Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi pada remaja putri. Prevalensi anemia pada wanita usia reproduktif secara global mencapai 29,9% (WHO, 2021), sedangkan di Indonesia prevalensi anemia pada remaja putri usia 15–24 tahun mencapai 27,2% (Riskesdas, 2018). Remaja putri memiliki risiko lebih tinggi mengalami anemia akibat peningkatan kebutuhan zat besi selama masa pertumbuhan, kehilangan darah saat menstruasi, serta pola konsumsi yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara lama haid, asupan zat besi, pola makan, dan status gizi dengan kejadian anemia pada siswi SMA Negeri 1 Cawas Klaten tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 70 siswi yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb), kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami anemia ringan (92,9%) dan anemia sedang (7,1%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa asupan zat besi memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian anemia (p=0,001), sedangkan lama haid (p=0,568), pola makan (p=0,357), dan status gizi (p=0,556) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa asupan zat besi merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada siswi SMA Negeri 1 Cawas Klaten tahun 2025, sedangkan faktor lama haid, pola makan, dan status gizi tidak memiliki hubungan yang signifikan.