Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

SOSIALISASI DAN EDUKASI PENGGOLONGAN DAN PENYIMPANAN OBAT SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PENGGUNAAN OBAT RASIONAL DI POSYANDU AS-SYIFA, KECAMATAN LABUHAN RATU, KOTA BANDAR LAMPUNG Denny Ardhianto; Made Laksmi Meiliana; Syaripah Ulandari; Okta Puspita; Novita Sari; M. Aditya Permana; Maya Ulfah; Andriansyah
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 11 No. 1 (2026): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v11i1.3832

Abstract

Penggunaan obat secara rasional merupakan salah satu dasar utama dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang aman, efektif, dan berkualitas. Namun, penggunaan obat yang tidak rasional masih menjadi masalah kesehatan global yang serius dan dapat menyebabkan resistensi antimikroba, peningkatan efek samping obat, pemborosan sumber daya, serta penurunan kualitas pengobatan. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan golongan dan penyimpanan obat melalui edukasi di Posyandu As-Syifa Kecamatan Labuhan Ratu Kota Bandar Lampung. Sasaran dalam kegiatan ini adalah masyarakat Posyandu As-Syifa, Kecamatan Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung sebanyak 23 orang. Metode yang digunakan pada kegiatan ini mencakup pelaksanaan Pre-Evaluasi yang dipandu oleh kader dan pengabdi. Kemudian dilakukan pembagian leaflet informasi mengenai golongan obat. Kegiatan diakhiri dengan kegiatan tanya jawab dan Post-Evaluasi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan pengetahuan antara hasil pre-evaluasi dan post-evaluasi pada 23 responden. Hasil analisis menunjukkan tingkat pemahaman pada pre-evaluasi sebesar 83%, kemudian meningkat menjadi 98% pada post-evaluasi setelah pemberian edukasi. Edukasi ini terbukti efektif untuk meningkatkan pengetahuan mengenai penggolongan obat dan cara simpan obat di Posyandu As-Syifa Kecamatan Labuhan Ratu Kota Bandar Lampung.
Analisis Drug Related Problem (DRPs) Pada Pasien Congestive Heart Failure (CHF) di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit X Kota Bandar Lampung Made Laksmi Meiliana; Nihayatul Masykuro; Syaripah Ulandari; Okta Puspita; Denny Ardhianto
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 7, No 1 (2026): Januari
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v7i1.36553

Abstract

Congestive Heart Failure (CHF) merupakan kondisi ketidakmampuan jantung untuk mempertahankan curah jantung yang cukup guna memenuhi kebutuhan oksigen dan metabolik jaringan meskipun aliran balik vena memadai. Drug Related Problems (DRPs) adalah kejadian atau keadaan yang melibatkan terapi obat yang dapat berpotensi mengganggu hasil kesehatan yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya kejadian DRPs pada pasien CHF dan mengidentifikasi persentase tertinggi kejadian DRPs pada pasien CHF di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit X Kota Bandar Lampung tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif yaitu data diperoleh dari bulan Januari-Desember 2024. Lima puluh satu sampel dari penelitian ini diambil menggunakan purposive sampling. Pasien CHF pada penlitian ini sejumlah 51 pasien dengan 38 (74,51%) laki-laki dan 13 (25,49%) pasien perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian DRPs pada pasien CHF cukup tinggi, yaitu sebesar 87,93%. Jenis kejadian dengan persentase tertinggi terdapat pada kategori pemilihan obat, sebanyak 165 kejadian (59,36%). Pada kategori efektivitas pengobatan ditemukan 54 (19,43%) kejadian, keamanan terapi 51 (18,35%), pemilihan obat 165 (59,36%), dan pemilihan dosis 8 (2,88%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat subkategori dengan presentase tertinggi penggunaan obat yang tidak sesuai dengan pedoman atau formularium dengan jumlah 50 (17,99%) kejadian.
Antibiotik Fluorokuinolon Terhadap Penetrasi Jaringan Pada Pasien Dengan Gangguan Ginjal Denny Ardhianto
Sains Medisina Vol 4 No 2 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i2.940

Abstract

Fluorokuinolon merupakan salah satu golongan antibiotika yang banyak digunakan dalam praktik klinik karena spektrum aktivitasnya yang luas serta kemampuan penetrasi jaringan yang baik. Keberhasilan terapi fluorokuinolon tidak hanya ditentukan oleh aktivitas antibakterinya, tetapi juga oleh karakteristik farmakokinetik, terutama distribusi dan eliminasi obat. Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, terjadi perubahan fisiologis yang dapat memengaruhi farmakokinetika fluorokuinolon, khususnya penurunan klirens renal yang menyebabkan peningkatan kadar obat dalam plasma. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko toksisitas tanpa selalu diikuti oleh peningkatan efektivitas klinis. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh gangguan fungsi ginjal terhadap penetrasi fluorokuinolon ke jaringan serta implikasinya dalam praktik klinik. Berdasarkan telaah literatur, peningkatan konsentrasi plasma fluorokuinolon pada pasien dengan gangguan ginjal tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan konsentrasi obat di jaringan target infeksi. Penetrasi jaringan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain perubahan perfusi jaringan, ikatan protein plasma, gangguan mikrosirkulasi, dan akumulasi toksin uremik. Ketidaksesuaian antara kadar plasma dan kadar jaringan obat menunjukkan bahwa evaluasi keberhasilan terapi tidak dapat hanya didasarkan pada konsentrasi sistemik. Oleh karena itu, penggunaan fluorokuinolon pada pasien dengan gangguan ginjal memerlukan pendekatan terapi yang individual melalui penyesuaian dosis, pemilihan obat yang tepat, serta pemantauan klinis dan laboratorik yang berkesinambungan guna mencapai keseimbangan optimal antara efektivitas dan keamanan terapi.
Edukasi penggunaan antibiotik yang bijak untuk pencegahan resistensi di Kelurahan Bumi Waras Kota Bandar Lampung Ihsanti Dwi Rahayu; Dwi Aulia Ramdini; Citra Yuliyanda Pardilawati; Okta Puspita; Made Laksmi Meiliana; Denny Ardhianto; Syaripah Ulandari; Athaya Aulia Rannisa; Azzahra Hasrianti; Putri Berliana
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.40232

