Zulvita Amanda
Institut Teknologi Sumatera

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Floodable Park Landscape Model as Adaptive Infrastructure: Integrating Blue-Green Technology and Community Education for Urban Flood Mitigation in Bandar Lampung, Indonesia Ina Winiastuti Hutriani; Muhammad Saddam Ali; Zulvita Amanda; Susan Krisanti; Bagas Arianto; Cindy Romauly Elysabeth Manurung; Muhammad Arya Wibowo; Luthfie Adli Wistoro
Research in Education, Technology, and Multiculture Vol 5, No 3 (2026): Research in Education, Technology, and Multiculture
Publisher : Institute of Multidisciplinary Research and Community Service

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61436/rietm/v5i3.pp189-207

Abstract

Bandar Lampung City faces escalating flooding challenges driven by rapid urbanization and climate change, necessitating the adoption of nature-based solutions. This study proposes a floodable park landscape model that integrates blue-green infrastructure with community education programs, serving as an alternative to traditional structural mitigation. The research focused on Barunaria Field in the Panjang District, a site identified as a high-priority flood-prone area through previous GIS-based spatial analysis. The study utilized a modified LaGro landscape design framework across three stages: inventory and site selection, analysis and synthesis, and conceptual development. Primary data were gathered via field surveys, temporal environmental measurements of temperature, humidity, and noise, behavioral observations, and semi-structured interviews with residents, supplemented by documentation reviews. Analysis revealed several critical factors contributing to flooding, including low infiltration capacity from extensive impermeable surfaces, high runoff coefficients, and acidic soil conditions. Additionally, the site suffered from waste accumulation, noise pollution, and a lack of social or educational infrastructure. The resulting modular design integrates rain gardens, bioswales, permeable pavements, and infiltration wells with social and agricultural zones, including urban farming areas, amphitheaters, and pedestrian pathways. A distinguishing feature of this model is the incorporation of Lampung’s Tapis batik motifs into functional landscape elements. It also establishes educational zones for disaster risk reduction and urban farming, functioning as a practical site for environmental education. The proposed model facilitates recreation and food production during dry periods while functioning as a retention system during the rainy season to reduce runoff. This culturally grounded, modular approach provides a framework for sustainable flood mitigation that supports environmental education and community resilience through ecological and social benefits. Keywords: Blue-green infrastructure; Community education; Floodable park; Local wisdom; Urban agriculture.
PERANCANGAN LANSKAP KAWASAN LEMBAGA ADAT MELAYU RIAU KECAMATAN MANDAU SEBAGAI TAMAN EDUKASI BUDAYA MELAYU RIAU Rizky Aulia Nurrahmah; Eduwin Eko Franjaya; Zulvita Amanda
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 7 No. 1: June 2026
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v7i1.11078

Abstract

Provinsi Riau adalah tanah Melayu Indonesia yang dicanangkan sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Akan tetapi, nilai-nilai kemelayuan telah mengalami kelunturan apabila ditinjau dari pembangunan daerah serta kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain urgensi budaya, daerah perkotaan juga mengalami alih fungsi lahan yang menyalahi aturan. Kota Duri yang dijuluki “Kota Minyak” menjadi salah satu kawasan strategis Kecamatan Mandau yang membutuhkan perhatian khusus baik oleh pemerintah maupun masyarakat setempat terkait krisis Ruang Terbuka Hijau. Oleh sebab itu, gagasan perancangan taman edukasi pada lahan potensial di pusat Kota Duri yaitu kawasan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kecamatan Mandau bertujuan sebagai wadah bagi masyarakat sekitar dalam mendukung penguatan nilai budaya Melayu Riau dan pelestarian lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui pendekatan perancangan oleh (LaGro, 2008) dengan penyesuaian. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah survei lapangan dan kajian pustaka. Penelitian dilakukan bertahap dimulai dari persiapan awal, inventarisasi tapak, analisis dan sintesis tapak, konseptual, hingga menghasilkan Taman Selembayung yang berorientasi pada penerapan konsep budaya Melayu Riau baik yang bersifat benda maupun nonbenda dengan memperhatikan nilai ekologis. Hasil dari penelitian selanjutnya disajikan dalam bentuk rencana tapak, detail tampak dan potongan, serta ilustrasi visual digital tiga dimensi. Rancangan taman edukasi budaya Melayu Riau dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sarana edukasi budaya Melayu Riau secara rekreatif serta Ruang Terbuka Hijau yang menyediakan jasa lingkungan sekaligus ruang interaksi sosial.