Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia menghadapi tantangan epokal berupa arus globalisasi yang mengubah lanskap pendidikan secara fundamental. Artikel ini menganalisis dinamika transformasi pesantren menuju world-class Islamic institution melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan kerangka analisis lima dimensi, yakni ontologis, epistemologis, aksiologis, metodologis-integratif, dan teleologis-transformatif. Melalui proses empat fase transformasi, yaitu refleksi tradisional, adaptasi selektif, integrasi strategis, dan transformasi global, penelitian ini memetakan trajektori perubahan yang dialami pesantren dalam merespons tuntutan pendidikan global tanpa kehilangan identitas keislamannya. Studi kasus terhadap Pesantren Modern Gontor, Pesantren Darussalam Blokagung, dan Pesantren Al-Zaytun mengungkap model transformasi yang beragam namun saling melengkapi. Analisis kritis mengidentifikasi empat risiko utama, meliputi erosi identitas tradisional, komodifikasi pendidikan Islam, disparitas akses dan kualitas, serta isomorfisme institusional, yang mengancam keberlangsungan transformasi tersebut. Temuan menunjukkan bahwa transformasi pesantren yang berkelanjutan memerlukan keseimbangan dialektis antara pelestarian tradisi dan inovasi strategis, di mana globalisasi bukan direspons sebagai ancaman melainkan sebagai katalisator penguatan institusional yang tetap berakar pada nilai-nilai keislaman autentik