Abstract

Abstrak Penggunaan antibiotik yang semakin luas di masyarakat perlu diimbangi dengan pemahaman yang baik mengenai fungsi dan aturan pakai yang bijak dalam penggunaannya. Rendahnya pemahaman masyarakat mengenai penggunaan antibiotik yang bijak dapat meningkatkan risiko terjadinya resistensi antibiotik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung bekerja sama dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Universitas Lampung Tahun 2026 bertujuan untuk memberikan edukasi secara langsung kepada ibu-ibu kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) terkait penggunaan antibiotik yang bijak serta bahaya resistensi antibiotik. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan metode edukasi secara langsung melalui media seperti slide presentasi, flyer, dan poster. Evaluasi keberhasilan edukasi dilakukan melalui pengisian kuesioner dengan pendekatan one-group pretest–posttest. Analisis statistik dilakukan pada hasil pengisian kuesioner untuk melihat ada tidaknya perubahan pemahaman peserta sebelum dan sesudah edukasi. Kegiatan pengabdian ini diikuti oleh 25 orang ibu-ibu kader PKK dengan hasil pretest menunjukkan rata-rata nilai peserta 82,80±11,37 sedangkan rata-rata nilai posttest meningkat menjadi 95,60±7,11. Hasil uji statistik Wilcoxon Signed-Rank menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan dan pemahaman peserta yang signifikan (p < 0,05) dari pemberian edukasi. Kegiatan pengabdian ini dapat menjadi salah satu strategi upaya promotif terkait penggunaan antibiotik yang bijak guna mendukung upaya pencegahan resistensi antibiotik di masyarakat. Kata kunci: antibiotik; edukasi; bijak konsumsi; resistensi antibiotik; pencegahan Abstract The increasingly widespread use of antibiotics in the community needs to be balanced with a good understanding of their function and wise usage rules. Low public understanding of the wise use of antibiotics can increase the risk of antibiotic resistance. Community service activities in Bumi Waras Village, Bandar Lampung City in collaboration with the University of Lampung's 2026 Impactful Community Service Program (KKN) aimed to provide direct education to women cadres of the Family Empowerment and Welfare (PKK) regarding the wise use of antibiotics and the dangers of antibiotic resistance. This service activity was carried out using direct educational methods through media such as presentation slides, flyers, and posters. Evaluation of the success of the education was carried out by filling out a questionnaire with a one-group pretest–posttest approach. Statistical analysis was conducted on the results of the questionnaire to see whether there were changes in participants' understanding before and after the education. This service activity was attended by 25 women cadres of the PKK with pretest results showing an average score of 82.80±11.37 while the average posttest score increased to 95.60±7.11. The Wilcoxon Signed-Rank test results showed a significant increase (p < 0.05) in participants' knowledge and understanding as a result of the education provided. This community service activity can be a promotional strategy for the wise use of antibiotics to support efforts to prevent antibiotic resistance in the community. Keywords: antibiotics; education; prudent use; antibiotic resistance; prevention
Evaluation of antibiotic use rationality in typhoid fever patients at TK IV 02.07.04 Hospital, Bandar Lampung, using the Gyssens method Denny Ardhianto; Made Laksmi Meiliana; Eka Soraya
Indonesian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research Vol. 9 No. 01 (2026): Indonesian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/idjpcr.v9i01.24614

Abstract

Typhoid fever, an infection caused by Salmonella typhi, remains an endemic public health problem in Indonesia, with an estimated 11–20 million cases reported globally each year. Antibiotics are the mainstay of treatment; however, irrational use may lead to bacterial resistance and increased complications. This study aimed to evaluate the rationality of antibiotic use in patients with typhoid fever at TK IV 02.07.04 Hospital, Bandar Lampung, in 2023 using the Gyssens method. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted using 121 medical records of typhoid fever patients from 2023, selected through purposive sampling based on predefined inclusion criteria. Data were analyzed descriptively using the Gyssens method to classify the rationality of antibiotic use (categories 0–VI) and processed using Microsoft Excel. The majority of patients were male (71%), aged 20–35 years (83%), and had a body weight of 61–90 kg (69%). Ceftriaxone was administered to all patients (100%), predominantly at a dose of 1 gram every 12 hours (98%) and for a duration of 5–6 days (76%). Gyssens evaluation revealed that 75% of antibiotic use was classified as rational (category 0), while 25% was irrational, mainly due to excessively short duration of therapy (24%, category IIIB) and inappropriate dosing (1%, category IIA). The use of ceftriaxone was generally consistent with the Indonesian Ministry of Health Regulation No. 28 of 2021; however, deviations related to treatment duration of less than five days and suboptimal dosing frequency contributed to irrational use. Male patients exhibited a higher risk, potentially associated with increased outdoor activities and lower hygiene practices. These findings highlight the need for stricter monitoring to minimize antimicrobial resistance and optimize therapeutic outcomes. In conclusion, most antibiotic use in typhoid fever patients was rational (75%); nevertheless, a substantial proportion (25%) remained irrational due to noncompliance with recommended duration and dosing. Enhanced adherence to national guidelines and improved hygiene education are recommended to support prevention efforts and control bacterial resistance.