Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Cultural Convergence: The Isnfluence of Indian Traditions on Birth Traditions in Aceh Yuni Saputri; Heri Fajri; Widia Munira; Rizka Purnama Sari; Elora Tribedy
ETNOSIA : Jurnal Etnografi Indonesia Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Department of Anthropology, Faculty of Social and Political Sciences, Hasanuddin University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/etnosia.v10i2.46820

Abstract

Studies of Acehnese culture have predominantly focused on Islamic traditions, leaving pre-Islamic heritage particularly the Hindu-Buddhist influence introduced from India largely unexplored. As a central ritual in society marking the beginning of life, birth traditions in Aceh form a cultural genetic system that incorporates Indian, Islamic, and local elements at various level. This study seeks to explore the extent and ratio of Indian cultural influence in Acehnese birth traditions, especially in the context of a society now largely shaped by Islamic values. The study used qualitative ethnographic method based on Spradley’s theoretical framework, with data collected through participant observation and interview. The findings reveal that Indian influence remains evident in the symbols and rituals associated with birth traditions in Aceh, which encompass processions such as Khanduri, Peusijeuk, Intat Bu/Me Bu, Tanom Adoe, and Peutreun Aneuk. More complexly, the Peusijeuk tradition, which involves the use of water and leaves as ritual objects and signifies the aspiration for blessings, is demonstrably a Hindu influence that has since undergone Islamic syncretism, evidenced by the inclusion of Islamic prayers during the ritual. These findings highlight the complex and ongoing nature of cultural assimilation in Aceh, where Indian and Islamic influences coexist within the local cultural framework.
PERAN DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN PIDIE DALAM MELESTARIKAN NILAI SEJARAH TRADISI “GEUDEU-GEUDEU”UNTUK MENINGKATKAN MEMORI KOLEKTIF MASYARAKAT PIDIE Suci Zahratul; Yuni Saputri; Fahrizal Fahrizal
Education Enthusiast : Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol 6, No 1 (2026): Vol 6 No 1 (2026): February
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jabal Ghafur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pidie dalammelestarikan nilai sejarah tradisi Geudeu-Geudeu sertamengidentifikasi tantangan yang dihadapi. Tradisi Geudeu-Geudeu sebagai seni bela diri khas Pidie kini terancam punahakibat minimnya dokumentasi dan kurangnya minat generasimuda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatifdeskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memiliki peran strategis, antaralain melalui pengusulan Geudeu-Geudeu sebagai WarisanBudaya Takbenda (WBTB) yang diresmikan pada 15 Mei 2024. Selain itu, kegiatan seperti Festival Permainan Rakyat yang melibatkan siswa sekolah dasar menjadi upaya promosi dan edukasi budaya. Namun, tantangan seperti rendahnya partisipasigenerasi muda, kurangnya integrasi dalam kurikulum, sertalemahnya sinergi antarinstansi masih menghambat pelestariandan pewarisan tradisi ini. Kata kunci: Geudeu-Geudeu; Pelestarian budaya; WarisanBudaya Takbenda (WBTB)
MAKNA SIMBOLIK TRADISI BA RANUP DALAM ADAT PERNIKAHAN MASYARAKAT ACEH DI DESA BLANG KECAMATAN PEUKAN BARO KABUPATEN PIDIE Lisani Lisani; Fahrizal Fahrizal; Yuni Saputri
Education Enthusiast : Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol 6, No 1 (2026): Vol 6 No 1 (2026): February
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jabal Ghafur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul “Makna Simbolik Tradisi Ba Ranup dalam Adat Pernikahan Masyarakat Aceh di Desa Blang, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie”. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pelaksanaan tradisi Ba Ranup, mengidentifikasi dan menganalisis makna simbolik yang terkandung di dalamnya, serta memahami pandangan masyarakat terhadap keberlanjutan tradisi tersebut dalam pernikahan adat masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, serta teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Ba Ranup mengandung simbol-simbol adat yang kaya makna. Hantaran seperti ranup sirih, buah-buahan, pakaian, dan mahar mencerminkan niat baik, harapan kesejahteraan, tanggung jawab, serta penghargaan terhadap perempuan. Setiap unsur memiliki nilai spiritual dan sosial yang memperkuat makna prosesi lamaran. Pelaksanaan tradisi ini berlangsung tertib dan penuh tata krama, mulai dari pembawaan hantaran hingga pembicaraan rencana pernikahan, yang dilakukan secara musyawarah serta melibatkan keluarga dan tokoh adat, mencerminkan nilai sopan santun dan keseriusan dalam membentuk ikatan. Masyarakat Desa Blang masih menjaga dan menghargai tradisi Ba Ranup, dengan dukungan dari tokoh adat dan aparat desa yang turut mendorong generasi muda untuk melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari pelestarian nilai budaya, etika, dan identitas lokal.Kata kunci: Ba Ranup; makna simbolik; adat pernikahan; masyarakat Aceh; pelestarian budaya  
PEMERTAHANAN NILAI-NILAI ADAT SEULANGKE DI ERA MELUASNYA BUDAYA ASING (STUDI KASUS PADA PERSEPSI GENERASI Z DI DESA PUUK, KECAMATAN KEMBANG TANJONG, KABUPATEN PIDIE) Syawal Abizar; Yuni Saputri; Fahrizal Fahrizal
Education Enthusiast : Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol 6, No 1 (2026): Vol 6 No 1 (2026): February
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jabal Ghafur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi perkawinan Seulangke, mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam mempertahankan tradisi tersebut di tengah arus modernisasi dan globalisasi, serta menggali persepsi Generasi Z di Desa Puuk, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie terhadap nilai-nilai tradisi Seulangke. Tradisi Seulangke merupakan bagian dari adat perkawinan masyarakat Aceh yang memiliki nilai sosial, agama, dan budaya yang tinggi, di mana seorang Seulangke bertindak sebagai perantara dalam proses perjodohan dan lamaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Seulangke tidak hanya memiliki fungsi sosial sebagai penghubung dua keluarga, tetapi juga mengandung nilai-nilai agama dalam menjaga etika pergaulan serta menjadi sarana pelestarian budaya lokal. Namun, tradisi ini menghadapi tantangan serius akibat perubahan gaya hidup, melemahnya regenerasi tokoh adat, dan melemahnya pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai budaya. Meskipun demikian, masih terdapat peluang pelestarian melalui lembaga adat dan pendidikan informal. Persepsi Generasi Z terhadap Seulangke terbagi: pelajar cenderung memahami dan menghargai tradisi ini, sedangkan pelajar SMA memandangnya sebagai sesuatu yang kuno dan tidak praktis. Oleh karena itu, pendekatan edukatif dan adaptif diperlukan agar tradisi Seulangke tetap hidup dan relevan di masa kini. 
