Alda Anggraini
Universitas Labuhanbatu

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Integrasi Pembelajaran Mendalam dan Manajemen Kepala Sekolah dalam Implementasi Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran PPKn di Tingkat SMA Ahmad Arif; Alda Anggraini; Irma Amalia; Panggih Nur Adi
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 1 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the integration of deep learning and principal management in the implementation of the Independent Curriculum in Pancasila and Citizenship Education (PPKn) at the high school level. The study used a qualitative approach with descriptive methods. Data were obtained through a study of various literature, policy documents, and relevant research findings on deep learning, principal leadership, and the Independent Curriculum. Data analysis was conducted descriptively through the processes of reduction, categorization, interpretation, and drawing conclusions. The results show that deep learning supports the creation of more meaningful, contextual, reflective, and student-centered PPKn learning. The success of its implementation is greatly influenced by the role of the principal as an instructional leader who is able to build a collaborative culture, facilitate teacher professional development, and create a conducive learning ecosystem. The synergy between deep learning and principal management contributes to strengthening students' civic competence, Pancasila character, and 21st-century skills. Therefore, the integration of the two is a crucial factor in optimizing the implementation of the Independent Curriculum in PPKn learning in high school.Keywords: In-depth Learning, Principal Management, Independent Curriculum, Civics, Citizenship Competence.Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi pembelajaran mendalam (deep learning) dan manajemen kepala sekolah dalam implementasi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di tingkat SMA. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui studi berbagai literatur, dokumen kebijakan, serta hasil penelitian yang relevan mengenai pembelajaran mendalam, kepemimpinan kepala sekolah, dan Kurikulum Merdeka. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui proses reduksi, kategorisasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam mendukung terciptanya pembelajaran PPKn yang lebih bermakna, kontekstual, reflektif, dan berpusat pada peserta didik. Keberhasilan implementasinya sangat dipengaruhi oleh peran kepala sekolah sebagai instructional leader yang mampu membangun budaya kolaboratif, memfasilitasi pengembangan profesional guru, serta menciptakan ekosistem pembelajaran yang kondusif. Sinergi antara pembelajaran mendalam dan manajemen kepala sekolah berkontribusi terhadap penguatan kompetensi kewarganegaraan, karakter Pancasila, serta keterampilan abad ke-21 peserta didik. Oleh karena itu, integrasi keduanya menjadi faktor penting dalam optimalisasi implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran PPKn di SMA.Kata Kunci: Pembelajaran Mendalam, Manajemen Kepala Sekolah, Kurikulum Merdeka, Ppkn, Kompetensi Kewarganegaraan.
Karakteristik Peserta Didik dan Pembelajaran Mendalam: Sebuah Kajian Teoretis dan Empiris Ahmad Arif; Alda Anggraini; Irma Amalia; Rohana Rohana
Pancasila and Civics Education Journal Vol 5, No 2 (2026): PANCASILA AND CIVICS EDUCATION JOURNAL
Publisher : Pancasila and Civics Education Journal (PCEJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The diversity of student characteristics encompasses physical, intellectual, behavioral, achievement, and emotional dimensions. Teachers' understanding of this diversity is the main foundation for creating truly student-centered deep learning. Methods: This article was compiled through a literature review analyzing Gardner's theory of multiple intelligences, Bandura's social cognitive learning theory, Maslow's hierarchy of needs, and various recent empirical findings from journals published between 2021 and 2025. Results: Individual student differences include aspects of intelligence, talent, learning styles (visual, auditory, kinesthetic), interests, and social background. At the high school level, visual learning styles were the most dominant (37%), followed by kinesthetic (33%) and auditory (29%), while 51% of students were in the low interest category. Deep learning implemented through diagnostic assessments, a variety of teaching methods, and the creation of a supportive learning environment has proven effective in improving students' conceptual understanding and motivation to learn. The main obstacles faced are the lack of teacher training on individual differences and the disparity in facilities and infrastructure between schools. Conclusion: In-depth learning based on learner characteristic profiles is no longer an option, but a necessity in 21st-century educational practices.Keywords: Student Characteristics, Individual Differences, In-Depth Learning, Multiple Intelligences, Independent CurriculumAbstrak: Keberagaman karakteristik peserta didik mencakup dimensi fisik, intelektual, perilaku, prestasi, maupun emosional. Pemahaman guru terhadap keragaman ini menjadi fondasi utama terciptanya pembelajaran mendalam (deep learning) yang benar‑benar berpusat pada siswa. Metode dalam penelitian ini disusun melalui studi pustaka dengan menganalisis teori kecerdasan majemuk Gardner, teori belajar sosial kognitif Bandura, hierarki kebutuhan Maslow, serta berbagai temuan empiris mutakhir dari jurnal terbitan 2021–2025. Adapun hasil penelitian menemukan bahwa perbedaan individu siswa meliputi aspek kecerdasan, bakat, gaya belajar (visual, auditori, kinestetik), minat, dan latar belakang sosial. Pada jenjang SMA, gaya belajar visual paling dominan (37%), diikuti kinestetik (33%) dan auditori (29%); sementara itu 51% siswa berada pada kategori minat rendah. Pembelajaran mendalam yang dijalankan melalui asesmen diagnostik, variasi metode pengajaran, serta penciptaan lingkungan belajar yang suportif terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman konseptual sekaligus motivasi belajar siswa. Kendala utama yang dihadapi adalah minimnya pelatihan guru tentang perbedaan individu serta ketimpangan sarana dan prasarana antarsekolah. Kesimpulan: Pembelajaran mendalam yang didasarkan pada profil karakteristik peserta didik bukan lagi pilihan, melainkan keharusan dalam praktik pendidikan abad ke‑21.Kata Kunci: Peserta Didik; Perbedaan Individu; Pembelajaran Mendalam; Kecerdasan Majemuk; Kurikulum Merdeka
Persepsi Guru Muda Terhadap Implementasi Nilai Filosofis Pendidikan Humanisme dalam Proses Pembelajaran di Sekolah Alda Anggraini; Mayang Sari Hasibuan; Wanda Fahira Putri; Irma Amalia; Amin Harahap
Jurnal Teknik Mesin dan Pembelajaran Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um054v9i1p8-15

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan persepsi dan implementasi nilai pendidikan humanisme oleh guru muda (masa kerja 0-5 tahun). Menggunakan metode kualitatif deskriptif fenomenologis, data dihimpun melalui wawancara terhadap delapan guru SMA. Hasil penelitian menunjukkan guru muda memiliki persepsi positif terhadap paradigma “memanusiakan manusia”. Secara praktis, implementasi dilakukan melalui penciptaan keamanan psikologis dan pemberian otonomi belajar terbatas. Namun, ditemukan “kesenjangan implementasi” akibat hambatan struktural seperti tekanan kurikulum, keterbatasan waktu, dan minimnya praktik evaluasi diri siswa. Kesimpulannya, meskipun guru muda memiliki idealisme humanistik yang kuat, penerapannya masih sering terdistorsi oleh tuntutan sistemik sekolah. Temuan ini menegaskan perlunya dukungan kebijakan yang lebih inklusif agar nilai-nilai humanisme dapat terwujud secara konsisten dalam praktik pembelajaran. Kata Kunci: Guru Muda, Implementasi Pembelajaran, Keamanan Psikologis, Pendidikan Humanisme, Sekolah Menengah