Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pembaharuan Politik Islam di Indonesia: Relevansi Pemikiran Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid Aprilia Musawamah; Nur Amaliyah; Sholahuddin Al Ayubi; Andi Rosa
Staatsrecht: Jurnal Hukum Kenegaraan dan Politik Islam Vol. 5 No. 1 (2025): Staatsrecht Jurnal Hukum Kenegaraan dan Politik Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/3zb3z667

Abstract

Studi ini mengkaji pembaharuan politik Islam di Indonesia dengan fokus pada relevansi pemikiran Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain historis-komparatif, penelitian ini menganalisis konvergensi dan divergensi pemikiran kedua tokoh intelektual Muslim yang berpengaruh tersebut dalam konteks sosial-politik Indonesia dari masa Orde Baru hingga era Reformasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun berangkat dari latar belakang intelektual yang berbeda Nurcholish Madjid dengan tradisi modernisme dan Abdurrahman Wahid dengan tradisi pesantren kedua tokoh ini mencapai titik temu paradigmatik dalam beberapa aspek fundamental, yakni: desakralisasi politik Islam, reinterpretasi tradisi Islam untuk modernitas, kompatibilitas Islam dengan demokrasi dan hak asasi manusia, serta pluralisme sebagai nilai esensial. Perbedaan signifikan terdapat dalam pendekatan dan strategi perubahan: Madjid lebih tekstual-doktrinal dengan preferensi pada pembaharuan kultural, sementara Wahid lebih kontekstual-praksis dengan keterlibatan langsung dalam aktivisme politik. Kontribusi utama penelitian ini adalah mengidentifikasi bagaimana dialektika pemikiran kedua tokoh telah membentuk diskursus politik Islam moderat di Indonesia, serta menawarkan kerangka konseptual untuk menghadapi tantangan kontemporer seperti kebangkitan konservatisme, populisme berbasis identitas keagamaan, dan pengaruh Islam transnasional. Studi ini menyimpulkan bahwa sintesis kreatif antara elaborasi doktrinal Madjid dan kepekaan kontekstual Wahid dapat menghasilkan kerangka pemikiran yang lebih komprehensif untuk mengembangkan politik Islam yang demokratis, pluralis, dan berkeadilan di Indonesia kontemporer.
Revisiting Hadith Through Philology: Ignaz Goldziher's Skeptical Arguments and the Reactualization of Hadith Criticism Methodology Nur Amaliyah; Sholahuddin Al Ayubi; Muhamad Afif
AJIS: Academic Journal of Islamic Studies Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/ajis.v11i1.16902

Abstract

This study addresses the methodological gap between Western philological skepticism exemplified by Ignaz Goldziher’s critique of hadith authenticity and the classical Islamic critical apparatus of jarh wa ta’dil. Despite decades of scholarly debate, no integrative methodological framework has been explicitly operationalized to bridge these two traditions. Design/Methodology/Approach: Using a qualitative-library method, this research systematically selects and analyzes primary sources (Goldziher’s Muhammadan Studies; al-A’zami, Fazlur Rahman, and Ali Mustafa Yakub’s counter-arguments) alongside recent Scopus/WoS-indexed secondary literature. Data analysis employs a philological-critical and hermeneutical approach, validated through source triangulation. Findings: Three specific findings emerge: (1) Goldziher’s philological method raises legitimate socio-historical questions but systematically underestimates the rigor of isnad verification; (2) Muslim scholarly responses evolved from apologetic refutation to methodologically enriched engagement; (3) an Integrative Hadith Criticism Framework (IHCF) combining philological matan analysis with classical sanad verification is both theoretically viable and academically productive. Originality/Value: The novelty lies in proposing an operationalized Integrative Hadith Criticism Framework (IHCF) that transcends the apologetic-versus-skeptical binary and provides a concrete cross-disciplinary methodology applicable to contemporary digital humanities contexts in hadith studies. The implication is that the methodology of hadith criticism can be proactively renewed remaining critically rigorous while preserving the normative authority of hadith as a living source of Islamic law and praxis.