berpotensi berperan sebagai pembawa subklinis WSSV. Oleh karena itu, penerapan skrining molekuler secara rutin diperlukan untuk mendukung biosekuriti dan pengawasan lalu lintas komoditas krustasea melalui sistem karantina.
Pengaruh Dosis Minyak Serai (Cymbopogon sp.) terhadap Kelangsungan Hidup Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Transportasi Sistem Tertutup : Evaluation of Lemongrass Oil (Cymbopogon sp.) Dosages as a Natural Sedative for Improving the Survival of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) Fingerlings During Closed-System Transportation Bayu Prima Wisudhawanto; Maria Agustin; Sumaryam
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 6 No. 2 (2026): JURNAL PERIKANAN KAMASAN
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v6i2.115

Abstract

Transportasi sistem tertutup merupakan metode yang umum digunakan dalam distribusi benih ikan nila (Oreochromis niloticus), namun berpotensi menimbulkan stres akibat penurunan kualitas air, akumulasi metabolit, dan keterbatasan ruang gerak selama pengangkutan. Penggunaan sedatif alami menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi aktivitas metabolisme ikan dan meningkatkan kelangsungan hidup selama transportasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh berbagai dosis minyak serai (Cymbopogon sp.) terhadap kelangsungan hidup benih ikan nila pada transportasi sistem tertutup. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan dosis minyak serai, yaitu 0,01; 0,02; 0,03; dan 0,05 mL/L, masing-masing dengan enam ulangan. Setiap unit percobaan menggunakan 100 ekor benih ikan nila berukuran 5–7 cm. Parameter yang diamati meliputi kelangsungan hidup, suhu, pH, dan oksigen terlarut. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis minyak serai berpengaruh sangat nyata terhadap kelangsungan hidup benih ikan nila. Kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada dosis 0,02 mL/L sebesar 98,3%, diikuti dosis 0,01 mL/L sebesar 96,5%, dosis 0,03 mL/L sebesar 92,3%, dan dosis 0,05 mL/L sebesar 90,5%. Selama transportasi, suhu berkisar 26,3–27,5 °C, pH 6,8–7,2, dan oksigen terlarut 5,2–6,8 mg/L yang masih mendukung kehidupan ikan. Dosis minyak serai 0,02 mL/L direkomendasikan sebagai dosis optimum untuk meningkatkan kelangsungan hidup benih ikan nila pada transportasi sistem tertutup.