Nur Eka Dzulfaijah
Politeknik Muhammad Dahlan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FENOMENA DIGITAL HOARDING DI KALANGAN MAHASISWA POLITEKNIK MUHAMMAD DAHLAN: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN INFORMASI DENGAN KEENGGANAN MENGHAPUS DATA DIGITAL Kiki Rizki Aulia; Muhd Firmansyah; Nur Eka Dzulfaijah
JKM-Bid: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT KEBIDANAN (The Journal of Public Health Midwifery) Vol. 12 No. 02 (2026): Juni 2026
Publisher : Akademi Kebidanan Harapan Bunda Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71369/m7ne0s47

Abstract

This study was motivated by the growing phenomenon of digital hoarding among female students, characterized by the excessive accumulation and retention of digital data accompanied by a persistent reluctance to delete it. This phenomenon is believed to be closely linked to a psychological condition known as information anxiety, defined as an individual's apprehension about losing information that may prove valuable in the future. Accordingly, this study aimed to: (1) identify the level of information anxiety among female students at Muhammad Dahlan Polytechnic; (2) analyze the level of reluctance to delete digital data as an indicator of digital hoarding behavior; and (3) examine the relationship between information anxiety and reluctance to delete digital data. This study adopted a quantitative approach with a correlational research design. The sample comprised 50 active female students selected through purposive sampling. Data were collected using two Likert-scale questionnaires that had undergone validity and reliability testing—one measuring information anxiety (15 items) and the other measuring digital hoarding behavior (15 items). Data were analyzed using descriptive statistics and Pearson correlation analysis. The findings indicated that the majority of respondents exhibited high levels of both information anxiety (70.0%) and digital hoarding behavior (72.0%). Pearson correlation analysis yielded a coefficient of r = 0.689 (p < 0.001), indicating a strong, statistically significant positive relationship between information anxiety and reluctance to delete digital data. These findings underscore the need for digital literacy interventions and gender-sensitive mental health support within higher education institutions to mitigate the adverse impact of digital hoarding on female students' academic productivity.
PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA PADA PASIEN POST OPERASI APPENDISITIS DENGAN MENGGUNAKAN NATRIUM KLORIDA 0,9 % DAN POVIDINE IODINE 10 % Anas Makruf; Ainun Kurniati; Nur Eka Dzulfaijah; Musmuliadin Musmuliadin
JKM-Bid: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT KEBIDANAN (The Journal of Public Health Midwifery) Vol. 12 No. 02 (2026): Juni 2026
Publisher : Akademi Kebidanan Harapan Bunda Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71369/s0bmta23

Abstract

Proses penyembuhan luka terjadi secara normal sebagai efek (reaksi tubuh) terhadap trauma walaupun banyak bahan digunakan untuk membantu meningkatkan penyembuhan luka. Bahan perawatan yang selalu digunakan adalah natrium klorida 0,9 % dan povidine iodine 10 %. Tujuan penelitian ini adalah mencari pengaruh perawatan luka dengan menggunakan natrium klorida 0,9 % dan povidine iodine 10 % terhadap percepatan penyembuhan luka.Penelitian ini menggunakan Quasy-Eksperiment (One Post Test Control Group Design). Populasi adalah semua pasien post operasi appendisitis yang dirawat di Ruang Bedah RSUD Bima.Jumlah sampel sebanyak 20 orang yang diambil secara consecutive sampling. Sampel dibagi dalam 2 kelompok; kelompok pertama 10 orang menggunakan natrium klorida 0,9 % dan kelompok kedua 10 orang menggunakan povidine iodine 10 %. Variabel independen adalah natrium klorida     0,9 % dan povidine iodine 10 % dan variabel dependen adalah penyembuhan luka. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan diolah dengan uji statistik paired t-test dengan tingkat kemaknaan p < 0,05.Hasil uji statistik paired t-test  menggunakan natrium klorida 0,9 % dan povidine iodine 10 % dengan nilai p = 0,000 dan p = 0,002.             Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa perawatan luka dengan menggunakan natrium klorida 0,9 % dan povidine iodine 10 %  mengalami penyembuhan luka yang sama. Pada akhirnya natrium klorida 0,9 % dapat digunakan sebagai pilihan bahan untuk perawatan luka post operasi appendisitis dengan tetap memperhatikan prinsip aseptik sebelum, selama dan sesudah operasi serta saat perawatan luka.
PERBEDAAN EFEKTIVITAS PEMBERIAN KOMPRES HANGAT PADA DAERAH FRONTALIS DAN VENA BESAR (AKSILA) TERHADAP PENURUNAN SUHU TUBUH PADA PASIEN FEBRIS DI IGD RSUD BIMA Nur Eka Dzulfaijah; Ainun Kurniati; Anas Makruf
JKM-Bid: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT KEBIDANAN (The Journal of Public Health Midwifery) Vol. 12 No. 02 (2026): Juni 2026
Publisher : Akademi Kebidanan Harapan Bunda Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71369/2e7bkj68

Abstract

Demam atau febris merupakan pengeluaran panas yang tidak mampu untuk mempertahankan kecepatan pengeluaran kelebihan produksi panas yang mengakibatkan peningkatan suhu tubuh abnormal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian kompres hangat daerah frontalis dan daerah vena besar/aksila terhadap penurunan suhu tubuh pada klien febris di IGD RSUD Bima. Dalam penelitian ini menggunakan metode quasy experiment dengan jumlah sampel sebanyak 20 orang dengan menggunakan alat ukur pre dan post perlakuan dengan hasil sebagai berikut : dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa rerata penurunan suhu tubuh pada pemberian kompres hangat daerah frontalis 0,500C uji statistik paired t test pada kelompok pemberian kompres daerah frontalis, hasil korelasi antara pre dan post didapatkan probabilitas 0,000, yang berarti bahwa korelasi suhu sebelum dan sesudah dilakukan kompres pada frontalis kuat dan kompres tersebut efektif. Sedangkan pemberian kompres hangat daerah vena besar/aksila, terjadi penurunan dengan rerata sebesar 0,330C. Dimana hasil uji statistik paired t test menunjukkan bahwa pada kelompok pemberian kompres hangat daerah vena besar/aksila hasil korelasi antara pre dan post didapatkan nilai p= 0,000, hal tresebut membuktikan bahwa kompres hangat daerah bagian tubuh yang terdapat aliran vena besar adalah efektif. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa rerata penurunan suhu tubuh dengan pemberian kompres daerah vena besar/aksila lebih besar dari pemberian kompres hangat daerah frontalis, yaitu 0,330C banding 0,500C.