Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

NURSE-LED PREDICTIVE PERFORMANCE OF INTEGRATED PEWS–TRIAGE SYSTEMS IN PEDIATRIC EMERGENCY DETECTION Citra Suraya; Aris Citra Wisuda; Rinda Suciarti
Journal Of Nursing Science Research Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Nursing Science Research
Publisher : Institut Citra Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33862/6x214241

Abstract

Delayed detection of pediatric emergencies in emergency departments may increase the risk of clinical deterioration, intensive care admission, and mortality. The integration of the Pediatric Early Warning Score (PEWS) with nursing-based triage systems has emerged as a strategic approach to improve the accuracy of identifying emergency conditions in children. This study aimed to analyze the predictive performance of Nurse-Led Integrated PEWS–Triage Systems in detecting pediatric emergency conditions. A prospective analytical observational design was conducted at RS Islam Siti Khadijah Palembang from January to March 2026. A total of 48 pediatric patients were recruited using consecutive sampling. Data were collected through direct nurse observation during triage assessment using the Integrated PEWS–Triage instrument, including respiratory, cardiovascular, neurological, and triage category parameters.  Instrument validity was tested using Pearson Product Moment correlation (r > 0.361), and reliability showed a Cronbach’s alpha of 0.87.Data were analyzed using sensitivity, specificity, positive predictive value (PPV), negative predictive value (NPV), and Receiver Operating Characteristic (ROC) analyses. The findings revealed that the Nurse-Led Integrated PEWS–Triage Systems demonstrated a sensitivity of 85.0%, specificity of 78.6%, PPV of 73.9%, NPV of 88.5%, and an Area Under the Curve (AUC) ROC value of 0.87, indicating good predictive performance in detecting pediatric clinical deterioration. However, the relatively small sample size represents a study limitation and the findings should therefore be interpreted cautiously. Nurse-Led Integrated PEWS–Triage Systems have the potential to serve as effective early detection tools to support clinical decision-making and optimize pediatric emergency nursing response.  
Edukasi Mengontrol Risiko Perilaku Kekerasan dengan Terapi Progressive Muscle Relaxation pada Penderita Resiko Perilaku Kekerasan Mareta Akhriansyah; Raden Surahmat; Amalia Amalia; Rinda Suciarti
Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK) Vol. 8 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Universitas Baiturrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36565/jak.v8i1.1054

Abstract

Violent behavior often arises as a response to severe stress, anger, or unresolved environmental pressure, especially in patients with mental disorders that have a detrimental impact on themselves, others, and the environment. One form of non-pharmacological therapy that can be taught to clients in controlling violent behavior is using Progressive Muscle Relaxation (PMR) therapy. For this reason, the author is trying to provide a solution through community service activities in the form of the application of Progressive Muscle Relaxation (PMR) therapy to reduce angry behavior in RPK patients. The activity was carried out on Tuesday, November 9, 2024 with 30 RPK patients as participants at the Mitra Mulia Husada Foundation in Palembang. The results of the activity obtained an average pretest score of 3.8 and after the training, the average score was 10.7. This condition indicates that there is an increase in patient understanding in implementing Progressive Muscle Relaxation (PMR) therapy. Therefore, it is recommended that the Mitra Mulia Husada Foundation can apply this therapy to mental disorder patients who experience angry behavior because this therapy can be done without using special equipment and is easy to understand for patients and health workers
PENGARUH TERAPI SPIRITUAL WUDHU TERHADAP TANDA DAN GEJALA PADA PASIEN RISIKO PERILAKU KEKERASAN DI YAYASAN Fathiya Fakhiratinnisa; Mareta Akhriansyah; Raden Surahmat; Hili Aulianah; Rinda Suciarti; Widya Arisandy
Jurnal 'Aisyiyah Medika Vol 11, No 1 (2026): Februari 2026 Jurnal 'Aisyiyah Medika
Publisher : stikes 'aisyiyah palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36729/jam.v11i1.1562

Abstract

Latar Belakang: Perubahan perilaku individu seperti mengancam, gaduh, tidak bisa diam, mondar-mandir, gelisah, intonasi suara keras, ekspresi tegang, bicara dengan semangat, agresif, nada suara tinggi, dan bergembira secara berlebihan adalah tanda dan gejala yang sering ditunjukkan oleh individu yang rentan terhadap perilaku kekerasan. Penanganan pasien resiko perilaku kekerasan dapat dilakukan dengan terapi spiritual wudhu yang merupakan salah satu bentuk tindakan terapi komplementer. Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi spiritual wudhu terhadap tanda dan gejala pada pasien resiko perilaku kekerasan di Yayasan Mutiara Tanjung Enim. Metode: Desain ini penelitian pre-experimental dengan pendekatan one group pretest posttest group design dengan jumlah sampel sebanyak 17 responden diambil dengan teknik  purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian dilaksanan pada tanggal 23-25 Mei 2025 di Yayasan Mutiara Tanjung Enim. Hasil: Diperoleh nilai rerata tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan responden sebelum diberikan terapi wudhu  sebesar 9,82 (sedang) dan sesudah diberikan terapi wudhu  sebesar 7,41 (ringan) dan menunjukkan ada perbedaan yang bermakna total skor tingkat tanda dan gejala sebelum dan sesudah dilakukan terapi spritual wudhu (p value = 0,000). Saran: Diharapkan terapi spiritual wudhu ini dapat diterapkan  sebagai solusi non farmakologi untuk menurunkan tanda dan gejala pada pasien resiko perilaku kekerasan. Kata Kunci: Resiko Perilaku Kekerasan, Tanda dan Gejala, Spiritual, Terapi Wudhu
Penerapan Guided Imagery terhadap Nyeri Pasien Gastritis di RS Siloam Sriwijaya Palembang: The Application of Guided Imagery for Pain Management in Gastritis Patients at Siloam Sriwijaya Hospital in Palembang Desi Natalia; Yofa Anggriani Utama; Ersita; Rinda Suciarti
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Agustus 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i8.11863

