Diana Dinali
Universitas Tarumanagara

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Skrining dan Edukasi Depresi, Kecemasan dan Stres (DASS-42) pada Masyarakat Kota Bambu: Screening and Education on Depression, Anxiety, and Stress (DASS-42) in the Bambu City Community Anastasia Ratnawati Biromo; Alexander Halim Santoso; Daniel Goh; Gracienne; Diana Dinali; Disya Gwyneth Aziel
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.115

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan mental merupakan bagian penting dalam kesejahteraan individu, namun kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini gangguan mental masih rendah dan stigma terhadap gangguan mental tinggi. Kota Bambu sebagai wilayah perkotaan memiliki risiko paparan terhadap tantangan lingkungan, sosial, dan ekonomi yang berpotensi meningkatkan risiko gangguan mental. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan melakukan penapisan/skrining depresi, kecemasan,dan stres menggunakan instrumen Depression Anxiety Stress Scale-42 (DASS-42) dan edukasi. Kegiatan dilaksanakan pada Juni 2025 dengan melibatkan 168 peserta dari berbagai kelompok usia. Metode yang digunakan berupa pendekatan Plan-Do-Check-Act (PDCA) yang mencakup perencanaan, edukasi interaktif, skrining, analisis hasil, hingga tindak lanjut. Hasil skrining menunjukkan masih ada 16,1% peserta dengan kecemasan sedang dan 3% peserta dengan kecemasan sangat berat. Proporsi kecil depresi dan stres juga ditemukan pada berbagai tingkat keparahan. Kesimpulan: Dari hasil ini menggambarkan bahwa kecemasan masih ditemukan pada populasi perkotaan. Depresi dan stres juga tetap harus menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi kualitas hidup dan produktivitas masyarakat. Edukasi terbukti dapat meningkatkan pemahaman masyarakat, sementara DASS-42 efektif sebagai instrumen deteksi dini. Implikasi kegiatan ini adalah perlunya skrining rutin, edukasi berkelanjutan, dan potensi integrasi dengan program Puskesmas.
Skrining Kesehatan Mental Berbasis DASS-Y sebagai Upaya Promotif–Preventif pada Anak Sekolah di Jakarta Barat: Mental Health Screening Using DASS-Y as a Promotive–Preventive Effort among School-Aged Children in West Jakarta Naomi Esthernita Fauzia Dewanto; Alexander Halim Santoso; Bryan Anna Wijaya; Diana Dinali; Disya Gwyneth Aziel
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.125

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan mental remaja merupakan isu penting kesehatan masyarakat yang membutuhkan deteksi dini dan intervensi preventif. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining gejala depresi, ansietas, dan stres pada siswa sekolah menggunakan Depression Anxiety Stress Scale–Youth (DASS-Y) serta meningkatkan literasi kesehatan mental di lingkungan pendidikan. Kegiatan dilaksanakan di Sekolah Mutiara Bangsa 3, Jakarta Barat, melibatkan 306 siswa usia 11–18 tahun. Metode: pendekatan Plan–Do–Check–Action (PDCA). Tahap plan meliputi koordinasi lintas sektor, sosialisasi, dan persiapan instrumen. Tahap do mencakup pelaksanaan skrining DASS-Y dan edukasi mengenai regulasi emosi, manajemen stres, serta gaya hidup mental sehat. Tahap check dilakukan melalui skoring dan kategorisasi hasil, sementara tahap action berupa konseling singkat dan rekomendasi rujukan bagi partisipan dengan skor sedang hingga berat. Hasil menunjukkan tingginya proporsi gejala emosional pada peserta. Sebanyak 73,5% siswa mengalami stres ringan hingga sangat berat; 100% siswa memiliki tingkat ansietas mulai dari ringan hingga sangat berat; dan seluruh siswa menunjukkan gejala depresi dengan derajat bervariasi. Kesimpulan: Temuan ini menegaskan urgensi skrining berkala di lingkungan sekolah sebagai upaya promotif–preventif. Program ini juga meningkatkan pemahaman siswa dan guru mengenai kesehatan mental. DASS-Y terbukti praktis, mudah diterapkan, dan relevan sebagai alat skrining berbasis sekolah. Implementasi berkelanjutan serta kolaborasi dengan fasilitas kesehatan diharapkan dapat memperkuat dukungan psikososial remaja dan mencegah konsekuensi jangka panjang gangguan kesehatan mental.
Skala Dermatoporosis dan Skala Braden sebagai Prediktor Kualitas Hidup pada Lansia Steve Geraldo Bustam; Diana Dinali; Muhammad Fikri Dzakwan; Alexander Halim Santoso
Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Kualitas hidup lansia merupakan indikator penting dalam menilai kesejahteraan populasi usia lanjut dan dipengaruhi oleh berbagai perubahan fisik serta fungsional akibat proses penuaan. Dermatoporosis dan risiko ulkus dekubitus merupakan permasalahan klinis yang berpotensi menurunkan kualitas hidup lansia. Dermatoporosis adalah sindrom kerapuhan kulit kronis yang dapat dinilai menggunakan skala dermatoporosis, sedangkan risiko ulkus dekubitus dapat dinilai dengan skala BRADEN. Keduanya berpotensi menjadi parameter klinis sederhana yang berkaitan dengan kualitas hidup lansia. Tujuan: Menganalisis hubungan dermatoporosis dan ulkus dekubitus terhadap kualitas hidup lansia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang pada 82 lansia di Panti Werdha Bina Bhakti yang memiliki data lengkap mengenai dermatoporosis, skala BRADEN, kualitas hidup (WHOQOL), usia, dan jenis kelamin. Analisis dilakukan secara deskriptif, bivariat, dan regresi linear berganda dengan skor WHOQOL sebagai variabel dependen. Hasil: Model regresi yang melibatkan dermatoporosis, skala BRADEN, usia, dan jenis kelamin secara simultan berhubungan bermakna dengan kualitas hidup lansia (R² = 0,594; adjusted R² = 0,573; p < 0,001). Secara parsial, skala dermatoporosis berhubungan negatif bermakna dengan kualitas hidup (B = -0,928; β = -0,250; p = 0,007), sedangkan skala BRADEN berhubungan positif bermakna dan menjadi prediktor terkuat (B = 2,634; β = 0,610; p < 0,001). Usia dan jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan bermakna. Simpulan: Semakin berat dermatoporosis, semakin rendah kualitas hidup lansia, sedangkan semakin baik skor BRADEN, semakin baik kualitas hidup lansia. Kedua variabel ini berpotensi digunakan sebagai penanda klinis sederhana untuk mengidentifikasi lansia dengan kualitas hidup rendah.