Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Acute Kidney Injury (AKI) et causa Sindrom Nefrotik dengan Komponen Nefritik pada Anak: Laporan Kasus Auriva Renasha Suherman; Shinta Nareswari
Medula Vol 16 No 4 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i4.1980

Abstract

Acute Kidney Injury (AKI) is a clinical syndrome characterized by a sudden decline in kidney function, resulting in disturbances of fluid and electrolyte balance and the accumulation of metabolic waste products. In children, AKI may occur secondary to various underlying conditions, including nephrotic syndrome with nephritic components. This case report aims to describe the clinical manifestations, diagnostic evaluation, and management of AKI in a child with nephrotic syndrome accompanied by nephritic features. A 12-year-old girl presented with a 10-day history of fever, accompanied by swelling of the face, lower extremities, and genitalia, abdominal distension and pain, joint pain, oliguria, and reddish, foamy urine. Physical examination revealed stage 2 hypertension, periorbital edema, bilateral lower-extremity edema, labia majora edema, ascites, and anemic conjunctivae. Laboratory findings demonstrated anemia, hypoalbuminemia, elevated blood urea and serum creatinine levels, hyperkalemia, hypocalcemia, and partially compensated metabolic acidosis. Reduced glomerular filtration rate and oliguria supported the diagnosis of stage 2 AKI according to the Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) criteria. The patient was diagnosed with AKI secondary to nephrotic syndrome with nephritic components and received comprehensive treatment consisting of intravenous fluid therapy, furosemide, captopril, prednisone, antibiotics, and supportive management. Comprehensive treatment and close monitoring were required to improve the patient's clinical condition, prevent complications, and preserve quality of life. This case highlights the importance of early recognition and multidisciplinary management of pediatric AKI associated with nephrotic syndrome and nephritic components to prevent progressive renal impairment.
Penentuan Prakiraan Usia Luka Genital pada Kasus Kekerasan Seksual dalam Perspektif Forensik Septia Eva Lusina; Auriva Renasha Suherman; Brigitta Shinta Dewi; Bryantdary Arrafif Nasution; Ridwan Hardiansyah
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i6.64182

Abstract

Kasus kekerasan seksual di Indonesia masih sering ditemukan, dan pemeriksaan forensik medikolegal berperan penting dalam menilai tanda kekerasan serta memperkirakan usia luka genital. Mukosa genital yang elastis, sangat vaskular, dan cepat mengalami epitelisasi tanpa jaringan parut membuat pembedaan luka akut dan non-akut menjadi sulit. Penelitian ini bertujuan meninjau karakteristik morfologis dan waktu penyembuhan luka hymenal serta non-hymenal pada kasus kekerasan seksual. Literature review dilakukan terhadap publikasi nasional dan internasional yang membahas proses penyembuhan luka genital pada korban kekerasan seksual. Analisis deskriptif dilakukan terhadap jenis lesi, lokasi anatomi, dan durasi penyembuhan. Luka baru (acute injury) terjadi <72 jam setelah kejadian, sedangkan luka lama (non-acute injury) >72 jam. Pada area non-hymenal seperti labia, vestibulum, fossa navicularis, posterior fourchette, dan perineum, abrasi dan kontusio umumnya menghilang dalam 2–5 hari, sedangkan robekan sembuh dalam 7–20 hari. Pada hymen, abrasi hilang dalam 4 hari, petekie dalam 48–72 jam, dan laserasi sembuh dalam 2–4 minggu tanpa jaringan parut. Lesi berupa blood blister dapat bertahan hingga minggu keempat dan menunjukkan cedera yang terjadi dalam satu bulan terakhir. Luka hymenal mengalami penyembuhan sempurna dalam waktu ≤4 minggu tanpa meninggalkan jaringan parut. Luka non-hymenal umumnya sembuh lebih cepat dibandingkan luka hymenal, bergantung pada jenis dan kedalamannya. Pemahaman proses dan waktu penyembuhan luka genital penting untuk menilai usia luka secara tepat dalam pemeriksaan medikolegal kasus kekerasan seksual.