Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Evaluasi Status Gizi dan Skrining Obesitas pada Populasi Dewasa melalui Indeks Massa Tubuh dan Analisis Komposisi Tubuh Alexander Halim Santoso; Bryan Anna Wijaya
Science and Technology: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2026): Juni
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/scitec.v3i2.791

Abstract

Kelebihan berat badan dan perubahan komposisi tubuh merupakan faktor penting dalam perkembangan gangguan metabolik yang sering tidak terdeteksi pada populasi dewasa. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining komposisi tubuh guna mengidentifikasi distribusi lemak dan massa otot sebagai indikator risiko metabolik menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA). Pemeriksaan meliputi indeks massa tubuh (IMT), basal metabolic rate (BMR), lemak visceral, lemak tubuh total, lemak subkutan, serta massa otot rangka. Sebanyak 148 partisipan dewasa terlibat dengan rerata usia 42,78±13,44 tahun dan distribusi jenis kelamin yang relatif seimbang. Rerata IMT sebesar 26,45±4,70 kg/m² menunjukkan kecenderungan overweight, dengan proporsi obesitas tingkat 1 (36,5%) dan tingkat 2 (21,6%) yang cukup tinggi. Rerata lemak tubuh total tercatat 30,29±7,67% dan lemak visceral 12,41±11,93, yang mengindikasikan akumulasi lemak yang bermakna. Lemak subkutan lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki, terutama pada ekstremitas (lengan ±45% vs ±26%; kaki ±42% vs ±25%). Sementara itu, massa otot rangka relatif masih terjaga dengan dominasi pada ekstremitas bawah (41,49±6,12%). Temuan ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan komposisi tubuh yang berpotensi meningkatkan risiko metabolik, meskipun fungsi otot relatif masih baik. Skrining berbasis komunitas ini efektif dalam memberikan gambaran awal kondisi komposisi tubuh. Integrasi dengan intervensi promotif-preventif seperti pengaturan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, dan pemantauan berkala diperlukan untuk mencegah progresivitas gangguan metabolik.
Peran Pemeriksaan Kolestrol Total dan HDL dalam Identifikasi Awal Risiko Sindrom Metabolik pada Komunitas Sekolah Kalam Kudus Irawaty Hawati; Alexander Halim Santoso
Science and Technology: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2026): Juni
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/scitec.v3i2.792

Abstract

Dislipidemia merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang sering tidak terdeteksi pada populasi dewasa, terutama pada usia produktif. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining profil lipid guna mengidentifikasi risiko kardiometabolik secara dini menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA). Pemeriksaan meliputi kadar kolesterol total dan high-density lipoprotein (HDL), disertai edukasi kesehatan terkait gaya hidup. Sebanyak 98 partisipan dewasa terlibat dalam kegiatan ini dengan rerata usia 43,67±12,40 tahun dan dominasi perempuan (54,3%). Rerata kadar kolesterol total tercatat sebesar 213,62±34,63 mg/dL dengan mayoritas peserta berada dalam kategori hiperkolesterolemia (65,3%). Sementara itu, rerata kadar HDL adalah 52,73±18,84 mg/dL, dengan hanya 39,8% peserta memiliki kadar HDL yang baik, sedangkan sisanya berada pada kategori rendah (27,6%) dan sangat rendah (32,6%). Distribusi kadar HDL menunjukkan kecenderungan nilai yang lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki, meskipun variasi tetap ditemukan pada kedua kelompok. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar peserta memiliki profil lipid yang tidak optimal, yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Skrining berbasis komunitas ini efektif dalam mendeteksi gangguan lipid secara dini, bahkan pada individu yang tampak sehat. Integrasi skrining dengan edukasi mengenai pola makan sehat, peningkatan aktivitas fisik, serta pengendalian faktor risiko lainnya menjadi penting sebagai upaya promotif dan preventif untuk menurunkan beban penyakit kardiovaskular di masyarakat.
Deteksi Dini Penurunan Kekuatan Otot melalui Pemeriksaan Handgrip Strength pada Komunitas Gereja Baptis Cengkareng Tjie Haming Setiadi; Alexander Halim Santoso
Science and Technology: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2026): Juni
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/scitec.v3i2.793