PERANAN LEMBAGA ADAT KEUJRUEN BLANG DALAM MELESTARIKAN TRADISI KHANDURI BLANG DI DESA KEULIBEUT, KECAMATAN PIDIE, KABUPATEN PIDIE Nur Fajar Nazsri; Yuni Saputri; Heri Fajri
Education Enthusiast : Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol 5, No 3 (2025): Vol 5 No 3 (2025): Des
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jabal Ghafur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peranan lembaga adat Keujruen Blang dalam pelaksanaan tradisi Khanduri Blang di Desa Keulibeut, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi dalam upaya pelestarian tradisi tersebut; serta mengetahui respons masyarakat terhadap keberlanjutan peran Keujruen Blang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Keujruen Blang memainkan peran sentral sebagai penjaga tradisi, pemersatu sosial, dan penghubung antara nilai adat, semangat gotong royong, serta nilai religius Islam. Tradisi Khanduri Blang tetap lestari berkat keterlibatan aktif masyarakat yang tumbuh dari kesadaran kolektif, bukan paksaan. Namun demikian, pelestarian tradisi ini menghadapi tantangan, terutama dari segi ekonomi, karena masih bergantung pada swadaya masyarakat tanpa dukungan yang memadai dari pemerintah desa maupun lembaga budaya. Meski demikian, respons masyarakat terhadap peran Keujruen Blang sangat positif, ditandai dengan tingginya tingkat penerimaan dan kepercayaan terhadap figur ini sebagai simbol kearifan lokal dan pemimpin adat yang dihormati. Kata kunci: Keujruen Blang; Khanduri Blang; tradisi; pelestarian budaya; partisipasi masyarakat. 
PERSEPSI GENERASI X TERHADAP TRANSFORMASI TRADISI KEUMAWEUH DI DESA PAYA TIBA, KECAMATAN MUTIARA, KABUPATEN PIDIE Lisma Yani; Muhammad Zaini; Yuni Saputri
Education Enthusiast : Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol 6, No 1 (2026): Vol 6 No 1 (2026): February
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jabal Ghafur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas pelaksanaan tradisi Keumaweuh di Desa Paya Tiba, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, serta persepsi dan keterlibatan Generasi X dalam pelestariannya. Tujuan Penelitian in yaitu Mendeskripsikan Tata Pelaksanaan tradisi Keumaweuh di Desa Paya Tiba Kecamatan Mutiara Kabupaten Pidie, mengetahui persepsi generasi X di Desa Paya Tiba terhadap transformasi tradisi Keumaweuh, menganalisis keterlibatan Generasi X dalam pelaksanaan dan pelestarian tradisi Keumaweuh di Desa Paya Tiba Keumaweuh merupakan tradisi adat Aceh yang dilakukan pada usia tujuh bulan kehamilan pertama, ditandai dengan pengantaran makanan dari keluarga suami kepada keluarga istri, prosesi peusijuek, dan doa keselamatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Keumaweuh masih dijalankan oleh masyarakat, meskipun mengalami transformasi dalam bentuk dan kemasannya. Generasi X memiliki pemahaman yang baik terhadap nilai-nilai religius, sosial, dan budaya dalam tradisi ini, serta menunjukkan keterlibatan aktif dalam pelaksanaannya. Mereka berperan penting dalam mempertahankan tradisi, mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan. Namun demikian, muncul kekhawatiran terhadap kurangnya minat generasi muda dalam melanjutkan tradisi ini. Oleh karena itu, keterlibatan lintas generasi menjadi kunci penting dalam menjaga kelestarian budaya lokal seperti Keumaweuh.Kata kunci: Keumaweuh; Tradisi Adat Aceh; Generasi X; Persepsi Budaya; Pelestarian Tradisi