Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peran Teman Sebaya dalam Pengambilan Keputusan Berpacaran pada Remaja Rhiesqi Chintia Fonna
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol 3 No 2 (2026): Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi (in Press)
Publisher : Pijar Pustaka Widyadhana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66952/jippsi.v3i2.246

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara teman sebaya dengan keputusan berpacaran pada remaja. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa SMAN di Banda Aceh yang berpacaran dengan jumlah populasi 260 dan sampel berjumlah 70 orang siswa dengan menggunakan teknik purposive sampling. Berdasarkan hasil analisis korelasi product moment terlihat bahwasannya ada hubungan positif antara teman sebaya dengan keputusan berpacaran. Temuan ini diambil berdasarkan pada coefficient correlation (????x????) = 0,458 dengan taraf signifikansi p = 0,000 < 0,05. Selanjutnya, koefisien determinasi (r²) hubungan antara variabel independen dan variabel dependen adalah r² = 0,210. Hal ini memperlihatkan bahwasannya teman sebaya memiliki kontribusi terhadap keputusan berpacaran sebesar 21,0%. Hasil uji mean dapat disimpulkan bahwa tergolong sedang dengan nilai mean hipotetik sebesar 57 dan mean empirik sebesar 53,71. Selanjutnya, keputusan berpacaran disimpulkan memperoleh hasil sedang dengan nilai hipotetik sebesar 66 dan empirik sebesar sebesar 66,01.
Efektivitas Terapi Okupasi Berbasis Berkebun dalam Menurunkan Gejala Halusinasi Pendengaran pada Penderita Skizofrenia: Studi Kasus di Aceh Mohd. Rizal Fahmi Adha; Siti Nurafifah Qarimah; Fitria Fitria; Komala Kartikasari Nst; Rhiesqi Chintia Fonna
NASUWAKES: Jurnal Kesehatan Ilmiah Vol. 18 No. 2 (2025): September
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/nasuwakes.v18i2.1068

Abstract

Halusinasi merupakan salah satu manifestasi klinis dari gangguan jiwa yang ditandai dengan gangguan persepsi sensorik, seperti mendengar suara-suara yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan rangsangan eksternal. Intervensi nonfarmakologis menjadi salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk membantu mengurangi gejala tersebut, salah satunya adalah melalui terapi okupasi dengan aktivitas berkebun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan asuhan keperawatan melalui terapi okupasi berkebun dalam menurunkan tanda dan gejala halusinasi pendengaran. Studi ini dilaksanakan di wilayah Aceh selama lima hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi berkebun memberikan dampak positif terhadap penurunan intensitas dan frekuensi halusinasi pendengaran. Hal ini terlihat dari peningkatan kemampuan pasien dalam mengontrol serta mengelola halusinasi setelah menjalani terapi. Pada subjek I, skor tanda dan gejala halusinasi yang awalnya sebesar 88 persen mengalami penurunan sebesar 33 persen setelah intervensi dilakukan. Sementara itu, pada subjek II, dengan skor awal yang sama, terjadi penurunan sebesar 44 persen setelah mengikuti terapi berkebun. Temuan ini menunjukkan bahwa terapi okupasi berkebun dapat digunakan sebagai salah satu metode nonfarmakologis yang efektif dalam penanganan halusinasi pendengaran pada pasien dengan gangguan jiwa
PERBEDAAN KECERDASAN EMOSI ANTARA SISWA SMA SWASTA NASIONAL NAMOTERASI (SEKOLAH REGULER) DAN SMA AGAMA DI SMAS GKPI PADANG BULAN (SEKOLAH AGAMA) Rhiesqi Chintia Fonna; Emarco Sani Tribrata Simaremare
Jurnal Genta Mulia Vol. 16 No. 2 (2025): JURNAL GENTA MULIA
Publisher : LPPM Universitas Cipta Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine the differences in emotional intelligence between students from regular senior high schools and religious-based senior high schools. The research involved 265 students from grade X and XI, drawn from SMAS Nasional Namoterasi (regular school) and SMAS GKPI Padang Bulan (religious school). An ex post facto method with a comparative approach was applied, using a questionnaire that assessed five key aspects of emotional intelligence: self-awareness, emotional regulation, self-motivation, empathy, and relationship management. The instrument was found to be both valid and reliable (α = 0.954). Normality and homogeneity tests confirmed that the data were normally distributed and homogeneous. A t-test analysis revealed a significant difference between the two groups (p < 0.05), showing that students in the religious school exhibited significantly higher emotional intelligence levels compared to those in the regular school. The empirical mean of emotional intelligence in the religious school exceeded the hypothetical mean, while the regular school fell below it. These findings suggest that the integration of spiritual values and religious activities in the curriculum significantly contributes to students' emotional development. This study highlights the importance of incorporating moral and emotional values into education to support the holistic development of students.