Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Implementasi Beater Portable Mixer untuk Meningkatkan Efisiensi Produksi dan Kualitas Bakso Ikan pada Kelompok Ganomay menuju Usaha Berkelanjutan Khairi Khairi; Andriani Lubis; Mustaqimah Mustaqimah
DCS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2026): DCS: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 3 Nomor 1, Juni 2026
Publisher : LEMBAGA KAJIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (LKPPL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62671/dcs.v3i1.317

Abstract

Kelompok Ganomay merupakan usaha mikro yang bergerak dalam pengolahan bakso ikan sebagai bahan siomay upaya meningkatkan nilai tambah hasil perikanan lokal. Namun, proses produksi masih menghadapi kendala pada tahap prnggilingan/pencampuran adonan yang dilakukan secara manual, sehingga menyebabkan waktu produksi relatif lama, kapasitas terbatas, kualitas adonan kurang homogen, serta tekstur produk yang belum konsisten. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan efisiensi proses produksi, mutu bakso ikan, dan kapasitas sumber daya manusia melalui implementasi beater portable mixer sebagai teknologi tepat guna. Metode pelaksanaan meliputi identifikasi kebutuhan mitra, perancangan dan introduksi alat, pelatihan pengoperasian dan perawatan, pendampingan proses produksi, serta monitoring dan evaluasi menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Keberhasilan program dievaluasi berdasarkan perubahan waktu pencampuran, kapasitas produksi, efisiensi tenaga kerja, homogenitas adonan, kualitas tekstur bakso, serta peningkatan pengetahuan peserta melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penggunaan beater portable mixer mampu menurunkan waktu pencampuran dari 30 menit menjadi 12 menit per siklus (60%), meningkatkan kapasitas produksi dari 20 kg menjadi 40 kg per hari, serta mengurangi kebutuhan tenaga kerja pada proses pencampuran sebesar 50%. Selain itu, kualitas adonan menjadi lebih homogen sehingga menghasilkan bakso dengan tekstur yang lebih kenyal dan seragam. Nilai rata-rata pengetahuan peserta juga meningkat dari 58 menjadi 90 setelah pelatihan. Implementasi teknologi tepat guna ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas, kualitas produk, dan kompetensi anggota kelompok, sehingga mendukung pengembangan usaha bakso ikan yang lebih efisien, mandiri, dan berkelanjutan. 
Implementasi Alat Pencacah Daging  Ikan Pada Kelompok Usaha Putroe Pantai Di Gampong Lamdingin Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh Mustaqimah Mustaqimah; Khairi Suhud; T. Ferijal T. Ferijal
JURNAL PENGABDIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (JP3L) Vol 2 No 1 (2024): JURNAL PENGABDIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (JP3L): Volume 2 Nomor 1,
Publisher : LEMBAGA KAJIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (LKPPL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62671/jp3l.v2i1.52

Abstract

Banda Aceh adalah Ibukota Propinsi Aceh. Kota ini terletak di daerah pesisir ujung Barat pulau Sumatera yang sebagian besar dikelilingi laut Samudera Hindia. Gampong Lamdingin adalah salah satu desa yang dekat dengan daerah pesisir pantai Banda Aceh yang terletak di Kecamatan Kuta Alam  yang berdekatan dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terbesar di Banda Aceh yang bernama TPI Samudera Lampulo. Selain itu desa ini juga berdekatan dengan pasar Al-Mahirah yang merupakan pasar terbesar di Banda Aceh. Keterbatasan skill masyarakat dalam pengolahan ikan menjadi produk yang lebih variatif sangat dipengaruhi oleh terbatasnya alat bantu pengolahan ikan. Pembuatan abon ikan adalah salah satu solusi yang tepat untuk memberi nilai tambah ikan terutama saat TPI Samudera Lampulo banjir ikan dan harga ikan sangat murah. Jenis ikan yang paling banyak dan harganya relatif murah adalah tongkol dan  tuna. Tujuan pengabdian ini adalah untuk merancang dan mengaplikasikan alat pencacah daging ikan sebagai bahan baku abon ikan yang efektif dan efisien. Rancangan alat pencacah abon yang akan dibuat adalah tipe mekanis supaya mudah dan fleksibel digunakan oleh pengguna. Rancangan alat bantu pencacahan yang dibuat ini difokuskan pada metode kemampuan untuk mencacah daging ikan supaya ukurannya sesuai dengan yang diinginkan dan lebih seragam. Sebagai alternatif untuk mendapatkan tenaga pencacahan yang tidak melelahkan operator adalah dengan menggunakan poros yang dirangkai dengan bagian pencacah dan dihubungkan ke motor listrik. Setelah itu, langkah selanjutnya adalah membuat kemasan abon ikan yang menarik supaya mudah dipasarkan. Alat pencacah hasil rancangan menunjukkan kapasitas kerja alat sebesar 500 gram ikan per menit dan hasil cacahan juga lebih seragam dibandingkan cara manual. Potensi usaha abon ikan ini sangat menjanjikan, dapat dilihat dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa dari 30 kilogram ikan, mampu meraup untung sebesar 355 ribu rupiah. Dengan adanya program ini diharapkan banyak manfaat yang akan dirasakan oleh masyarakat, yaitu: memberi nilai tambah ikan, menambah peluang usaha baru berkat hasil produk baru yaitu abon ikan, meningkatkan kuantitas dan kualitas abon dan meminimumkan susut, menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Pelatihan Pemanfaatan Teknologi Mesin Kompos Kepada Petani di Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar Mustaqimah Mustaqimah; Diswandi Nurba; Muhammad Yasar; Ramayanty Bulan; Devianti Devianti; Fachruddin Fachruddin; Andi Yusra
JURNAL PENGABDIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (JP3L) Vol 2 No 2 (2025): JURNAL PENGABDIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (JP3L): Volume 2 Nomor 2,
Publisher : LEMBAGA KAJIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (LKPPL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62671/jp3l.v2i2.77

