ABSTRACT The development of the digital ecosystem in educational environments has driven the need to integrate digital literacy into learning processes, although in some pesantren-based schools the use of personal gadgets remains restricted as part of discipline building and character education. This situation creates a distinct dynamic in the development of students’ digital competencies, which must remain aligned with the principles of value-based education. At SMA Darut Taqwa, this phenomenon was examined using a descriptive qualitative approach, with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The data were analyzed through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing, while validity was strengthened through source and technique triangulation. The findings indicate that school policies do not restrict access to technology entirely but instead direct its use through controlled access via computer facilities, libraries, and institution-provided digital learning media. In the context of Islamic Religious Education learning, teachers play a key role in guiding students to be more selective in searching for, understanding, and evaluating information from credible digital sources. This pattern shows that strengthening digital literacy can still occur despite restrictions on personal gadget use, as long as there are well-directed pedagogical strategies and balanced institutional policies. It also highlights the importance of synergy between school regulations and teachers’ roles in shaping an adaptive digital learning ecosystem. ABSTRAK Perkembangan ekosistem digital di lingkungan pendidikan mendorong munculnya kebutuhan integrasi literasi digital dalam proses pembelajaran, meskipun pada sebagian sekolah berbasis pesantren penggunaan perangkat gawai masih dibatasi sebagai bagian dari pembinaan kedisiplinan dan nilai karakter. Situasi ini menghadirkan dinamika tersendiri dalam pengembangan kompetensi digital peserta didik yang harus tetap selaras dengan prinsip pendidikan berbasis nilai. Di SMA Darut Taqwa, fenomena tersebut dikaji melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, serta penarikan makna, dengan validitas diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil kajian menunjukkan bahwa kebijakan sekolah tidak menutup akses terhadap teknologi, tetapi mengarah pada pengendalian pemanfaatan melalui pemanfaatan fasilitas komputer, perpustakaan, serta media pembelajaran digital yang disediakan institusi. Dalam praktik pembelajaran Pendidikan Agama Islam, guru berperan mengarahkan peserta didik untuk lebih selektif dalam mencari, memahami, serta mengevaluasi informasi dari sumber digital yang kredibel. Pola ini memperlihatkan bahwa penguatan literasi digital tetap dapat berlangsung meskipun penggunaan gadget pribadi dibatasi, selama terdapat strategi pedagogis yang terarah dan dukungan kebijakan institusional yang seimbang. Kondisi ini juga memperlihatkan pentingnya sinergi antara kebijakan sekolah dan peran guru dalam membentuk ekosistem pembelajaran digital yang adaptif.