Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

UJI ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL JAHE MERAH (Zingiber Officinale Var Rubrum Rhizoma) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus Rizki Nisfi Ramdhini; Dwi Aulia Ramdini; Citra Yuliyanda Pardilawati
Jurnal Kesehatan : Jurnal Ilmiah Multi Sciences Vol 12 No 02 (2022): JURNAL KESEHATAN : JURNAL ILMIAH MULTI SCIENCES
Publisher : STIK SITI KHADIJAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52395/jkjims.v12i02.351

Abstract

Jahe merah (Zingiber Officinale Var Rubrum Rhizoma) merupakan tumbuhan yang banyak ditemukan di Indonesia. Masyarakat lokal sering memanfaatkan rimpangnya untuk mengobati berbagai penyakit sebagai antibakteri, antioksidan, antiinflamasi, analgesik, diuretik, antijamur, antikanker, dan antivirus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol jahe merah terhadap bakteri Staphyococcus aureus. Penelitian ini dilakukan melalui tahap maserasi, skrining fitokimia, pengujian aktivitas antibakteri ekstrak jahe merah dengan penentuan zona hambat. Metode penelitian skrining fitokimia dilakukan dengan uji warna menggunakan berbagai pereaksi. Teknik analisis data dilakukan dengan uji One Way Anova. Hasil penelitian pada skrining fitokimia diperoleh positif mengandung alkaloid, terpenoid, flavonoid, saponin dan tanin. Hasil rata-rata zona diameter ekstrak daun etanol jahe merah pada Staphylococcus aureus dengan konsentrasi 40%, 60%, 80% adalah 8 mm, 8,2 mm, 9,3 mm dan 10 mm. Hasil analisis One Way Anova pada uji antibakteri dengan nilai sig 0,00< 0,05 menunjukan adanya perbedaan yang signifikan dari masing-masing konsentrasi terhadap daya hambat. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol jahe merah memiliki aktivitas terhadap Staphylococcus aureus.
Hubungan Paritas Dengan Kejadian Kanker Serviks: Tinjauan Pustaka Nathasya Karren Zeta Nathasya Karren Zeta; Rasmi Zakiah Oktarlina; Dwi Aulia Ramdini; M. Fitra Wardhana
Medula Vol 13 No 4 (2023): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v13i4.739

Abstract

Cervical cancer is a malignancy of the uterine cervix. Cervical cancer is one of the cancers that most often causes death in women in the world, especially in developing countries where one of the main causes is infection with the Human Papilloma Virus (HPV). The incidence of cervical cancer both in Indonesia and in the world tends to increase from year to year. The latest data shows that in 2018 there were 570,000 cases of cervical cancer in the world and in 2013 as many as 98,692 cases of cervical cancer occurred in Indonesia. According to the American Cancer Society, factors that can increase the risk of developing cervical cancer are HPV infection, family history of cervical cancer, use of hormonal birth control types, sexual behavior, age, parity, inappropriate diets that tend to be unhealthy diets and smoking habits. The number of parity of a woman associated with the incidence of cervical cancer. This is because every delivery, the cervix will experience trauma during the remodeling process. Deviations during the remodeling process cause changes in the extracellular components which impact important molecules that act as anticancer, namely E-Cadherin where the content will decrease in the cervical membrane so that the risk of cervical cancer will increase.
Pengetahuan dan Persepsi Apoteker Terhadap Penggunaan Obat Off-Label di Indonesia: Pharmacist's Knowledge and Perception of Off-Label Drugs Use in Indonesia Dwi Aulia Ramdini; Sarmoko; Ihsanti Dwi Rahayu; Muhammad Iqbal; Ramadhan Triyandi; Dika Pramita Destiani
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 6 No. 01 (2023): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.807 KB) | DOI: 10.35473/ijpnp.v6i01.2219

