Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pelatihan Penanganan Sampah Organik Pasar Induk Kota Meulaboh Menjadi Maggot Sebagai Sumber Pakan Ternak Unggas Mudastsir; Agam Rizki; Sri Jeksi; Icha Tridayana; Mutawalli; Nailis Salsabila; Nhyra Kamala Putri; Rizki Ambia Rachman; Rizki Erlangga Zanur
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 12 : Januari (2025): AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Organic waste is a major component produced at Pasar Induk Kota Meulaboh, which, if not properly managed, can lead to various environmental problems such as soil, water, and air pollution. One innovative solution for managing organic waste is by utilizing Black Soldier Fly (BSF) larvae, also known as maggots. Maggots have great potential in breaking down organic waste into high-value poultry feed. This community service program aims to enhance the understanding and skills of the community, students, and poultry farmers in processing organic waste into maggots through training that covers cultivation techniques, maintenance, and the economic and environmental benefits of maggots. The results of this activity show that utilizing maggots can reduce organic waste volume by up to 60%, while providing a cheaper and more sustainable alternative for poultry feed. Moreover, maggot utilization aligns with the zero waste concept and has the potential to improve local community welfare. However, the adoption of this technology requires continuous support through outreach, facility provision, and collaboration between academics, the government, and the farming community. Organic waste management based on maggots is expected to serve as an effective, environmentally friendly, and sustainable solution for Pasar Induk Kota Meulaboh.
Utilization of Aquaculture Effluent as an Organic Fertilizer to Improve Soil Fertility and Cassava (Manihot esculenta Crantz) Yield Wira Hadianto; Nana Ariska; Taufiq; Maulidil Fajri; Nhyra Kamala Putri; Abdul Latif
JURNAL AGRONOMI TANAMAN TROPIKA (JUATIKA) Vol. 8 No. 2 (2026): Jurnal Agronomi Tanaman Tropika (JUATIKA) Vol. 8 No. 2 Mei 2026
Publisher : LPPM UNIVERSITAS ISLAM KUANTAN SINGINGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36378/juatika.v8i2.5330

Abstract

This study evaluated the potential of aquaculture effluent as a liquid organic fertilizer to enhance soil fertility and cassava (Manihot esculenta Crantz) productivity. Conducted in Blang Berandang Village, West Aceh Regency, the experiment employed a Randomized Complete Block Design (RCBD) with six treatments: a control (0% effluent), inorganic fertilizer, and four effluent concentrations (25%, 50%, 75%, and 100%), each replicated four times. Measured variables included soil chemical properties (pH, organic carbon, total nitrogen, available phosphorus, and exchangeable potassium), plant growth parameters, and tuber yield. Results indicated that the aquaculture effluent was rich in nutrients, containing 35.2 mg L⁻¹ nitrogen, 12.6 mg L⁻¹ P₂O₅, and 22.4 mg L⁻¹ K₂O, with a C/N ratio of 3.6. Effluent application significantly improved soil physicochemical properties, raising soil pH from 5.5 to 6.9 and organic carbon from 1.25% to 2.45%. Furthermore, total nitrogen, available phosphorus, and exchangeable potassium levels increased in proportion to effluent concentration. The 75% effluent treatment yielded the optimal results, producing a plant height of 135.4 cm and a tuber weight of 4.12 kg per plant—a 90% increase compared to the control. These findings demonstrate that aquaculture effluent significantly enhances soil fertility and cassava productivity relative to untreated controls. Consequently, its utilization offers a sustainable, eco-friendly strategy for integrated aquaculture–agriculture systems, contributing to increased crop production while mitigating environmental impacts associated with aquaculture waste.
Pengaruh Paparan Pestisida Sintetik terhadap Kesehatan Hewan Ternak Dalam Konteks Pertanian Berkelanjutan dan PHT Nhyra Kamala Putri; Mudastsir Mudastsir; Muhammad Farhan Putra Emil; Agam Rizki
Maduranch : Jurnal Ilmu Peternakan dan Ilmu Agribisnis Vol. 11 No. 1 (2026): Maduranch : Jurnal Ilmu Peternakan dan Ilmu Agribisnis
Publisher : Universitas Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53712/maduranch.v11i1.2942

