Nur Afni Handayani
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ījāz dan Iṭnāb sebagai Strategi Retoris untuk Memperkuat Pesan Ilahi dalam Al-Qur'an Nur Afni Handayani; Andi Miswar; Mardan
Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 9 No. 1 (2026): Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir
Publisher : Jawa Timur: Prodi. Ilmu Al Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin IAI Tarbiyatut Tholabah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/alfurqan.v9i1.4929

Abstract

The rhetorical excellence of the Qur'an has long been recognized as one of its defining characteristics. However, contemporary Qur'anic scholarship has predominantly emphasized theological, legal, and semantic dimensions, while the communicative functions of classical rhetorical devices remain comparatively underexplored. This study examines ījāz (conciseness) and iṭnāb (elaboration) as rhetorical strategies for reinforcing divine messages in the Qur'an. Employing a qualitative library-based research design, the study applies the analytical framework of classical Arabic balāghah to examine selected Qur'anic verses that exemplify both rhetorical styles. The findings reveal that ījāz reinforces divine messages through linguistic economy, semantic density, and expressive precision, enabling profound meanings to be conveyed with maximum rhetorical impact. Conversely, iṭnāb strengthens divine communication through purposeful elaboration, contextual clarification, persuasive emphasis, and emotional engagement, facilitating deeper cognitive and spiritual internalization of Qur'anic teachings. Rather than representing contrasting rhetorical styles, ījāz and iṭnāb function as complementary communicative strategies whose effectiveness depends on the communicative context and intended persuasive purpose of the discourse. This study contributes to contemporary Qur'anic rhetoric by demonstrating that the persuasive power of the Qur'an emerges not only from the theological content of its messages but also from the strategic deployment of rhetorical forms that optimize meaning, persuasion, and spiritual transformation. These findings extend the study of balāghah beyond stylistic description toward a functional and discourse-oriented understanding of Qur'anic rhetoric.
Fenomena Dunning Kruger Effect Perspektif Al-Qur’an (Kajian Tafsir Tahlili QS. Al-Najm/53: 32) Nur Afni Handayani; Achmad Abubakar; Rahmi Damis
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 6 No 1 (2026): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/7t8c5687

Abstract

Fenomena Dunning-Kruger Effect merupakan bias kognitif yang ditandai oleh kecenderungan individu berpengetahuan rendah untuk melebih-lebihkan kemampuannya, sebuah gejala yang kian marak terjadi dalam diskursus keagamaan di era modern. Al-Qur’an sebagai panduan yang senantiasa relevan (ṣāliḥ li kulli zamān wa makān) memberikan koreksi normatif terhadap ilusi superioritas ini, khususnya melalui penegasan larangan menyucikan diri dalam QS. al-Najm/53:32. Penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) ini bertujuan untuk mengonseptualisasikan bias kognitif tersebut ke dalam dimensi teologis Islam. Metode analisis yang digunakan adalah tafsir taḥlīlī terhadap QS. al-Najm/53:32 dengan mengintegrasikan pendekatan psikologi untuk membedah aspek metakognitif objek kajian. Data primer dan sekunder dihimpun dari ayat al-Qur’an, kitab-kitab tafsir otoritatif, serta literatur psikologi yang relevan. Berbeda dengan kajian terdahulu yang umumnya meninjau fenomena ini sebatas pada ruang lingkup psikologi kognitif dan sosial, penelitian ini menempatkan wahyu sebagai kerangka analisis utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dunning-Kruger Effect dalam perspektif al-Qur’an merupakan manifestasi dari kesombongan intelektual (kibr ‘ilmī) dan kebodohan berlapis yang tidak disadari (jahl murakkab). Al-Qur’an menawarkan resolusi metakognitif-etis berupa penguatan kesadaran akan keterbatasan insani dan larangan absolut atas klaim kesucian pribadi, sehingga bias kognitif ini tidak lagi dipandang sekadar sebagai problem psikologis individual, melainkan sebagai problem etik-keilmuan dan spiritual yang membutuhkan intervensi nilai-nilai wahyu.