Cici Syaidatun Amalya
Universitas Labuhanbatu

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Growth Mindset Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Mahasiswa PPG Pra-Jabatan PPKN Novi Silvia; Rahmad Santoso Nasution; Cici Syaidatun Amalya; Regina Br Pandia; Nova Purba
Wahana Didaktika : Jurnal Ilmu Kependidikan Vol. 24 No. 2 (2026): Wahana Didaktika: Jurnal Ilmu Pendidikan
Publisher : Faculty of teaching training and education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/p70jed73

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pengembangan growth mindset pada mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan PPKn sebagai fondasi profesionalisme kependidikan. Tujuan penelitian adalah menganalisis kontribusi growth mindset terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif mahasiswa dalam konteks praktik pengajaran. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi partisipatif dan wawancara mendalam sebagai instrumen pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang menginternalisasi orientasi pola pikir berkembang memperlihatkan kecenderungan lebih tinggi dalam melakukan refleksi diri, mengevaluasi praktik mengajar secara objektif, serta mengembangkan inovasi pembelajaran yang kontekstual. Growth mindset terbukti berkontribusi positif terhadap dua dimensi berpikir tingkat tinggi tersebut sekaligus mendorong keterbukaan mahasiswa terhadap umpan balik kritis. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa penguatan growth mindset dalam program PPG merupakan langkah strategis dalam membentuk calon guru yang adaptif, reflektif, dan inovatif.
Penerapan Design Thinking dalam Merancang Kegiatan Ice Breaking untuk Meningkatkan Keterlibatan Peserta Didik di SMA Negeri 1 Rantau Utara Regina Pandia; Nova Purba; Cici Syaidatun Amalya; Nurlina Nurlina; Novi Novi
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the implementation of Design Thinking in designing ice breaking activities to enhance student engagement at SMA Negeri 1 Rantau Utara. This research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and analyzed using thematic analysis. The ice breaking design process followed the Design Thinking stages, namely empathize, define, ideate, prototype, and test. The findings indicate that ice breaking activities designed based on students’ needs are able to improve behavioral, emotional, and cognitive engagement in learning. Students became more active, enthusiastic, and focused after participating in the ice breaking activities. In addition, student involvement in the design process increased their sense of ownership toward learning activities. These findings suggest that Design Thinking is an effective innovative approach for designing student-centered learning strategies. Therefore, this approach is recommended for developing more interactive and meaningful learning in secondary schools.Keywords: Design Thinking, Ice Breaking, Student Engagement, Learning Innovation, Qualitative StudyAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Design Thinking dalam merancang kegiatan ice breaking guna meningkatkan keterlibatan peserta didik di SMA Negeri 1 Rantau Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Proses perancangan ice breaking mengikuti tahapan Design Thinking, yaitu empathize, define, ideate, prototype, dan test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan ice breaking yang dirancang berdasarkan kebutuhan peserta didik mampu meningkatkan keterlibatan perilaku, emosional, dan kognitif dalam pembelajaran. Peserta didik menjadi lebih aktif, antusias, dan fokus setelah mengikuti kegiatan ice breaking. Selain itu, keterlibatan peserta didik dalam proses perancangan meningkatkan rasa memiliki terhadap aktivitas pembelajaran. Temuan ini menunjukkan bahwa Design Thinking efektif digunakan sebagai pendekatan inovatif dalam merancang strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Dengan demikian, pendekatan ini direkomendasikan untuk diterapkan dalam pengembangan pembelajaran yang lebih interaktif dan bermakna di sekolah menengah.Kata Kunci: Design Thinking, Ice Breaking, Keterlibatan Peserta Didik, Inovasi Pembelajaran, Studi Kualitatif
Peran dan Strategi Guru dalam Pendidikan Nilai untuk Generasi Alpha Ahmad Arif; Cici Syaidatun Amalya; Rahmadani Indah Nasution; Amin Harahap
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The moral crisis among young people, especially Generation Alpha (born 2010–2024), is exacerbated by digital disruption, technological dependence, and low empathy. Teachers play a central role in value education but need adaptive strategies. This study uses a descriptive qualitative literature review, analyzing twelve relevant sources on teacher roles, strategies, and competencies in value education for Generation Alpha.  Generation Alpha has unique characteristics: digital natives, visual learners, critical thinkers, but vulnerable to digital addiction and low interpersonal empathy. Teachers perform three main roles: as educators (linking materials with values), as teachers (selecting appropriate learning models), and as trainers (providing direct examples). The most effective strategy is consistent teacher role modeling. The combination of transmission approaches (direct value inculcation through habituation) and construction approaches (value development through reflection, moral dilemmas) is essential. Required teacher competencies include pedagogical, professional, personality, and social competencies, shaped through formal education, non‑formal training, and teaching experience. Successful value education for Generation Alpha requires synergy among three pillars (family, school, community) and continuous teacher professional development. This study contributes an integrative model of teacher roles and strategies for character building in the digital era.Keywords: Value Education; Generation Alpha; Teacher Roles; Teacher Strategies; Character EducationAbstrak: Krisis moral di kalangan anak muda, khususnya Generasi Alpha (lahir 2010–2024), diperparah oleh disrupsi digital, ketergantungan teknologi, dan rendahnya empati. Guru memainkan peran sentral dalam pendidikan nilai tetapi membutuhkan strategi adaptif. Studi ini menggunakan tinjauan literatur kualitatif deskriptif, menganalisis dua belas sumber relevan tentang peran, strategi, dan kompetensi guru dalam pendidikan nilai untuk Generasi Alpha. Generasi Alpha memiliki karakteristik unik: penduduk asli digital, pembelajar visual, pemikir kritis, tetapi rentan terhadap kecanduan digital dan rendahnya empati interpersonal. Guru menjalankan tiga peran utama: sebagai pendidik (menghubungkan materi dengan nilai-nilai), sebagai pengajar (memilih model pembelajaran yang tepat), dan sebagai pelatih (memberikan contoh langsung). Strategi yang paling efektif adalah pemodelan peran guru yang konsisten. Kombinasi pendekatan transmisi (penanaman nilai langsung melalui pembiasaan) dan pendekatan konstruksi (pengembangan nilai melalui refleksi, dilema moral) sangat penting. Kompetensi guru yang dibutuhkan meliputi kompetensi pedagogis, profesional, kepribadian, dan sosial, yang dibentuk melalui pendidikan formal, pelatihan non-formal, dan pengalaman mengajar. Pendidikan nilai yang sukses untuk Generasi Alpha membutuhkan sinergi antara tiga pilar (keluarga, sekolah, masyarakat) dan pengembangan profesional guru yang berkelanjutan. Studi ini memberikan kontribusi berupa model integratif peran dan strategi guru untuk pembentukan karakter di era digital.Kata Kunci: Pendidikan Nilai; Generasi Alpha; Peran Guru; Strategi Guru; Pendidikan Karakter