Pulau Bangka merupakan salah satu pusat pertambangan timah utama di Indonesia, di mana aktivitas pertambangan telah meninggalkan area luas lahan pasca-pertambangan yang sangat terdegradasi. Tanah di area pasca-pertambangan timah ini biasanya telah kehilangan lapisan tanah atasnya, didominasi oleh fraksi pasir kuarsa, kekurangan bahan organik dan nutrisi, memiliki pH asam, dan menunjukkan kapasitas pertukaran kation dan kapasitas penahan air yang sangat rendah, sehingga tidak cocok untuk penggunaan pertanian langsung tanpa upaya rehabilitasi yang terencana. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mensintesis temuan penelitian tentang kondisi tanah, strategi rehabilitasi teknis, dan sistem vegetasi dan tanaman di lahan pasca-pertambangan timah di Pulau Bangka sebagai dasar untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur deskriptif-analitis dari 25 publikasi nasional dan internasional yang relevan, dengan data yang disintesis menjadi tiga tema utama: karakteristik tanah, strategi rehabilitasi teknis, dan sistem vegetasi dan tanaman. Hasil menunjukkan bahwa rehabilitasi memerlukan pendekatan bertahap yang mengintegrasikan peningkatan sifat fisik dan kimia tanah melalui penambahan bahan organik lokal, pembentukan kontur lahan, dan pengelolaan nutrisi, bersamaan dengan penggunaan vegetasi toleran dan sistem tanaman adaptif. Sistem tumpang sari tanaman polong-polongan dan tanaman pangan, pengembangan tanaman pakan ternak, dan komoditas bernilai tinggi memiliki potensi ganda sebagai agen rehabilitasi biologis dan sumber produksi. Tinjauan ini menggarisbawahi pentingnya kerangka rehabilitasi terpadu yang menggabungkan perbaikan tanah dan desain sistem penanaman untuk mendukung pemanfaatan lahan pasca penambangan timah secara berkelanjutan di Pulau Bangka dan berfungsi sebagai dasar untuk merumuskan agenda penelitian di masa mendatang.