Perkembangan teknologi digital telah mendorong terjadinya transformasi bentuk sastra, khususnya puisi, dari bentuk lisan menuju bentuk audiovisual yang banyak berkembang di media sosial TikTok. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan estetika dalam cara puisi diproduksi, disebarluaskan, dinikmati, dan dimaknai oleh Generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menganalisis pengalaman estetik Generasi Z dalam transformasi puisi lisan menjadi puisi audiovisual di TikTok serta bagaimana mereka menikmati, memaknai, dan mengekspresikannya melalui perspektif fenomenologi sastra. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi sastra. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap empat kreator dan tiga penikmat puisi audiovisual TikTok yang berasal dari Generasi Z. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi puisi lisan ke puisi audiovisual menghadirkan bentuk estetika baru melalui perpaduan unsur teks, suara, musik, visual, dan teknologi digital. Bagi kreator, puisi audiovisual menjadi media ekspresi diri yang memungkinkan penggabungan kreativitas sastra dan visual dalam satu karya. Sementara itu, bagi penikmat, unsur visual dan audio membantu memperkuat pengalaman emosional, mempermudah pemahaman makna, serta menciptakan keterhubungan dengan pengalaman hidup pribadi. Dalam perspektif fenomenologi sastra, makna puisi audiovisual terbentuk melalui pengalaman subjektif penikmat yang dipengaruhi oleh latar pengalaman, emosi, dan konteks kehidupan masing-masing. TikTok juga berperan sebagai ruang ekspresi sastra digital yang memperluas akses, apresiasi, dan partisipasi Generasi Z dalam praktik kesusastraan. Dengan demikian, puisi audiovisual di TikTok dapat dipahami sebagai bentuk transformasi estetika sastra yang relevan dengan budaya digital sekaligus menjadi praktik ekspresi sastra Generasi Z di era media sosial.