Abstract

Penggunaan pestisida sintetik dalam sistem pertanian intensif menimbulkan risiko terhadap kesehatan hewan ternak yang berada di sekitar lahan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jalur paparan pestisida sintetik terhadap hewan ternak, dampaknya terhadap kesehatan dan produktivitas, serta mengevaluasi relevansi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dalam mendukung sistem pertanian berkelanjutan. Kajian dilakukan melalui studi literatur dengan pendekatan tematik terhadap artikel ilmiah terindeks dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil menunjukkan bahwa lebih dari sepuluh jenis residu pestisida, termasuk glyphosate, chlorpyrifos, cypermethrin, imidacloprid, atrazine, malathion, DDT, dan lindane, terdeteksi pada sampel ternak dan lingkungan kandang. Residu tersebut berasal dari enam golongan pestisida yaitu organofosfat, herbisida, piretroid, organoklorin, neonicotinoid, serta campuran multi-residu. Paparan terjadi melalui enam jalur utama yaitu ingestasi pakan, ingestasi air, inhalasi, kontak dermal, transmisi biologis, dan kondisi lingkungan kandang, dengan dampak berupa gangguan fisiologis pada sistem saraf, hati, dan ginjal, gangguan hematologi, respirasi, reproduksi, perkembangan embrio, serta penurunan produktivitas susu, daging, dan telur. Akumulasi residu dalam jaringan tubuh ternak akibat paparan pestisida menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, keamanan pangan, dan nilai ekonomi produk peternakan. PHT dipandang sebagai pendekatan yang relevan untuk menekan paparan tersebut melalui pengurangan frekuensi aplikasi dan penggunaan pestisida secara selektif. Oleh karena itu, diperlukan intervensi multisektor yang mencakup pengawasan, edukasi, dan dukungan kebijakan untuk memperkuat praktik pertanian-peternakan yang sehat dan berkelanjutan.
STUDI PUSTAKA: PENGARUH EVAPOTRANSPIRASI TERHADAP MIKROKLIMAT DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN Nhyra Kamala Putri; Yusrizal; Dewi Andriani; Evi Julianita Harahap; Kasmawati
AGRO TATANEN | Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 8 No. 1 (2026): AGRO TATANEN Edisi Januari 2026 | Jurnal Ilmiah Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Faperta UNIBBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55222/b88vgr96

Abstract

Evapotranspirasi merupakan gabungan proses evaporasi dari permukaan tanah dan transpirasi dari tanaman yang berperan penting dalam pembentukan mikroklimat di sekitar vegetasi. Mikroklimat ini memengaruhi kelembaban, suhu, dan durasi basah daun, yang menjadi faktor utama dalam dinamika organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti hama dan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara evapotranspirasi dan mikroklimat serta implikasinya terhadap pengendalian OPT. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menelaah berbagai jurnal dan sumber ilmiah yang relevan dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengelolaan evapotranspirasi melalui teknik irigasi presisi, pemilihan varietas tanaman, pengaturan jarak dan waktu tanam, pengaturan naungan, rekayasa ekologi dan refugia, serta pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan sensor mikroklimat dapat menekan kelembaban berlebih yang mendukung perkembangan OPT. Pendekatan ini tidak hanya relevan dalam konteks pengendalian OPT, tetapi juga mendukung efisiensi penggunaan air dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi pertanian berkelanjutan yang berbasis ekologi dan teknologi, khususnya dalam menghadapi tantangan produksi pangan di masa depan. Sebagai rekomendasi, integrasi strategi evapotranspirasi dalam sistem Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) serta pemanfaatan data spasial dan kecerdasan buatan (AI) perlu dikembangkan secara bertahap, dimulai dari skala kecil, dengan dukungan kolaboratif antara peneliti, penyuluh, dan petani