Ade Riska Nur Astari
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Nahdlatul Ulama Bengkulu

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

DEVELOPMENT OF AN ENGLISH-SPEAKING MODULE FOR ISLAMIC BANKING STUDIES BASED ON THE PRESENT, PRACTICE, AND PRODUCTION (PPP) APPROACH Yuda Septian Kurniawan; Agnes Yolanda; Ade Riska Nur Astari; Mahmood Rahimi
Linguists : Journal of Linguistics and Language Teaching Vol 12, No 1 (2026): July
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ling.v12i1.10988

Abstract

This research aims to develop and test an English-speaking module for an Islamic Banking course using the Present, Practice, and Production (PPP) approach, an instructional sequence within Communicative Language Teaching. A preliminary study at three Islamic higher education institutions in Bengkulu Province found that lecturers and fifth-semester Islamic banking students lacked contextual, speaking-oriented English for Specific Purposes (ESP) teaching materials. The study employed a Research and Development design following the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation) and used a mixed-methods approach; data from interviews, observations, and focus group discussions informed the need analysis and evaluation. In contrast, quantitative data from an expert-validation rubric and a student-response questionnaire established the module’s feasibility. The needs analysis revealed a dire need for transactional, banking-relevant speaking materials. The resulting module organizes banking and financial institution topics into PPP-based learning sequences across five units. Expert validation showed that the module was highly feasible (mean score = 87.75%). During the try-out, students responded positively across all five aspects—appeal, difficulty level, activity steps, technical vocabulary support, and practicality (mean = 87.8% positive). A supplementary classroom assessment further indicated that students’ mean speaking scores increased from 74 before to 88 after using the module. The findings suggest that a PPP-based ESP module can scaffold the technical vocabulary and transactional speaking skills required by Islamic banking graduates entering the workforce, and can serve as a model for ESP material development in other professional domains.
MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS ONLINE LEARNING PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI KELAS BAWAH SEKOLAH DASAR KOTA BENGKULU (STUDI IMPLEMENTASI & PENERAPAN) M. Arif Rahman Hakim; Marisa San Della; Deni Febrini; Ade Riska Nur Astari
Insan Cendekia: Jurnal Studi Islam, Sosial dan Pendidikan Vol. 1 No. 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Yayasan Pendidikan dan Sosial Islamic Al-Markazi Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67528/ic.v1i3.91

Abstract

Penelitian ini difokuskan untuk mengetahui penerapan pembelajaran online di kelas bawah di salah satu SDIT yang ada di Kota Bengkulu pada masa pandemi covid-19 serta hambatan dalam penerapannya. Jenis penelitian ini menggunakan field research. Teknik pengumpulan datanya yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis datanya yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan teknik keabsahan datanya yaitu perpanjangan keikutsertaan peneliti dan triangulasi. Hasil dari penelitian ini yaitu:1) Penerapan media belajar berbasis pembelajaran daring di kelas bawah di SDIT tersebut pada masa pandemi covid-19 yaitu dilaksanakan dengan menggunakan aplikasi whatsapp setiap harinya, sedangkan pelaksanaan tatap muka secara virtual dilakukan seminggu sekali dengan aplikasi zoom meeting. Terkait tugas yang diberikan melalui pesan whatsapp ditujukan untuk memudahkan siswa, dengan cara tugas dikirim melalui pesan whatsApp dalam bentuk foto; 2) Hambatan yang dihadapi guru dalam penerapan media belajar berbasis pembelajaran daring di kelas bawah SDIT di Kota Bengkulu pada masa pandemi covid-19 seperti kendala pada koneksi internet yang berakibat pada pengumpulan tugas dan pada saat pelaksanaan tatap muka virtual menggunakan aplikasi zoom meeting, adanya keterbatasan kuota internet, para siswa yang merasakan kebosanan dalam belajar secara online di rumah, ketidaktepatan waktu siswa dalam pengumpulan tugas, serta pemantauan kejujuran siswa dalam mengerjakan penilaian lumayan sulit dilakukan oleh para guru. Dengan demikian, penerapan pembelajaran berbasis online di kelas bawah SDIT Kota Bengkulu pada masa pandemi covid-19 dinilai kurang berjalan efektif dalam hal efisiensi waktu dan penghematan biaya dikarenakan banyak terjadi permasalahan seperti keterbatasan sarana dan prasarana serta kurangnya pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, khususnya pada bidang tematik.
PENTINGNYA SEX EDUCATION PADA SISWA DI KELAS TINGGI SEKOLAH DASAR (PERSEPSI & PERAN GURU) M. Arif Rahman Hakim; Witha Putridianti; Deni Febrini; Ade Riska Nur Astari
Insan Cendekia: Jurnal Studi Islam, Sosial dan Pendidikan Vol. 1 No. 2 (2022): Oktober 2022
Publisher : Yayasan Pendidikan dan Sosial Islamic Al-Markazi Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67528/ic.v1i2.94

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh banyaknya pelecehan seksual dan kekerasan seksual terhadap anak di berbagai penjuru tanah air serta minimnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya pendidikan seks diberikan pada anak. Sehingga tujuan penelitian ini difokuskan untuk mengetahui persepsi guru pada siswa kelas tinggi di Sekolah Dasar (SD). Studi ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observsi, wawancara dan dokumentasi. Dari hasil penelitian dan analisis data maka dapat disimpulkan bahwa persepsi guru telah mempunyai pemahaman yang cukup relatif memadai terkait dengan pendefinisian pendidikan seks kemudian persepsi bahwa pendidikan seks bagi anak penting dan seharusnya diajarkan hanya saja terdapat perbedaan pendapat mengenai tujuan dan target yang diinginkan dari pendidikan seks tersebut dan faktor pemicu maraknya terjadi pelecehan seksual dan kekerasan seksual pada anak dan terdapat faktor penghambat guru dalam memberikan pendidikan seks pada anak.