Rahmadi
Institut Agama Islam YAPTIP Chadijah Ismail Pasaman Barat

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TikTok dan Krisis Moral Remaja: Ancaman atau Peluang bagi Generasi Bangsa Iswandi Iswandi; Rahmadi; Slamet Riyadi
Jurnal Al-Karim : Jurnal Pendidikan, Psikologi dan Studi Islam Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Al Karim Edisi Maret 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam YAPTIP Chadijah Ismail Pasaman Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70820/staiyaptippasamanbarat.v11i1.602

Abstract

Perkembangan teknologi dan media sosial telah mengubah cara remaja mengakses informasi dan hiburan, salah satunya melalui platform TikTok. Popularitas TikTok di kalangan remaja menimbulkan pertanyaan mengenai pengaruhnya terhadap perilaku moral, apakah menjadi ancaman atau justru peluang bagi pembentukan karakter generasi bangsa. Latar belakang masalah ini penting mengingat remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap pengaruh lingkungan digital dan sedang membentuk identitas serta nilai moral. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk menggali secara mendalam pengalaman dan perilaku remaja dalam menggunakan TikTok. Subjek penelitian terdiri dari 50 remaja berusia 15–19 tahun yang aktif menggunakan TikTok. Teknik pengumpulan data meliputi observasi penggunaan TikTok, wawancara mendalam, dan dokumentasi interaksi remaja dengan konten di platform tersebut. Data dianalisis secara deskriptif dan kritis untuk memahami pola penggunaan, jenis konten yang dikonsumsi, serta pengaruhnya terhadap perilaku moral remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja menggunakan TikTok secara intensif, dengan durasi menonton rata-rata 2–3 jam per hari, dan lebih banyak menonton konten hiburan dan tantangan viral dibandingkan konten edukatif atau motivatif. Konsumsi konten hiburan berpotensi menimbulkan ancaman moral, seperti perilaku meniru yang tidak sesuai norma, normalisasi perilaku berisiko, dan pembentukan persepsi sosial yang menyimpang. Sebaliknya, konten edukatif dan motivatif mendorong kreativitas, disiplin belajar, dan kepedulian sosial, sehingga memiliki dampak positif terhadap perkembangan moral remaja. Penelitian ini menegaskan bahwa TikTok memiliki pengaruh dualistik, yang dapat menjadi ancaman sekaligus peluang, tergantung pada jenis konten, durasi penggunaan, dan literasi digital remaja.
Representasi Cadar di Prancis: Analisis Feminisme Barat, Kebebasan Beragama, dan Relevansinya dalam Kehidupan Modern Iswandi; Rahmadi; Slamet Riyadi
Jurnal Al-Karim : Jurnal Pendidikan, Psikologi dan Studi Islam Vol. 10 No. 1 (2025): Jurnal Al Karim Edisi Maret 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam YAPTIP Chadijah Ismail Pasaman Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas representasi cadar di Prancis dalam kaitannya dengan feminisme Barat, kebebasan beragama, dan relevansinya dalam kehidupan modern. Isu cadar di Prancis menjadi penting dikaji karena tidak hanya berkaitan dengan praktik berpakaian Muslimah, tetapi juga berhubungan dengan sekularisme negara, politik identitas, hak minoritas, media, gender, dan hak asasi manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan dan analisis isi media. Data diperoleh dari artikel ilmiah, buku, berita media internasional, dokumen hukum, serta laporan lembaga hak asasi manusia yang membahas cadar, hijab, abaya, sekularisme Prancis, feminisme Barat, dan kebebasan beragama. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara tematik dengan mengelompokkan data ke dalam beberapa tema utama, yaitu representasi cadar oleh negara, representasi media, kritik terhadap feminisme Barat, kebebasan beragama, serta relevansi cadar dalam kehidupan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cadar di Prancis tidak hanya dipandang sebagai pakaian keagamaan, tetapi juga direpresentasikan sebagai simbol sosial-politik yang dianggap bertentangan dengan konsep kewarganegaraan sekuler. Pemerintah Prancis cenderung menempatkan cadar dalam kerangka laïcité, keamanan publik, kesetaraan gender, dan integrasi sosial. Media juga berperan membentuk citra cadar sebagai isu kontroversial yang berkaitan dengan konflik, larangan, dan identitas minoritas Muslim. Dari perspektif feminisme Barat, cadar sering dipahami sebagai simbol penindasan perempuan; namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan tersebut perlu dikritisi karena mengabaikan agensi, pengalaman, dan kesadaran religius perempuan Muslim itu sendiri. Penelitian ini juga menemukan bahwa larangan terhadap cadar, hijab, dan abaya berpotensi membatasi kebebasan beragama serta menciptakan eksklusi sosial bagi Muslimah. Dengan demikian, cadar dalam kehidupan modern tidak hanya relevan sebagai isu keagamaan, tetapi juga sebagai isu demokrasi, hak asasi manusia, gender, dan multikulturalisme.