Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Strategi Operasi Pengamanan Perbatasan Dalam Upaya Menjaga Ketahanan Pangan (Studi Kasus Yonzipur 8/SMG di Perbatasan Kalimantan Utara – Malaysia periode Agustus 2024 sampai dengan Oktober 2025) Hendro Gunawan; Eko Setijo Pudjiantoro; Almuchalif Suryo
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8760

Abstract

Wilayah perbatasan Kalimantan Utara–Malaysia merupakan kawasan strategis yang menghadapi berbagai tantangan keamanan, termasuk penyelundupan, pelintas batas ilegal, serta kerentanan akses pangan akibat keterbatasan infrastruktur dan keterisolasian wilayah. Kondisi ini menuntut kehadiran dan strategi efektif dari satuan pengamanan perbatasan, khususnya Yonzipur 8/SMG (Sakti Mandra Guna), yang tidak hanya berperan menjaga kedaulatan negara tetapi juga mendukung ketahanan pangan masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi dan metode operasi pengamanan yang diterapkan Yonzipur 8/SMG, dampaknya terhadap stabilitas keamanan wilayah Krayan, serta bentuk sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan pangan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, serta analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengamanan Yonzipur 8/SMG meliputi patroli rutin, pengawasan jalur tidak resmi, serta operasi penindakan terhadap penyelundupan. Stabilitas keamanan yang tercipta berkontribusi signifikan pada kelancaran distribusi pangan dan kegiatan pertanian lokal. Selain itu, program kolaboratif seperti penanaman padi bersama masyarakat terbukti meningkatkan produktivitas pangan dan mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah. Kesimpulannya, strategi pengamanan perbatasan yang terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat menjadi faktor kunci dalam memperkuat ketahanan pangan di wilayah perbatasan.
Implementasi Integrated Logistic Support (ILS) Sebagai Strategi Staf Logistik Angkatan Darat: Tantangan dan Solusi Dukungan Bekal Awal Logistik Untuk Satuan Tugas Operasi di Wilayah Papua Dhanu Prahara; Eko Setijo Pudjiantoro; Almuchalif Suryo
Journal of Law, Education and Business Vol. 4 No. 2 (2026): Oktober 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jleb.v4i2.8827

Abstract

Dukungan logistik merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan operasi militer. Pelaksanaan operasi satuan tugas (Satgas) TNI Angkatan Darat di wilayah Papua menghadapi berbagai tantangan, antara lain kondisi geografis yang sulit, keterbatasan infrastruktur transportasi, ketergantungan pada moda angkutan udara, serta belum optimalnya integrasi sistem informasi logistik. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kesiapan bekal awal logistik dan efektivitas pelaksanaan operasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan implementasi Integrated Logistic Support (ILS), mengkaji penerapannya oleh Staf Logistik Angkatan Darat, serta merumuskan solusi strategis dalam mendukung bekal awal logistik satuan tugas operasi di wilayah Papua. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan telaah berbagai kebijakan yang berkaitan dengan sistem logistik TNI Angkatan Darat. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi ILS masih menghadapi kendala berupa keterbatasan akses distribusi, belum terintegrasinya sistem informasi logistik secara menyeluruh, keterbatasan sumber daya manusia logistik, serta belum optimalnya koordinasi lintas instansi. Namun demikian, penerapan ILS telah berkontribusi dalam meningkatkan perencanaan kebutuhan, pengendalian distribusi, pemeliharaan materiil, dan kesiapan operasional satuan tugas. Solusi strategis yang diperlukan meliputi penguatan sistem informasi logistik digital, peningkatan kompetensi personel logistik, optimalisasi jaringan distribusi, serta penguatan sinergi antarinstansi. Implementasi ILS yang optimal diyakini dapat meningkatkan efektivitas dukungan logistik dan kesiapan operasional Satgas di Papua.
Optimalisasi Pelaksanaan Pergeseran Pasukan Untuk Mendukung Ketahanan Fisik dan Mental Prajurit Menuju Daerah Latihan Sanggabuana Kostrad Dalam Rangka Latproglatsiapops Satgas Pamtas Mobile RI-PNG (Studi Kasus Yonif 733/Masariku TA 2025) M Sandi Helly Wijaya; Eko Setijo Pudjiantoro; Almuchalif Suryo
Journal of Law, Education and Business Vol. 4 No. 2 (2026): Oktober 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jleb.v4i2.9098

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pelaksanaan pergeseran pasukan atau Serpas Yonif 733/Masariku dari Ambon menuju daerah latihan Sanggabuana Kostrad dalam rangka Latproglatsiapops RI-PNG yang menempuh perjalanan jarak jauh dan berpotensi memengaruhi ketahanan fisik serta mental prajurit sebelum mengikuti latihan pratugas. Permasalahan penelitian berfokus pada efektivitas pelaksanaan Serpas, kendala yang berdampak terhadap kondisi fisik dan mental prajurit, serta strategi optimalisasi Serpas agar lebih mendukung kesiapan tempur pada latihan pratugas dan penugasan operasi di Papua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data diperoleh melalui wawancara dengan informan dari unsur Sopsad, Sopsdam XV/Pattimura, dan Yonif 733/Masariku, serta didukung observasi, studi dokumentasi, dan pengolahan data menggunakan NVivo 12 Plus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Serpas telah berjalan cukup efektif dari aspek pergerakan pasukan, namun belum sepenuhnya optimal dalam menjaga kesiapan fisik dan mental prajurit. Kendala utama meliputi perjalanan jauh, keterbatasan ruang gerak, kurangnya kualitas istirahat, kelelahan fisik, kejenuhan mental, dukungan logistik dan kesehatan yang perlu diperkuat, serta terbatasnya waktu pemulihan sebelum latihan. Strategi optimalisasi diarahkan pada keseimbangan antara tujuan, cara, dan sumber daya melalui perencanaan Serpas yang terintegrasi, pemilihan moda transportasi yang adaptif, pengaturan istirahat, penguatan logistik dan kesehatan, pengendalian moril, serta evaluasi pasca-Serpas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Serpas perlu diposisikan sebagai bagian integral dari sistem penyiapan operasi yang mendukung kesiapan tempur prajurit.
Strategi Peningkatan Kemampuan Satgas Pamtas TNI AD dalam Rangka Menjaga Kedaulatan Wilayah Perbatasan Indonesia – Timor Leste I Wayan Suartha; Eko Setijo Pudjiantoro; Almuchalif Suryo
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i2.9040

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kompleksitas pengamanan wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste yang dihadapkan pada kondisi geografis, keterbatasan sarana prasarana, pelintas batas ilegal, penyelundupan, serta dinamika sosial masyarakat perbatasan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi aktual kemampuan Satgas Pamtas TNI AD, mengidentifikasi faktor kendala, serta merumuskan strategi peningkatan kemampuan dalam menjaga kedaulatan wilayah perbatasan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan desain studi kasus. Penelitian dilaksanakan di wilayah perbatasan darat Indonesia–Timor Leste dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara terhadap informan kunci, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan Satgas Pamtas secara umum cukup baik, tetapi belum optimal akibat keterbatasan personel, sarana prasarana, komunikasi, teknologi pengawasan, kondisi geografis, dan koordinasi lintas instansi. Strategi peningkatan dilakukan melalui penguatan personel, latihan pratugas, optimalisasi operasi, pemanfaatan teknologi pengawasan, koordinasi lintas instansi, dan pemberdayaan masyarakat perbatasan.