Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGEMBANGAN MODEL EDUKASI PENCEGAHAN HOAKS MELALUI MEDIA SOSIAL Aden Gunawan; Nurhidayanti. S; Fadel Fadel; Mukhtar Galib; Amiruddin Amiruddin
Jurnal Riset Pendidikan Multidisiplin dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2026): Juni-Juli
Publisher : SMA Negeri 1 Bangkinang Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrppm.v2i1.255

Abstract

Penyebaran hoaks melalui media sosial menjadi salah satu tantangan utama dalam kehidupan masyarakat digital karena berpotensi menimbulkan disinformasi, konflik sosial, serta menurunkan kepercayaan publik terhadap informasi yang beredar. Rendahnya literasi digital dan kemampuan masyarakat dalam memverifikasi informasi menyebabkan hoaks semakin mudah diterima dan disebarluaskan. Artikel ini bertujuan mengembangkan model edukasi pencegahan hoaks melalui media sosial sebagai rancangan program pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada penguatan literasi digital. Kajian dilakukan menggunakan pendekatan konseptual melalui analisis dan sintesis berbagai literatur yang berkaitan dengan literasi digital, media sosial, penyebaran hoaks, fact-checking, dan pemberdayaan masyarakat. Hasil kajian menghasilkan model edukasi yang terdiri atas lima tahapan, yaitu analisis kebutuhan masyarakat, penyusunan materi edukasi, pelaksanaan edukasi, praktik verifikasi informasi (fact-checking), serta evaluasi dan tindak lanjut. Model tersebut dirancang sebagai kerangka sistematis untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali, memverifikasi, dan menyebarluaskan informasi secara bertanggung jawab melalui media sosial. Model konseptual yang diusulkan diharapkan dapat menjadi referensi bagi perguruan tinggi, pemerintah, sekolah, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan dalam merancang program pengabdian yang lebih terstruktur, adaptif, dan berkelanjutan guna memperkuat literasi digital serta mengurangi penyebaran hoaks di masyarakat.
Pengaruh Gaya Hidup Fomo terhadap Konsumtif dan Keputusan Pembelian Implusif Mahasiswa Universitas Bosowa Angkatan 2025 Feby Aprilya Nansya; Ahrinda Dwi Safira; Inggrid Inggrid; Grace Lestari; Muhammad Imam Hadziq; Nurhidayanti. S; Muh Akmal
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.12463

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) dan perilaku konsumtif terhadap keputusan pembelian impulsif mahasiswa Universitas Bosowa. Perkembangan media sosial yang semakin pesat mendorong munculnya fenomena FoMO, yaitu perasaan takut tertinggal informasi, tren, atau pengalaman yang dimiliki orang lain. Kondisi tersebut diduga dapat memengaruhi perilaku konsumsi mahasiswa dan mendorong terjadinya pembelian impulsif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel penelitian berjumlah 50 mahasiswa Universitas Bosowa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, regresi linear berganda, uji t, uji F, dan koefisien determinasi (R²) dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fear of Missing Out (FoMO) berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian impulsif dengan nilai signifikansi 0,000. Perilaku konsumtif juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian impulsif dengan nilai signifikansi 0,001. Secara simultan, FoMO dan perilaku konsumtif berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian impulsif mahasiswa. Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya pengendalian perilaku konsumsi dan peningkatan literasi keuangan di kalangan mahasiswa agar terhindar dari pembelian impulsif yang berlebihan. Hal ini menunjukkan kecenderungan mahasiswa untuk selalu mengikuti informasi, aktivitas sosial, dan tren di media sosial. Temuan ini sesuai dengan Przybylski et al. (2013) yang menjelaskan fomo sebagai perasaan takut tertinggal pengalaman atau aktivitas orang lain. Dalam konteks media sosial, kondisi ini diperkuat oleh kemudahan akses informasi yang meningkatkan kebutuhan individu untuk terus terhubung.