Abstract

Gastritis merupakan peradangan pada mukosa lambung yang sering menimbulkan nyeri ulu hati, rasa tidak nyaman, mual, dan gangguan aktivitas sehari-hari. Penatalaksanaan nyeri tidak hanya dilakukan secara farmakologis, tetapi juga dapat menggunakan terapi nonfarmakologis seperti guided imagery, yaitu teknik relaksasi dengan membayangkan suasana yang menenangkan untuk membantu mengurangi persepsi nyeri dan meningkatkan kenyamanan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan guided imagery terhadap penurunan nyeri pada pasien gastritis di RS Siloam Sriwijaya Palembang. Desain penelitian kuantitatif dengan metode pre-experimental one group pre-test – post-test design. Jumlah sampel sebanyak 32 orang yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian didapatkan usia 26–45 tahun (84,4%), laki-laki (53,1%), dan seluruhnya mengalami gastritis kronis lebih dari 3 bulan (100%). Tingkat nyeri pasien sebelum diberikan teknik guided imagery memiliki skor median 5,00 dengan rentang skor 4–5. Setelah intervensi, tingkat nyeri menurun dengan skor median menjadi 2,00 dan rentang skor 1–3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian teknik guided imagery terhadap penurunan tingkat nyeri pada pasien gastritis dengan nilai ρ = 0,000. Simpulan dari hasil penelitian didapatkan pengaruh pemberian teknik guided imagery terhadap penurunan tingkat nyeri pada pasien gastritis. Disarankan rumah sakit dapat membuat SOP pelaksanaan teknik guided imagery pada pasien gastritis maupun pasien dengan keluhan nyeri lainnya. ABSTRACT Gastritis is an inflammation of the gastric mucosa that often causes epigastric pain, discomfort, nausea, and disruption of daily activities. Pain management is carried out not only pharmacologically but also through non-pharmacological therapies such as guided imagery, a relaxation technique of imagining a calming atmosphere to help reduce pain perception and improve patient comfort. This study aimed to determine the effect of applying guided imagery on pain reduction in gastritis patients at Siloam Sriwijaya Hospital Palembang. This quantitative study used a pre-experimental one group pre-test – post-test design. The sample consisted of 32 respondents selected by purposive sampling. Data were collected through questionnaires and analyzed using the Wilcoxon test. The results showed respondents aged 26–45 years (84.4%), male (53.1%), and all suffering from chronic gastritis of more than 3 months (100%). The median pain score before guided imagery was 5.00 with a range of 4–5. After the intervention, the median pain score decreased to 2.00 with a range of 1–3. The results showed a significant effect of guided imagery on pain reduction in gastritis patients with a value of ρ = 0.000. It is concluded that guided imagery affects pain reduction in gastritis patients. Hospitals are advised to develop a standard operating procedure for the guided imagery technique for gastritis patients and patients with other pain complaints.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Aktivitas Fisik Dengan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Wilayah Puskesmas Sukarami Palembang Mu’amah Siti Nurhanifah; Romliyadi Romliyadi; Rinda Suciarti; Ersita Ersita
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.14080

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang masih menjadi masalah kesehatanmasyarakat karena prevalensinya yang terus meningkat serta berpotensi menimbulkan berbagaikomplikasi. Pengetahuan dan aktivitas fisik merupakan faktor yang dapat berkontribusi terhadappengendalian tekanan darah pada penderita hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuihubungan tingkat pengetahuan dan aktivitas fisik dengan tekanan darah pada pasien hipertensi diwilayah kerja Puskesmas Sukarami Palembang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengandesain deskriptif korelasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah1.078 pasien hipertensi, dengan 38 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling.Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan tentang hipertensi, GlobalPhysical Activity Questionnaire (GPAQ), dan lembar observasi tekanan darah. Analisis data meliputianalisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 46–55 tahun sebanyak 31,6%,berjenis kelamin perempuan sebanyak 65,8%, berpendidikan SMA sebanyak 39,5%, dan bekerjasebagai ibu rumah tangga sebanyak 36,8%. Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuansedang, yaitu sebanyak 16 responden (42,1%), aktivitas fisik rendah sebanyak 18 responden (47,4%),serta tekanan darah tidak terkontrol sebanyak 23 responden (60,5%). Hasil uji Chi-Squaremenunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan tekanan darah (p= 0,003), serta antara aktivitas fisik dengan tekanan darah (p = 0,001). Dapat disimpulkan bahwatingkat pengetahuan dan aktivitas fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan tekanan darah padapasien hipertensi. Edukasi kesehatan secara berkelanjutan dan peningkatan aktivitas fisik secara rutindirekomendasikan sebagai upaya untuk mendukung pengendalian tekanan darah pada penderitahipertensi.