p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Lateralisasi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TRANSFORMASI ESTETIKA PUISI LISAN KE PUISI AUDIOVISUAL DI TIKTOK SEBAGAI PRAKTIK ESKPRESI SASATRA GENERASI Z: KAJIAN FENOMENOLOGI SASTRA Ida Sufrotushofi; Muhamad Haryanto
Lateralisasi Vol. 14 No. 1 (2026): JULI 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Pendidikan Universitas Muhammmadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/lateralisasi.v14i1.10921

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mendorong terjadinya transformasi bentuk sastra, khususnya puisi, dari bentuk lisan menuju bentuk audiovisual yang banyak berkembang di media sosial TikTok. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan estetika dalam cara puisi diproduksi, disebarluaskan, dinikmati, dan dimaknai oleh Generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menganalisis pengalaman estetik Generasi Z dalam transformasi puisi lisan menjadi puisi audiovisual di TikTok serta bagaimana mereka menikmati, memaknai, dan mengekspresikannya melalui perspektif fenomenologi sastra. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi sastra. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap empat kreator dan tiga penikmat puisi audiovisual TikTok yang berasal dari Generasi Z. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi puisi lisan ke puisi audiovisual menghadirkan bentuk estetika baru melalui perpaduan unsur teks, suara, musik, visual, dan teknologi digital. Bagi kreator, puisi audiovisual menjadi media ekspresi diri yang memungkinkan penggabungan kreativitas sastra dan visual dalam satu karya. Sementara itu, bagi penikmat, unsur visual dan audio membantu memperkuat pengalaman emosional, mempermudah pemahaman makna, serta menciptakan keterhubungan dengan pengalaman hidup pribadi. Dalam perspektif fenomenologi sastra, makna puisi audiovisual terbentuk melalui pengalaman subjektif penikmat yang dipengaruhi oleh latar pengalaman, emosi, dan konteks kehidupan masing-masing. TikTok juga berperan sebagai ruang ekspresi sastra digital yang memperluas akses, apresiasi, dan partisipasi Generasi Z dalam praktik kesusastraan. Dengan demikian, puisi audiovisual di TikTok dapat dipahami sebagai bentuk transformasi estetika sastra yang relevan dengan budaya digital sekaligus menjadi praktik ekspresi sastra Generasi Z di era media sosial.
KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PIDATO PERDANA PREIDEN RI KE-8 PRABOWO SUBIANTO TAHUN 2024 Ida Sufrotushofi; Ananda Ayu Wahdini; Fahrudin Eko Hardianto; Etika Widi Utami
Lateralisasi Vol. 13 No. 1 (2025): LATERALISASI
Publisher : Fakultas Keguruan dan Pendidikan Universitas Muhammmadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/lateralisasi.v13i1.8160

Abstract

Kesantunan berbahasa dalam Pidato perdana presiden Republik Indonesia Ke-8 yaitu Bapak Prabowo Subianto. Berdasarkan konteksnya, teori kesantunan berbahasa yang dikemukakan oleh Geoffrey Neil Leech menjadi alat analisis yang relevan untuk memahami prinsip kesantunan. Teori Leech membagi kesantunan ke dalam enam maksim utama: kebijaksanaan, kedermawanan, penghargaan, kesepakatan, simpati, dan manfaat. Tujuan artikel penelitian ini adalah menganalisis kesantunan berbahasa dalam Pidato perdana presiden RI Ke-8 Prabowo Subianto tahun 2024 menggunakan teori kesantunan berbahasa Geoffrey Neil Leech. Data dalam artikel penelitian ini diperoleh dari transkrip debat resmi yang disiarkan oleh media online (YouTube). Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Teknik analisis data meliputi langkah-langkah berikut (1) Pengumpulan Data: Merekam dan menyalin seluruh isi perdebatan; (2) Data Identifikasi: Menandai ujaran-ujaran yang mengandung pelanggaran prinsip kesantunan; (3) Klasifikasi Data: Mengelompokkan data berdasarkan jenis pelanggaran maksim menurut teori Leech; (4) Analisis Data: Menganalisis konteks dan dampak pelanggaran terhadap komunikasi dalam perdebatan. Berdasarkan hasil dan pembahasa terdapat kesan berbahasa berupa: 4 maksim kebijaksanaan, 2 maksim kemudahan, 3 maksim penghargaan, 2 maksim simpati, 3 maksim dermawan, 1 maksim kemufakatan.