Abstract

Penurunan kekuatan otot merupakan komponen utama sarkopenia yang dapat terjadi tidak hanya pada usia lanjut, tetapi juga mulai muncul pada populasi dewasa usia produktif. Kondisi ini sering tidak terdeteksi karena bersifat subklinis pada tahap awal, namun berpotensi menurunkan kapasitas fungsional dan meningkatkan risiko morbiditas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining kekuatan otot melalui pengukuran kekuatan genggaman tangan (handgrip strength) sebagai indikator sederhana fungsi otot rangka menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA). Sebanyak 109 partisipan dewasa terlibat dalam kegiatan ini, dengan rerata usia 42,81±13,55 tahun dan dominasi perempuan (67,9%). Rerata nilai kekuatan genggaman tangan sebesar 23,26±7,41 kg dengan median 22 kg (rentang 10,30–44,55 kg). Secara kategorikal, sebagian besar responden berada dalam kategori normal (72,5%), namun terdapat 27,5% yang termasuk dalam kategori sarkopenia. Analisis hubungan menunjukkan kecenderungan penurunan kekuatan genggaman seiring bertambahnya usia, meskipun kekuatan hubungan tersebut relatif lemah (R²=0,035), yang mengindikasikan adanya faktor lain yang berperan. Temuan ini menunjukkan bahwa penurunan kekuatan otot dapat terjadi pada populasi usia produktif dan tidak semata-mata dipengaruhi oleh usia. Skrining berbasis komunitas ini efektif dalam mendeteksi dini sarkopenia serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga fungsi otot. Integrasi dengan intervensi promotif-preventif seperti peningkatan aktivitas fisik, khususnya latihan kekuatan, serta perbaikan asupan nutrisi diperlukan untuk mencegah progresivitas sarkopenia dan mempertahankan kualitas hidup.
Peningkatan Kesadaran dan Deteksi Dini Status Hidrasi Kulit melalui Pemeriksaan Kadar Kelembapan Kulit pada Komunitas Gereja Baptis Cengkareng Catharina Sagita Moniaga; Alexander Halim Santoso
Science and Technology: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2026): Juni
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/scitec.v3i2.794

Abstract

Status hidrasi dan karakteristik permukaan kulit merupakan indikator penting kondisi fisiologis yang sering terabaikan pada populasi dewasa, meskipun berperan dalam menjaga homeostasis tubuh dan integritas jaringan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining sederhana terhadap parameter komposisi tubuh terkait hidrasi dan minyak kulit menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA). Pemeriksaan meliputi parameter water, hydration, dan oil yang mencerminkan distribusi cairan tubuh serta aktivitas kelenjar sebasea, disertai edukasi kesehatan kepada peserta. Sebanyak 109 partisipan dewasa terlibat dengan rerata usia 42,81±13,55 tahun dan dominasi perempuan (67,9%). Rerata nilai water sebesar 12,89±1,95 dan hydration 41,21±9,68 menunjukkan adanya variasi status hidrasi antarindividu, meskipun sebagian besar masih berada dalam kisaran fisiologis. Parameter oil memiliki rerata 5,84±1,09 dengan distribusi yang relatif homogen. Analisis berdasarkan jenis kelamin menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna pada kadar minyak kulit antara laki-laki dan perempuan, yang menunjukkan bahwa faktor hormonal bukan satu-satunya determinan utama dalam populasi ini. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi hidrasi dan karakteristik kulit dalam populasi komunitas bersifat heterogen, namun secara umum masih dalam batas normal. Skrining berbasis komunitas ini efektif dalam memberikan gambaran awal kondisi fisiologis individu serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hidrasi yang adekuat dan perawatan kulit. Integrasi skrining dengan edukasi kesehatan dan intervensi promotif-preventif diperlukan untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kualitas hidup, serta mencegah gangguan kesehatan terkait hidrasi di masa mendatang.
KORELASI MASSA OTOT DENGAN DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA POPULASI USIA PRODUKTIF: STUDI POTONG LINTANG DI JAKARTA BARAT Richver Framanto Johan; Alexander Halim Santoso
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i02.38144

Abstract

Diabetes Melitus tipe 2 (DMT2) termasuk penyakit metabolik dengan insiden terus meningkat. Massa otot berperan dalam metabolisme glukosa dan diduga berhubungan dengan kejadian DMT2. Penelitian ini memiliki bertujuan untuk mengetahui korelasi massa otot dengan DM tipe 2 pada populasi usia produktif di Jakarta Barat. Penelitian menggunakan analitik observasional dengan desain potong lintang yang melibatkan 207 responden usia produktif di Kelurahan Kosambi Jakarta Barat. Penilaia massa otot dilakukan menggunakan alat Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), sedangkan penentuan DMT2 ditentukan berdasarkan kadar gula darah 2 jam post-prandial (G2PP). Rerata massa otot responden adalah 10,34 ± 1,16 kg/m² dan rerata kadar G2PP sebesar 89,66 ± 24,086 mg/dL. Sebanyak 7 responden (3,4%) teridentifikasi mengalami DMT2. Hasil dari analisis menyatakan korelasi negatif yang sangat lemah dan juga tidak bermakna antara massa otot dengan DMT2 (r = -0,047; p = 0,498). Penelitian ini menunjukkan bahwa massa otot bukan faktor yang cukup memengaruhi terjadinya DMT2 pada populasi usia produktif di Kelurahan Kosambi Jakarta Barat. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk melihat faktor risiko apa yang memiliki korelasi terhadap DM tipe 2.