Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Makna Simbol Rangda Sebagai Bentuk Kedigdayaan Perempuan Bali Arya Pageh Wibawa; I Gede Agus Indram Bayu Artha; I Made Hendra Mahajaya Pramayasa
PANGGUNG Vol 36 No 1 (2026): Echoes of Archipelago Mythos: Interweaving Tradition, Symbolism, and Narrative i
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v36i1.3683

Abstract

This study examines the symbolism of Rangda in Balinese culture, focusing on the representation of female power reflected in texts and visual cultural expressions. Rangda, often depicted as an evil figure in Calonarang performances, reflects the duality of transformative feminine power, encompassing both destructive and protective aspects. As a manifestation of the Goddess Durga, Rangda represents feminine energy maintaining the balance of the universe, creating harmony between good and evil through the concept of Rwa Bhineda. This study employs a qualitative, descriptive-analytical approach to explore the symbolic meaning of Rangda across mythological and contemporary contexts. The results show that Rangda is not merely a symbol of evil power but a sacred entity that plays a vital role in maintaining Bali’s cosmic order. The representation of Rangda in visual art and religious rituals enriches the understanding of the role of femininity in maintaining the social and spiritual balance of Balinese society.
Pengabdian Masyarakat di Desa Gadungan, Tabanan, Bali: Pembuatan Film Dokumenter Perjuangan Rakyat dengan Judul “Baliwerti – Bara di Tanah Gadungan” I Made Denny Chrisna Putra; Gede Pasek Putra Adnyana Yasa; Arya Pageh Wibawa; Epriliana Fitri Ayu Pamungkas
Abdi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): Abdi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/awjpm.v5i1.5943

Abstract

Desa Gadungan di Kabupaten Tabanan, Bali, memiliki nilai historis yang kuat terkait perjuangan masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan. Namun, pengetahuan sejarah tersebut sebagian besar masih bersifat lisan dan berpotensi hilang akibat minimnya dokumentasi serta terbatasnya transmisi antargenerasi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan mentransmisikan kembali memori kolektif masyarakat melalui produksi film dokumenter berjudul “Baliwerti: Bara di Tanah Gadungan”. Metode yang digunakan meliputi tahapan pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi, yang dipadukan dengan pendekatan partisipatif dan etnografi visual. Tahap produksi dilakukan dengan metode perekaman memori melalui keterlibatan langsung narasumber di lokasi historis. Hasil menunjukkan bahwa film dokumenter berperan tidak hanya sebagai media dokumentasi, tetapi juga sebagai sarana rekonstruksi memori sosial, jembatan antar generasi, dan penguatan identitas budaya masyarakat. Selain itu, film ini memiliki potensi sebagai media edukasi dan promosi desa berbasis sejarah. Secara akademik, kegiatan ini berkontribusi pada pengembangan film dokumenter sebagai metode pengabdian berbasis budaya dan partisipasi masyarakat.