Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Penguatan Keamanan Maritim untuk Perlindungan Sumber Daya Tuna di Wilayah Laut Sulawesi Siti Febriyanti Mohamad; Destian Khaldiansyah Rauf
Journal of Comprehensive Science Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v5i1.3969

Abstract

Kawasan Laut Sulawesi merupakan wilayah perbatasan strategis yang menyimpan potensi sumber daya laut melimpah, khususnya komoditas tuna. Namun, letak geografis ini juga memicu kerentanan terhadap ancaman keamanan maritim non-tradisional, seperti kejahatan lintas negara dan eksploitasi berlebihan yang mengancam stabilitas regional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi penguatan keamanan maritim sebagai upaya perlindungan dan pengelolaan berkelanjutan terhadap sumber daya tuna di Laut Sulawesi. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-evaluatif yang berbasis pada studi literatur. Data dikumpulkan dari artikel ilmiah, dokumen kebijakan, serta laporan resmi pemerintah terkait isu keamanan laut dan pengelolaan perikanan, Hasil kajian merumuskan tiga strategi utama dalam memperkuat keamanan maritim: Optimalisasi Pengawasan Terpadu: Mengintegrasikan kekuatan armada patroli Bakamla dan TNI AL dengan dukungan teknologi radar, AIS, serta satelit penginderaan jauh untuk memperluas jangkauan deteksi di wilayah perbatasan. Ketegasan Penegakan Hukum: Mengimplementasikan regulasi perikanan secara konsisten melalui tindakan represif terhadap pelaku Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing guna memberikan efek jera. Diplomasi Maritim Regional: Memperkuat kerja sama trilateral antara Indonesia, Filipina, dan Malaysia dalam bentuk patroli bersama dan sinkronisasi regulasi guna menekan angka pencurian ikan lintas batas.
ANALISIS SWOT TERHADAP DINAMIKA SOSIAL DAN EKONOMI MASYARAKAT PERBATASAN: STUDI KASUS PULAU SEBATIK INDONESIA-MALAYSIA Moh. Falmes Lakadjo; Widiyanti Tanaiyo; Siti Febriyanti Mohamad; Mohamad Ikbal Kadir
Akademika : Jurnal Ilmiah Media Publikasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 15, No 1 (2026): Jurnal Akademika
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31314/akademika.v15i1.5958

Abstract

Border areas possess distinctive characteristics shaped by cross-border social, economic, and institutional interactions. Sebatik Island, located on the Indonesia–Malaysia border, faces various opportunities and challenges that influence community dynamics and regional development. This study aims to analyze the social and economic dynamics of the Sebatik Island community using the Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT) approach to identify strategic factors affecting border area development. A qualitative descriptive approach was employed. Data were collected through in-depth interviews, field observations, documentation, and literature review, and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, followed by SWOT analysis to formulate strategic development alternatives. The findings indicate that community dynamics are strongly influenced by cross-border interactions that shape social relations, trade activities, and economic mobility. Social capital, a strategic geographical position, and local economic potential constitute the main strengths of the area, while dependence on Malaysian goods, limited infrastructure, and suboptimal public services remain significant weaknesses. Opportunities arise from government policies on border development and expanding cross-border economic cooperation, whereas illegal trade, development disparities, and economic dependence on neighboring countries pose substantial challenges. The study concludes that sustainable border area development requires integrated strategies encompassing local economic empowerment, infrastructure improvement, better public services, and strengthened border governance to enhance community welfare while reinforcing national sovereignty