Dini Putri Ratna Meritasari
Universitas Brawijaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ALIH MEDIA SUMBER BELAJAR SEJARAH MORFOLOGI CANDI PENATARAN SEBAGAI INSPIRASI KARYA WASTRA: INTEGRASI MIXED MEDIA DAN TEKNIK EKSPERIMENTAL Adinda Dwi Larasati; Dini Putri Ratna Meritasari; Andhika Yudha Pratama; Fadhila Putri Sakina; Primasa Minerva Nagari; Silvi Elda Indriana
Dinamika Sosial: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Vol. 4 No. 4 (2025): Dinamika Sosial: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/dsjpips.v4i4.19540

Abstract

This study aims to develop a textile art creation (wastra) inspired by the morphology of Penataran Temple, which embodies the evolution of culture over time through modifications of its structure and architectural framework. The creation of this textile artwork applies a mixed-media and experimental technique approach, resulting in a creative and high-value piece that allows greater freedom of expression while still adhering to the principles of traditional textile art. The research method used is qualitative with a practice-based research approach, focusing on direct artistic practice. The findings of this study show that Penataran Temple demonstrates that a temple is not merely an architectural structure with visual appeal, but also a form of civilizational development aimed at passing down culture through symbols, stories, values, and art embedded within it. The promotion of culture through textile art combines local potential with the development of local identity, serving as a strategic approach that can positively influence the success of regional potential development — in this case, in Penataran Village, Blitar Regency, where Penataran Temple is located. Therefore, preserving the architecture of Penataran Temple as a historical heritage is a shared responsibility, as the preservation of historical artifacts represents one of the nation's most valuable assets. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengembangkan karya seni wastra yang terinspirasi dari morfologi Candi Penataran yang menjadi perwujudan dari perkembangan budaya dari masa ke masa dengan modifikasi pada struktur dan kerangka bangunannya. Pembuatan Karya Wastra ini menggunakan pendekatan dari penggabungan mixed media dan teknik eksperimental yang menghasilkan karya yang kreatif dan bernilai tinggi bernilai tinggi dengan lebih bebas berekspresi dalam pembuatannya namun tetap berpijak pada kaidah dalam seni wastra tradisional. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan practice based research, berfokus pada praktik seni secara langsung. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa candi penataran bisa membuktikan bahwa sebuah candi tidak hanya membangun sebuah arsitektur ruang dengan visualisasi semata namun sebagai pembangunan peradaban yang memiliki tujuan untuk mewariskan budaya melalui simbol, cerita, nilai, dan seni yang ada di dalamnya. Promosi kebudayaan melalui karya wastra menggabungkan antara potensi lokal dengan pengembangan identitas lokal yang merupakan salah satu pendekatan strategis dan dapat digunakan untuk memberikan pengaruh terhadap keberhasilan pengembangan potensi di suatu wilayah salah satunya di Desa Penataran Kabupaten Blitar yang terdapat Candi Penataran. Hal tersebut menjadi kewajiban bersama untuk melestarikan arsitektur Candi Penataran sebagai warisan sejarah karena pelestarian artefak sejarah menjadi salah satu aset bangsa yang tak ternilai harganya
PENDIDIKAN HUKUM DI INDONESIA: URGENSI, PROYEKSI DAN INTEGRASI Raisha Hafandi; Adinda Dwi Larasati; Andhika Yudha Pratama; Lusiana Margareth Tijow; Dini Putri Ratna Meritasari; Renita Dwi Setiyaningsih; Ade Rio Pratama
Dinamika Sosial: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Vol. 4 No. 4 (2025): Dinamika Sosial: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/dsjpips.v4i4.19542

Abstract

This study aims to investigate three main aspects of the reform: (1) the need to renew legal education in Indonesia to remain relevant and efficient, (2) the framework of a flexible and responsive model of legal education in addressing contemporary challenges, and (3) approaches to functionally link legal education with the complex social, legal, and economic conditions in Indonesia. The study employs a qualitative approach that integrates juridical-normative, socio-legal, and comparative methods. This approach is chosen because the theme of legal education is not only connected to regulatory aspects but also closely related to social dynamics, historical contexts, and the need for integration within a global framework. The findings reveal that traditional legal pedagogy, dominated by doctrinal formalism and a lack of practical experience, is inadequate in addressing the complexities of modern legal practice. The call for reform arises from the growing gap between the competencies of law graduates and the actual demands of the legal profession, judicial system, and society at large. ABSTRAK Studi ini bertujuan untuk menyelidiki tiga aspek utama dari reformasi tersebut: (1) kebutuhan untuk memperbaharui pendidikan hukum di Indonesia agar tetap relevan dan efisien, (2) gambaran model pendidikan hukum yang fleksibel dan responsif terhadap tantangan kontemporer, dan (3) pendekatan untuk menghubungkan pendidikan hukum secara fungsional dengan kondisi sosial, hukum, dan ekonomi yang kompleks di Indonesia. Studi ini mengambil pendekatan kualitatif dengan menggabungkan yuridis-normatif, socio-legal, dan komparatif. Metode ini dipilih karena tema pendidikan hukum tidak hanya terhubung dengan aspek regulasi, tetapi juga sangat terkait dengan dinamika sosial, sejarah, dan kebutuhan integrasi dalam konteks global. Hasilnya menunjukkan bahwa pedagogi hukum tradisional yang dikuasai oleh formalisme doktrinal dan minimnya pengalaman praktis ternyata tidak memadai untuk menghadapi kompleksitas praktik hukum modern. Desakan untuk reformasi muncul dari perbedaan yang semakin besar antara kemampuan lulusan hukum dan kebutuhan aktual dalam profesi hukum, sistem peradilan, serta masyarakat secara umum.