Abstract

Off-label drugs are generally used in clinical practice but require close monitoring by health workers, especially pharmacists. Pharmacists need knowledge regarding the potential benefits and dangers of off-label medications to ensure the safety of drug users. This study aims to determine pharmacists' knowledge and perceptions of using off-label drugs in Indonesia. The study design used in this study was a cross-sectional study with an analytic observational approach using off-label drug-related questionnaires conducted online. Results of this study a total of 174 pharmacist respondents filled out a complete questionnaire with the result that 86% of the respondents had good knowledge regarding off-label drugs, and the rest were classified as poor (14%). Pharmacist respondents said they focused on safety (96.55%), efficacy (86.55%), medication history (72.99%), cost efficiency (61.49%), and also the target population (32.76%) in the use of off-label drugs. Based on factor analysis, the experience of preparing off-label drugs was significantly related to respondents' knowledge (p=0.041). In contrast, the factors of gender (p=0.777), age (p=0.677), last education (p=0.801), and years of service (p=0.541) there is no significant relationship. Conclusions of this study is The majority of pharmacist respondents in this study had good knowledge regarding the use of off-label drugs and agreed that pharmacists play an important role in monitoring the side effects of off-label use. In addition, almost all pharmacist respondents perceived that drug safety was the dominant factor for the consideration of off-label drug use. ABSTRAK Obat off-label umumnya digunakan dalam praktik klinis, namun dalam penggunaannya diperlukan pemantauan yang ketat oleh tenaga kesehatan, khususnya oleh apoteker. Pengetahuan terkait manfaat dan bahaya obat off-label diperlukan apoteker dalam menjamin keamanan dan keselamatan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan persepsi apoteker terhadap penggunaan obat off-label di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah studi cross-sectional dengan pendekatan observasional analitik melalui penggunaan kuesioner terkait obat off-label yang dilakukan secara online. Hasil penelitian sebanyak 174 responden apoteker terdapat 86% responden memiliki pengetahuan yang baik terkait obat off-label, dan sebagian lainnya tergolong kurang baik (14%). Responden apoteker menyatakan memiliki fokus terhadap faktor keamanan (96,55%), kemanjuran (86,55%), riwayat pengobatan (72,99%), efisiensi biaya (61,49%), dan target populasi (32,76%) dalam penggunaan obat off-label. Berdasarkan analisis faktor, pengalaman menyiapkan obat off-label berhubungan signifikan terhadap pengetahuan responden (p=0,041), sedangkan faktor jenis kelamin (p=0,777), umur (p=0,677), pendidikan terakhir (p=0,801), dan masa kerja (p=0,541) tidak terdapat hubungan signifikan. Kesimpulan penelitian ini adalah mayoritas responden apoteker memiliki pengetahuan yang baik terkait penggunaan obat off-label dan menyetujui bahwa apoteker berperan penting dalam monitoring efek samping penggunaan off label. Selain itu, hampir keseluruhan responden apoteker memiliki persepsi dimana faktor pertimbangan penggunaan obat off-label yang dominan adalah faktor terkait keamanan obat.
Pengaruh Konseling Apoteker terhadap Peningkatan Kepatuhan Terapi Pasien DM: Narrative Review Melisa Yasmin; Dwi Aulia Ramdini; Ihsanti Dwi Rahayu; Nurma Suri
Sains Medisina Vol 4 No 4 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i4.1047

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis dengan prevalensi tinggi yang memerlukan terapi jangka panjang serta kepatuhan pasien yang optimal. Rendahnya kepatuhan terhadap terapi pada pasien diabetes meningkatkan risiko komplikasi serius, menurunkan kualitas hidup, serta membebani sistem pelayanan kesehatan. Salah satu intervensi penting untuk meningkatkan kepatuhan adalah konseling oleh apoteker yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pasien terhadap penyakitnya, kepatuhan dalam penggunaan obat, serta perbaikan hasil klinis. Tujuan dari narrative review ini adalah mengulas pengaruh konseling apoteker terhadap kepatuhan terapi pada pasien DM berdasarkan bukti empiris terkini. Artikel ditelusuri melalui database Google Scholar dan PubMed, menggunakan kata kunci yang relevan dan dibatasi pada tahun publikasi 2020–2025. Total terdapat 32 artikel yang ditemukan, 10 artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi: tersedia dalam full-text, open access, berbahasa Indonesia atau Inggris, dan secara spesifik meneliti intervensi konseling apoteker pada pasien diabetes. Hasil narrative review menunjukkan bahwa konseling apoteker secara signifikan meningkatkan kepatuhan konsumsi obat, menurunkan kadar glukosa darah puasa, menurunkan HbA1c, memperbaiki profil lipid, serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Metode konseling bervariasi, mulai dari kunjungan rumah (home pharmacy care), pendekatan individual, hingga program komunitas seperti Prolanis. Secara keseluruhan, konseling apoteker terbukti efektif dan layak diintegrasikan secara berkelanjutan ke dalam layanan kefarmasian untuk mendukung keberhasilan terapi pada pasien DM.
Pengaruh Pemberian Pill Card terhadap Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi Rawat Jalan Puskesmas Rawat Inap Satelit Bandar Lampung Audry Lintang Hasanuddin; Rasmi Zakiah Oktarlina; Dwi Aulia Ramdini; Oktafany Oktafany
OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2026): Januari: OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/obat.v4i1.2004