Abstract

Pelatihan pemanfaatan teknologi mesin kompos dan pengolahan limbah organik telah sukses diselenggarakan di Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat tani melalui pendekatan edukatif dan praktis dalam bidang pertanian berkelanjutan. Tujuan utama dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas petani dalam memproduksi pupuk organik secara mandiri dengan memanfaatkan limbah organik lokal, seperti sisa dapur, dedaunan, dan kotoran ternak. Dengan adanya pelatihan ini, para peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan teoritis mengenai prinsip dasar pengomposan, tetapi juga keterampilan teknis dalam mengoperasikan mesin pencacah kompos dan memahami tahapan pengolahan hingga menghasilkan pupuk matang yang siap digunakan. Selain mendukung peningkatan produktivitas hasil pertanian, penggunaan pupuk kompos ini turut berkontribusi terhadap efisiensi biaya produksi, karena mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang mahal dan tidak ramah lingkungan. Dari sisi lingkungan, praktik pengomposan ini menjadi solusi dalam mengelola limbah organik agar tidak mencemari tanah dan air. Meskipun demikian, pelaksanaan pelatihan ini juga mengungkap sejumlah tantangan, seperti keterbatasan alat produksi dan perlunya pendampingan lanjutan. Artikel ini membahas capaian kegiatan pelatihan, kendala adopsi teknologi di lapangan, serta potensi keberlanjutan program pelatihan di tingkat komunitas secara jangka panjang.
Perbaikan Teknologi Pengupas dan Perajang Berbasis Teknologi Tepat Guna Untuk Produksi Janeng (Dioscorea hispida Dennst) Di Desa Riting Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar Muhammad Yasar; Mustaqimah Mustaqimah; Raida Agustina; Khairi Khairi; Zulham Zulham; Eka Chandra Lina
JURNAL PENGABDIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (JP3L) Vol 2 No 2 (2025): JURNAL PENGABDIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (JP3L): Volume 2 Nomor 2,
Publisher : LEMBAGA KAJIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (LKPPL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62671/jp3l.v2i2.80

Abstract

Kegiatan Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) ini bertujuan untuk membantu masyarakat Desa Riting Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar dalam memperbaiki teknologi pengupas dan perajang janeng (Dioscorea hispida Dennst) melalui penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) agar memiliki nilai ekonomi dan produksi yang lebih tinggi dibanding konvensional. Pelaksanaan Program dilakukan melalui metode Tutorial/Penyuluhan dan Implementasi/Praktek Langsung di Lapangan. Tutorial/Penyuluhan dilakukan melalui pertemuan tatap muka antara tim pengabdi dengan mitra dan masyarakat penerima manfaat. Sedangkan Implementasi/praktek langsung di lapangan dilakukan melalui penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) yang disampaikan pada saat tatap muka dengan cara pembuatan alat TTG di lahan/bangunan yang telah disediakan oleh Pemerintah Gampong/Desa. Tahapan pelaksanaan kegiatan terdiri-dari fase persiapan, fase koordinasi, fase pelaksanaan, fase pembinaan dan pendampingan, dan fase evaluasi kegiatan. Diharapkan melalui kegiatan ini dapat membantu proses pengupas dan perajang janeng masyarakat baik dari segi kuantitas maupun kualitas hasil sehingga mewujudkan desa industri pengolahan janeng yang berkelanjutan guna mendukung program ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.