Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

THE CETAK SAWAH RAKYAT PROGRAM: EFFORTS TO INCREASE RICE PRODUCTION IN THE ARCHIPELAGIC REGION OF SALANG DISTRICT, SIMEULUE REGENCY Aswin Nasution; Wira Hadianto; Abdul Latif; Yusrizal; Izwar; Hartini; Sri Handayani; Sufriadi; Teuku Muhammad Syauqi; Agustiar
International Review of Practical Innovation, Technology and Green Energy (IRPITAGE) Vol. 6 No. 2 (2026): July-October 2026
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21677109

Abstract

The Cetak Sawah Rakyat (CSR) program conceptually executed as a paddy field optimization initiative is a government strategy aimed at increasing rice production and strengthening food security by enhancing land productivity and cropping intensity. As an archipelagic region, Simeulue Regency possesses significant potential for rice field development; however, it faces various constraints, such as limited agricultural infrastructure and cultivation technology, which restrict optimal cropping frequency. This community service activity was conducted to enhance farmers' understanding and readiness regarding the implementation of the CSR Program in Simeulue Regency. Held at the Agricultural Extension Center (BPP) office in Salang District, the activity employed a participatory empowerment approach involving farmers, farmer groups, village governments, agricultural extension officers (PPL), and the Department of Agriculture of Simeulue Regency. The methods comprised preparatory stages, socialization and counseling, problem identification discussions, and the distribution of questionnaires to assess farmer group readiness. Of the 1,162 hectares of land proposed under the prospective farmer and land scheme (CPCL), 981.36 hectares met the technical and administrative requirements, with 31 farmer groups declared eligible for the program. This community service initiative successfully enhanced public understanding regarding their rights, obligations, and the importance of sustainable rice field management. The CSR program is expected to boost rice production by increasing annual harvest frequency, strengthen institutional capacity among farmers, increase community income, and support sustainable food security in archipelagic regions.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PEMANFAATAN LAHAN TIDUR UNTUK PENGEMBANGAN KEBUN SAYUR DI DESA SEUNEBOK DALAM Hilmina Itawarnemi; Syahrul Ramazani; Khairuddin Khairuddin; Muhammad Furqa; Cut Vitriani; Syakira Kurnia Lila; Rahmi Rezki; Nia Mirosa; Rahmi Rahmi; Yusrizal
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 3 No. 5 (2025): Oktober
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v3i5.3074

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat Desa Seunebok Dalam melalui pemanfaatan lahan tidur menjadi kebun sayur produktif sebagai upaya meningkatkan kemandirian dan ketahanan pangan lokal. Metode kegiatan yang digunakan adalah Participatory Action with Training and Demonstration Plot, yang meliputi tahapan observasi, sosialisasi, pelatihan pembuatan pupuk organik cair berbahan eceng gondok, demonstrasi budidaya sayuran (bayam, sawi, dan kangkung), serta pendampingan dan monitoring keberlanjutan program. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada partisipasi masyarakat dan keterampilan dalam pengelolaan lahan tidak produktif menjadi kebun sayur bernilai ekonomi. Masyarakat juga mampu memproduksi pupuk organik cair secara mandiri dan memanfaatkannya dalam budidaya hortikultura. Selain memberikan dampak ekonomi melalui peningkatan pendapatan rumah tangga, kegiatan ini juga memperkuat solidaritas sosial, kesadaran lingkungan, serta menumbuhkan budaya gotong royong. Simpulan, bahwa pemanfaatan lahan tidur melalui pengembangan kebun sayur berbasis komunitas efektif dalam meningkatkan ketahanan pangan, kemandirian ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat desa secara berkelanjutan.   Kata Kunci: Pemberdayaan Masyarakat, Lahan Tidur, Kebun Sayur, Pupuk Organik, Ketahanan Pangan
STUDI PUSTAKA: PENGARUH EVAPOTRANSPIRASI TERHADAP MIKROKLIMAT DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN Nhyra Kamala Putri; Yusrizal; Dewi Andriani; Evi Julianita Harahap; Kasmawati
AGRO TATANEN | Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 8 No. 1 (2026): AGRO TATANEN Edisi Januari 2026 | Jurnal Ilmiah Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Faperta UNIBBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55222/b88vgr96

Abstract

Evapotranspirasi merupakan gabungan proses evaporasi dari permukaan tanah dan transpirasi dari tanaman yang berperan penting dalam pembentukan mikroklimat di sekitar vegetasi. Mikroklimat ini memengaruhi kelembaban, suhu, dan durasi basah daun, yang menjadi faktor utama dalam dinamika organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti hama dan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara evapotranspirasi dan mikroklimat serta implikasinya terhadap pengendalian OPT. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menelaah berbagai jurnal dan sumber ilmiah yang relevan dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengelolaan evapotranspirasi melalui teknik irigasi presisi, pemilihan varietas tanaman, pengaturan jarak dan waktu tanam, pengaturan naungan, rekayasa ekologi dan refugia, serta pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan sensor mikroklimat dapat menekan kelembaban berlebih yang mendukung perkembangan OPT. Pendekatan ini tidak hanya relevan dalam konteks pengendalian OPT, tetapi juga mendukung efisiensi penggunaan air dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi pertanian berkelanjutan yang berbasis ekologi dan teknologi, khususnya dalam menghadapi tantangan produksi pangan di masa depan. Sebagai rekomendasi, integrasi strategi evapotranspirasi dalam sistem Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) serta pemanfaatan data spasial dan kecerdasan buatan (AI) perlu dikembangkan secara bertahap, dimulai dari skala kecil, dengan dukungan kolaboratif antara peneliti, penyuluh, dan petani