Abstract

Hypertension is one of the most common non-communicable diseases in Indonesia. Hypertensive patients must have high self-efficacy to comply with antihypertensive medication so that blood pressure can be controlled and complications prevented. Therefore, intervention is needed to improve therapy compliance. One intervention that can be given is the provision of pill cards. This study was a quasi-experimental design with a pre-intervention post-intervention control group design. Sampling was conducted using non-probability purposive sampling from July to September 2025. A total of 106 respondents were divided into two groups, with 53 respondents in the control group and 53 respondents in the intervention group. The control group was only given the MMAS-8 questionnaire, while the intervention group was given pill cards and the MMAS-8 questionnaire. In the intervention group, prior to intervention, 25 patients (47.2%) had low compliance, 21 patients (39.6%) had moderate compliance, and 7 patients (13.2%) had high compliance. After the intervention, there was a significant increase, with 21 patients (39.6%) showing high compliance, 26 patients (49.1%) showing moderate compliance, and 6 patients (11.3%) showing low compliance. Providing pill cards to outpatients with hypertension can improve patient medication adherence. Based on the results of the Wilcoxon Signed Ranks Test, a value of (p<0.001) was obtained, indicating that H0 was rejected and there was a significant effect.
Identifikasi Potentially Inappropriate Medication (PIM) pada Pasien Hipertensi Geriatri di Rumah Sakit berdasarkan Kriteria Beers Angelica Asmara Basanti; Citra Yuliyanda Pardilawati; Dwi Aulia Ramdini; Ervina Damayanti
Sains Medisina Vol 4 No 2 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i2.889

Abstract

Penggunaan obat yang tidak tepat atau Potentially Inappropriate Medication (PIM) pada pasien hipertensi dengan geriatri merupakan masalah penting karena dapat meningkatkan risiko efek samping dan interaksi obat. PIM merujuk pada obat yang memberikan risiko lebih besar daripada manfaat pada lansia akibat perubahan fisiologis terkait usia. Tinjauan ini menilai kejadian PIM pada pasien hipertensi geriatri berdasarkan Kriteria Beers melalui penelusuran artikel 2015–2025, dan enam studi memenuhi kriteria inklusi. Prevalensi PIM cukup tinggi (61–98%) dan dipengaruhi polifarmasi, komorbiditas, durasi perawatan, serta ketidaktepatan dosis atau indikasi. Obat yang sering termasuk PIM yaitu diuretik, nifedipin, klonidin, spironolakton, NSAID, dan obat kardiovaskular. Kajian ini menegaskan perlunya pemeriksaan obat dan skrining PIM secara berkala khususnya pada pasien geriatri dengan hipertensi.
Integrasi Prinsip Green Pharmacy dalam Praktik Pembuangan dan Pengelolaan Sisa Obat: Sebuah Kajian Literatur Dela Rizkiana; Ervina Damayanti; Dwi Aulia Ramdini; Muhammad Fitra Wardhana Sayoeti
Sains Medisina Vol 4 No 3 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i3.906

Abstract

Peningkatan konsumsi obat secara global menyebabkan meningkatnya volume sisa obat rumah tangga yang sering dibuang secara tidak tepat, sehingga memicu pencemaran lingkungan dan risiko resistensi antimikroba. Prinsip Green Pharmacy ditujukan untuk meminimalkan dampak tersebut melalui pendekatan keberlanjutan dalam penggunaan dan pembuangan obat. Kajian literatur ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip Green Pharmacy dalam pengelolaan sisa obat dan mengidentifikasi tantangan yang muncul pada berbagai konteks. Studi Kajian literatur ini dilakukan melalui penelusuran daring menggunakan database seperti PubMed, Sciencedirect dan Google Scholar, dengan kata kunci yang telah ditentukan. Kriteria inklusi mencakup artikel berbahasa Inggris atau Indonesia, full-text, dipublikasikan tahun 2020–2025, dan relevan dengan praktik pembuangan obat yang berkelanjutan. Sebanyak 8 artikel memenuhi kriteria dan dianalisis lebih lanjut. Hasil kajian menunjukkan bahwa negara dengan sistem kesehatan maju telah menerapkan langkah-langkah komprehensif, seperti program take-back nasional, edukasi pasien, pengurangan obat berlebih melalui peninjauan resep, serta peningkatan transparansi dampak lingkungan obat. Sementara itu, negara lain masih menghadapi hambatan berupa rendahnya literasi masyarakat, kurangnya pedoman operasional, keterbatasan infrastruktur, serta peran apotek yang belum optimal sebagai pusat pengumpulan obat. Sebagian besar masyarakat di berbagai negara masih membuang obat ke sampah domestik, berkontribusi pada pencemaran air dan tanah. Dengan demikian,dapat disimpulkan bahwa penerapan prinsip Green Pharmacy telah dilakukan di berbagai negara dengan tingkat implementasi yang bervariasi. Variasi tersebut dipengaruhi oleh dukungan regulasi, ketersediaan infrastruktur, peran apotek, serta tingkat literasi masyarakat. Oleh karena itu, integrasi prinsip Green Pharmacy memerlukan penguatan kebijakan, kolaborasi lintas sektor, dan peningkatan edukasi publik guna mendukung pengelolaan sisa obat yang aman dan berkelanjutan.