Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Once A Criminal, Always A Criminal? Kepribadian Terang, Persepsi tentang Pelaku, dan Sikap akan Pembebasan Bersyarat bagi Jessica dalam Kasus Kopi Sianida Maria Gracia Amara Pawitra; Yansa Alif Mulya
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 4 No. 2 (2024): Volume 4 No 2, Tahun 2024
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v4i2.55

Abstract

Kasus kopi sianida yang menewaskan Wayan Mirna Salihin menggemparkan masyarakat pada tahun 2016 lalu. Pasalnya, kasus ini merupakan kasus minim bukti dan saksi, sehingga menuai banyak kontroversi. Akhirnya hakim menggunakan pembuktian tidak langsung yang menjerat Jessica Kumala Wongso sebagai pelaku pembunuhan berencana terhadap Mirna. Kasus ini diakhiri dengan pemberian vonis 20 tahun penjara kepada Jessica. Akan tetapi, setelah delapan tahun menjalani masa hukuman, Jessica mendapatkan pembebasan bersyarat. Hal ini menuai pro dan kontra di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap masyarakat akan pembebasan bersyarat bagi Jessica, berdasarkan kepribadian terang masyarakat dan persepsi masyarakat tentang Jessica. Penelitian dilakukan secara cross-sectional menggunakan purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi: 1) WNI berusia 18-60 tahun, 2) Pernah dan/atau sedang menonton/mendengar berita/memperbincangkan kasus kopi sianida. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Skala Kepribadian Terang, Skala Persepsi tentang Pelaku Tindak Kriminal, dan Skala Sikap akan Pembebasan Bersyarat. Hasil (N= 209) menunjukkan bahwa kepribadian terang dan persepsi tentang Jessica secara simultan berperan secara signifikan memengaruhi sikap akan pembebasan bersyarat bagi Jessica. Penelitian ini merekomendasikan agar masyarakat mau mendukung upaya keadilan restoratif berupa pembebasan bersyarat, sejauh pelaku dipersepsikan mampu menunjukkan sikap yang baik. Kata kunci: Kasus Kopi Sianida; Kepribadian Terang; Persepsi terhadap Pelaku Tindak Kriminal; Sikap terhadap Pembebasan Bersyarat.
PENDAMPINGAN PSIKOLOGIS BAGI IBU WARGA BINAAN MENJELANG PEMBEBASAN UNTUK TRANSISI DAN PENYESUAIAN DI MASYARAKAT Allessandra Theresia; Wiwit Puspitasari Dewi; Yuliana Anggreany; Maria Gracia Amara Pawitra
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 8 (2025): Penguatan Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekologis untuk Mencapai Keberlanjutan Menuju Ind
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v8i0.2623

Abstract

Ibu warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap tekanan psikologis menjelang pembebasan, seperti kecemasan tinggi, kehilangan harga diri, serta ketakutan akan penolakan sosial dari keluarga maupun masyarakat. Minimnya dukungan emosional dan psikososial membuat sebagian merasa tidak layak untuk memulai kembali kehidupan yang bermakna. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan memberikan pendampingan psikologis melalui pendekatan reflektif, afirmatif, dan berbasis narasi diri. Program dilaksanakan dalam tiga sesi: satu kali luring di LAPAS Perempuan Kerobokan Bali pada Maret 2025, serta dua kali daring pada April–Mei 2025. Metode pelaksanaan meliputi tiga tahap: (1) analisis kebutuhan dengan wawancara dan asesmen awal; (2) penyusunan modul intervensi, yaitu Saya & Kekuatan Saya, Merawat Luka, Memeluk Harapan, dan Langkah Kecil, Kekuatan Besar; serta (3) pelaksanaan pelatihan partisipatif berbasis diskusi, penulisan reflektif, afirmasi, dan peta hidup. Evaluasi dilakukan melalui pre-test, post-test, dan umpan balik peserta. Hasil pre-test menunjukkan dari 47 peserta, 42 orang (89,4%) memahami konsep pemikiran negatif, sedangkan 5 orang (10,6%) berada pada kategori baik. Pasca-pelatihan, 43 orang (91,5%) mampu mengenali distorsi kognitif, sementara 4 orang (8,5%) masih memerlukan pendampingan. Evaluasi kualitatif menegaskan penguatan aspek positif (40%), kemampuan mengubah pikiran negatif (16%), pengendalian pikiran (10%), pengendalian diri (6%), serta kesadaran diri (8%). Program ini terbukti efektif meningkatkan kesiapan mental, resiliensi, dan optimisme warga binaan untuk reintegrasi sosial yang adaptif. Kata kunci: Ibu warga binaan; pendampingan psikologis;pengabdian; resiliensi; refleksi diri.